LAMONGAN | duta.co – Sejumlah titik di kawasan Kecamatan Paciran dan wilayah sekitarnya terendam banjir. Akibat hujan yang melanda dengan intensitas yang sangat tinggi pada, Senin (06/12) sore.

Banjir tersebut terjadi di beberapa ruas wilayah dengan ketinggian air yang masuk ke permukiman penduduk diperkirakan mencapai hingga setengah meteran atau setara dengan lutut orang dewasa.

Kepala Desa Kranji Husnul Wafiq mengatakan, banjir yang melanda kawasan pantura tersebut berada di kawasan wisata air hangat Brumbung Desa Kranji, Perumahan Graha Indah Paciran, dan Desa Drajat.

“Hujan sangat deras selama kurang lebih 1 hingga 2 jam. Sehingga air kiriman yang berasal dari kawasan selatan desa dan Hutan Mertai Solokuro mengalir ke kawasan Brumbung,” kata Husnul Wafiq, Selasa (07/12).

Ia mengungkapkan, banjir yang terjadi itu akibat air kiriman dari hutan Solokuro. Mengalir ke Brumbung yang memiliki titik lebih rendah, lalu mengalir ke sepanjang aliran Kali Suwuk yang kemudian ke laut.

“Kemungkinan besarnya adalah, karena kawasan hutan yang berada di Solokuro saat ini sudah beralih fungsi dan dijadikan sebagai lahan kontrak,” ucap kades.

Sehingga, kata dia, resapan airnya pun juga kurang maksimal. Seiring dengan itu kondisi air laut juga mengalami pasang,” terangnya.

Senada juga diungkapkan oleh Sekretaris Desa Drajat, Hilmi Adib. Menurutnya, air yang menggenangi kawasan ini memiliki ketinggian yang cukup beragam. Mulai dari 30 cm sampai 50 cm.

“Iya, sore tadi terjadi banjir. Karena curah hujan yang tinggi dan kiriman air dari selatan (Hutan Mertai Solokuro dan Sekitar Brumbung), sehingga air naik di sepanjang kanan kiri sungai,” ungkapnya.

Ia menuturkan, mulai dari wilayah selatan Perum Graha sampai sekitar belakang masjid Desa Drajat terjadi genangan air.

Kendati demikian, sambung Hilmi, air yang menggenai sejumlah kawasan ini telah surut dan tak sampai merusak sejumlah fasilitas umum yang berada kawasan tersebut.

“Hanya menyisakan sedimentasi lumpur akibat genangan air banjir. Alhamdulillah, banjir telah surut usai menggenangi kawasan selama kurang lebih 1 jam,” tuturnya.

Ia menambahkan, air telah mengalir ke laut, dan dipastikan tidak ada fasilitas atau bangunan rumah warga yang rusak akibat banjir yang terjadi kemarin sore.

Terpisah, aktivis pemerhati lingkungan Lamongan, Roni Kondom menjelaskan, banjir kiriman ini merupakan yang terbesar kedua setelah sebelumnya juga pernah terjadi pada tahun 2018 silam.

“Karena memang kawasan hutan di sekitar sini banyak yang beralih fungsi menjadi lahan pertanian jagung dan lainnya. Sehingga resapan airnya kurang maksimal, apalagi diperparah dengan penambangan batu kapur yang dilakukan secara berlebihan,” papar Roni Kondom.

Oleh sebab itu, ia meminta kepada Pemerintah Kabupaten Lamongan untuk segera melakukan penanganan lebih lanjut terhadap kawasan tersebut, agar tidak terjadi hal serupa yang lebih parah.

“Dari kejadian ini, saya berharap pemerintah peduli dan melakukan penanganan secara tegas terhadap perlindungan kawasan, agar hal-hal lain yang tidak diinginkan tidak terjadi lagi,” tandasnya.

Sementara itu, Camat Paciran Agus Hendrawan mengungkapkan, menanggapi banjir yang terjadi pada kemarin sore, secepatnya pihaknya akan melakukan koordinasi dengan para dinas terkait.

“Segera akan saya koordinasikan dulu dengan dinas atau instansi terkait, semoga banjir yang melanda kawasan Paciran ini bisa teratasi dan tidak terjadi lagi di kemudian hari,” kata Agus Hendrawan. (ard)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry