SURABAYA | duta.co – Berita duta.co bertajuk ‘NU Rayakan Imlek, Antisipasi Bangkitnya Politik Kebencian dan Diskriminasi Etnis’, Senin (15/2/2021) tiba-tiba viral di media sosial nahdliyin. Tidak sedikit yang mengirimkan pesan khusus agar dimuat sebagai ‘cover both side’ alias keseimbangan.

“Saya juga warga NU. Saya sangat tidak setuju dengan alasan perayaan Imlek NU dan Tionghoa dimaknai sebagai upaya mengantisipasi bangkitnya politik kebencian dan diskriminasi etnis. Apalagi perayaan ini menggunakan istilah Imlek ala santri. Kesannya santri melihat etnis Tionghoa sedang dibenci dan didiskriminasi,” demikian ditulis Achmad Fahmi, SH kepada duta.co, Senin (15/2/2021).

Menurut Fahmi, alumni PP Modern Gontor ini, siapa pun boleh merayakan Imlek. Tidak ada yang bisa melarang. Tetapi, menjadikan perayaan itu sebagai ‘Antisipasi Bangkitnya Politik Kebencian dan Diskriminasi Etnis’, ini sangatlah tendensius.

“Biasa saja. Rayakan dengan hikmad Imlek itu, tanpa harus menuding orang lain membenci dan mendiskriminasi warga Tionghoa. Karena, selama ini, tidak ada tanda-tanda bangkitnya Politik Kebencian dan Diskriminasi Etnis itu,” terangnya.

Jangan Mudah Menuduh Intoleran

Hal yang sama disampaikan Tjetjep Muhammad Yasin (Gus Yasin). Alumni PP Tebuireng, Jombang ini juga mengkritisi semangat NU dalam menggelar Imlek bersama Tionghoa.

“Silakan! Mungkin bagi mereka Imlek itu penting, silakan. Tetapi, jangan menunding orang lain melakukan kebencian dan mendiskriminasi etnis. Ini bukan akhlaqnya NU,” tegas Gus Yasin, yang juga Wakil Ketua Umum Pergerakan Penganut Khitthah Nadliyyah (PPKN) kepada duta.co.

Menurut Gus Yasin, warga Tionghoa di Indonesia selama ini, sangat nyaman dan aman. Begitu juga totalitas kehidupan mereka, termasuk kebersamaan dengan etnis-etnis lain.

“Janganlah isu-isu sensitif seperti ini diungkit terus. Apalagi faktanya, warga Tionghoa di Indonesia, meski jumlahnya minoritas, tetapi, faktanya menguasai dalam banyak hal, termasuk kebijakan. Ambil saja 10 orang terkaya di Indonesia, pasti mereka yang mendominasi,” jelasnya.

Sebagai warga NU, ujar Gus Yasin, dirinya sudah diajari bagaimana memegang ajaran Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah. Ini juga yang selalu diajarkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri atau pun ekstrim kanan. Tidak selalu mencurigai umat Islam lain,” tambahnya.

Kedua, at-tawazun, seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil ‘aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Ketiga, al-i’tidal, tegak lurus dalam menegakkan kebenaran dan keadilan,” urainya.

Di samping itu, tak kalah penting, pungkas Gus Yasin adalah memegang teguh keyakinan. “Sebagai nahdliyin harus tasamuh, toleransi. Menghargai perbedaan, dengan memegang teguh keyakinan. Tidak gampang menilai orang salah, menvonis syirik, bid’ah apalagi kafir. Juga jangan mudah menuduh orang lain intoleran, penuh kebencian, diskrimikasi. Itu bukan akhlaq NU,” demikian Gus Yasin. (zi)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry