Oleh: Gus Ipang Wahid.

PAGI ini, udara terasa berbeda. Di meja makan, di sela aroma kopi dan kepulan asap sarapan yang hangat, saya duduk satu meja dengan Kiai Imam Jazuli. Dialog kami mengalir. Santai, tapi isinya berbobot tonase berat.

Di sinilah kejutan itu muncul. Kiai Imam Jazuli, pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon itu, membuat pernyataan penting. Beliau menyatakan siap dicalonkan menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Tentu ada syaratnya: jika muktamirin dari Pengurus Cabang (PC), Pengurus Wilayah (PW), dan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) memang menghendaki.

Pernyataan ini bukan riak kecil. Ini gelombang. Apalagi momentumnya terjadi tepat pasca keputusan krusial tadi malam hungga dinihari. Sebuah keputusan yang mengubah lanskap kontestasi: Ketua Tanfidziyah kini dipilih oleh AHWA dan Rais Aam berdasarkan usulan lima besar pemilik suara terbanyak.

Ikhtiar Kepemimpinan Kolektif Membawa NU Kembali ke Khittah Kemandirian
Aturan main berubah. Dan, dalam perubahan itulah, ruang bagi figur alternatif yang segar seperti Kiai Imam Jazuli terbuka lebar. Mengapa NU di abad kedua ini butuh sosok seperti Kiai Imam Jazuli? Mengapa bukan yang lain? Menurut saya, setidaknya bermuara pada empat alasan mendasar.

Pertama, kebutuhan mendasar NU hari ini adalah rekonsiliasi. Mari jujur pada diri sendiri. Beberapa tahun terakhir, dinamika internal NU sangat kencang. Antartokoh, antarkader, bahkan antarstruktural sering kali terlibat friksi yang menguras energi. Mustahil NU bisa menjalankan program raksasanya jika mesin organisasinya sendiri masih tersendat oleh residu konflik.

NU butuh pemersatu. Kiai Imam Jazuli punya kelebihan itu. Beliau memiliki “energi pemersatu” yang cair, mampu berkomunikasi lintas faksi, dan diterima di berbagai lini. Tanpa beban masa lalu, beliau bisa menjadi jembatan penyeberang bagi semua pihak yang selama ini berseberangan.

Kedua, mengembalikan ruh kemandirian ekonomi. Kita merindukan NU masa lalu yang tegak berdiri di atas kaki sendiri. Sejak awal berdiri, para masayikh telah memberi keteladanan konkret melalui koperasi Syirkatul Inan. Hebatnya, dari perputaran ekonomi mandiri itulah madrasah diniyah tumbuh, pesantren tegak, bahkan NU mampu menyumbang untuk Palestina.

Dulu, Muktamar NU bahkan bisa digelar setahun sekali tanpa proposal mengemis ke pemerintah. NU benar-benar berwibawa karena mandiri.Hari ini? Soal ekonomi ini terasa berjalan lambat, bahkan ada yang bilang mundur. NU terlalu sering bergantung pada patronase kekuasaan.

Kiai Imam Jazuli tahu persis titik lemah ini. Beliau punya konsep matang bagaimana membawa NU abad kedua ini kembali ke khittah ekonomi, terutama melalui program kemandirian pesantren yang riil, bukan sekadar jargon di atas kertas.

Ketiga, beliau adalah tokoh transformasi pesantren. Zaman sudah berubah digital, global, dan serba cepat. Pesantren tidak boleh gagap. Kiai Imam Jazuli bukan hanya berwacana soal ini, beliau sudah membuktikannya.

Komitmen dan konsistensinya dalam mengubah wajah pesantren menjadi modern, kompetitif, namun tetap menjaga nilai-nilai salaf, adalah bukti sahih.NU butuh nakhoda yang paham cara mentransformasikan ribuan pesantren di Indonesia agar siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Keempat, modal diplomasi global. Pemimpin PBNU ke depan tidak boleh jago kandang. Ia harus menjadi pemain global. Kiai Imam Jazuli adalah perpaduan langka: seorang orator yang memikat, negosiator yang ulung, dan diplomator yang cerdas. Kemampuan komunikasi internasional dan ketajaman berpikirnya adalah modal besar yang dibutuhkan NU untuk mewarnai geopolitik Islam dunia.

Melihat rekam jejak dan momentum ini, sudah seyogyanya NU memberikan kesempatan terbaik bagi kader-kader potensialnya. Termasuk dari kalangan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang selama ini dibela habis-habisan oleh Kiai Imam Jazuli lewat tulisan dan gerakannya. Sudah saatnya seluruh elemen pejuang NU menempatkan Kiai Imam Jazuli di barisan depan perjuangan.

Sarapan pagi ini boleh saja sudah usai. Namun, kalimat dari Kiai Imam Jazuli tadi pagi terus terngiang. Ini bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan sebuah panggilan sejarah dan hasil istikharah yang siap ia tunaikan jika umat menghendaki. Bola kini ada di tangan muktamirin. Apakah NU ingin terus berjalan di tempat, atau melompat jauh ke depan bersama energi baru? Wallahu’alam.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry