
CIREBON | duta.co – Menjelang Muktamar ke-35 NU, topik arah kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) ke depan ramai diperbincagkan publik, sosok KH Miftachul Akhyar dinilai masih sangat layak dan pilihan utama untuk melanjutkan amanah sebagai Rais ‘Aam Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Tokoh NU, KH Imam Jazuli, Lc., MA mengatakan KH Miftachul Akhyar yang saat ini masih menjabat sebagai Rais Aam PBNU periode 2021–2026 merupakan figur yang paling layak untuk melanjutkan kepemimpinan tersebut. Menurutnya, jabatan Rais ‘Aam bukan sekadar posisi struktural, melainkan jangkar spiritual dan penentu arah strategis jam’iyah NU.
“Rais ‘Aam itu bukan jabatan administratif. Ia adalah penjaga marwah NU, pemimpin spiritual tertinggi, sekaligus penentu arah kebijakan strategis jam’iyah. Dalam konteks ini, KH Miftachul Akhyar telah membuktikan kelayakan dan keteguhan kepemimpinannya,” ujar KH Imam Jazuli.
Alim dan Faqih, Fondasi Utama Rais ‘Aam
KH Imam Jazuli menegaskan, syarat utama Rais ‘Aam adalah alim dan faqih, yakni memiliki kedalaman ilmu serta kepakaran dalam fikih. KH Miftachul Akhyar, yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya, dinilai memiliki sanad keilmuan yang kuat dan diakui para ulama.
“Kiai Miftah adalah sosok aliman dan faqihan. Ketajaman fikih beliau tidak hanya normatif, tetapi juga kontekstual. Ia mampu menerapkan fiqh al-waqi’, sehingga keputusan-keputusan PBNU tetap berakar pada tradisi pesantren sekaligus relevan dengan tantangan zaman,” jelasnya.
Kepemimpinan Zuhud dan Keteladanan
Selain keilmuan, KH Imam Jazuli menyoroti sikap zuhud KH Miftachul Akhyar yang tercermin dalam gaya hidup sederhana dan jauh dari ambisi duniawi, meskipun menduduki posisi strategis baik di NU maupun di Majelis Ulama Indonesia (MUI).
“Zuhud itu bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi tidak diperbudak oleh jabatan. Kiai Miftah menunjukkan kepemimpinan yang teduh, bersahaja, dan mengayomi warga Nahdliyin hingga tingkat akar rumput,” katanya.
Tegas, Disiplin, dan Paham Organisasi
Salah satu keunggulan utama KH Miftachul Akhyar, lanjut KH Imam Jazuli, adalah ketegasan dan kedisiplinannya dalam menegakkan aturan organisasi. Pemahaman mendalam terhadap AD/ART NU menjadi pijakan utama dalam setiap pengambilan keputusan.
“Kiai Miftah sangat tegas soal disiplin organisasi. Beliau selalu menekankan bahwa PBNU harus berjalan sesuai mekanisme dan aturan, bukan atas kehendak individu. Ketegasan ini penting untuk menjaga muruah NU,” tegasnya.
Ia menambahkan, sikap tegas tersebut telah ditunjukkan sejak KH Miftachul Akhyar memimpin NU di berbagai level, mulai dari Rais Syuriyah PCNU Surabaya, PWNU Jawa Timur, hingga Rais ‘Aam PBNU.
“Beliau sering mengingatkan bahwa mengurus NU itu bentuk takdzim kepada para muassis. Karena itu, disiplin organisasi adalah bagian dari etika ber-NU, maka pantas Kiai Miftah dijuluki penjaga utama syariat organisasi ulama ini,” ujar KH Imam Jazuli.
Amanah dan Restu Kiai Sepuh
Aspek penting lain yang disorot adalah amanah dan restu dari para kiai sepuh, khususnya almaghfurlah KH Maimoen Zubair (Mbah Moen). KH Imam Jazuli menyebut, restu tersebut merupakan penanda kuat sanad kepemimpinan NU.
“Restu Mbah Moen kepada Kiai Miftah bukan hal sepele. Itu adalah bentuk pengakuan kapasitas keilmuan, integritas, dan loyalitas terhadap khittah NU. Banyak kiai sepuh meyakini bahwa terpilihnya Kiai Miftah adalah terkabulnya doa Mbah Moen,” ungkapnya.
Totalitas Berkhidmah untuk Jam’iyah
Menurut KH Imam Jazuli, KH Miftachul Akhyar juga dikenal sebagai sosok suyukhan dan rosikhan, yakni total dan mendalam dalam mengurus keumatan serta kokoh dalam prinsip beragama.
“Beliau selalu menegaskan bahwa NU bukan tempat mencari kehidupan, tetapi wadah untuk menata kehidupan demi kemaslahatan umat, bangsa, dan agama. Sikap adil dan keteguhan beliau dalam mengambil keputusan menunjukkan kualitas kepemimpinan yang matang,” ujarnya.
Dengan perpaduan keilmuan, kesederhanaan, ketegasan organisasi, serta amanah para kiai sepuh, KH Imam Jazuli menilai melanjutkan kepemimpinan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais ‘Aam PBNU merupakan langkah strategis.
“Melanjutkan kepemimpinan KH Miftachul Akhyar adalah ikhtiar menjaga stabilitas, disiplin, dan marwah Nahdlatul Ulama di tengah tantangan zaman dan perjalanan abad kedua NU. Beliau adalah nakhoda kokoh PBNU yang menyatukan sanad keilmuan, disiplin tinggi, dan amanah para kiai sepuh,” pungkasnya. (*)






































