Masjid Yazid Jawaz ini kemudian disebut sebagai masjid dhiror, masjidnya kaum munafik, musyrik yang membahayakan. (FT/FACEBOOK)

BOGOR | duta.co — Ternyata, Ustadz Yazid Jawaz, dedengkot wahabi yang suka membid’ahkan amalan ahlussunnah wal jama’ah, mengkafirkan ulama Islam Nusantara, tidak datang dalam tabayun yang digelar MUI  Bogor, Jawa Barat, Rabu, 07 Februari 2018.

Islam Indonesia harus benar-benar mengawal gerakan wahabi ini. Jika perlu jangan ada tempat bagi wahabi di bumi pertiwi. Yazid Jawaz yang selama ini suka mengkafir-kafir amalan nahdliyin, malah mangkir, tidak datang ketika diajak diskusi.

Padahal,  selama ini apa yang dituduhan begitu mengkhawatirkan, karena bisa mnyulut emosi setiap orang.  Dia menuduh sesat ulama ahlussunnah wal jama’ah yang mengikuti Imam Asy’ari (disebutnya Asy’ariyah) dan Imam Maturidi (disebutnya Maturidiyah). Agar tidak tuduhan itu jelas, Yazid Jawaz diundang dalam acara mudzkaroh (diskusi) di ruang rapat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bogor, Jl. Padjajaran 10, Bogor, Jawa Barat.

Acara yang sedianya dilaksanakan Rabu mulai pukul 13.00 WIB itu, ternyata tidak ditanggapi oleh Yazid Jawaz yang dikenal sebagai syeikh youtube ini.  Walhasil umat Islam dan seluruh netizen muslim, merasa kecewa.

“Tidak ada itikad baik, maka dinyatakan masjidnya sebagai masjid Dhiror yang hanya menimbulkan keresahan perpecahan tanpa mau diskusi ilmiah,” begitu disampaikan Nurkholish, anggota siber Dutaislam.com, mengutip keterangan saksi di lapangan.

Rinaldi, siber Dutaislam.com dari Jombang juga menjelaskan bukan kali ini saja Yazid mangkir dalam diskusi bertajuk tabayun dan klarifikasi. “Dulu pernah ditemui FPI atau forum Habaib di Kalsel. Beliau ditanya diam aja, malah cantrik-cantriknya yang jawab,” ungkap Rinaldi, Rabu (07/02).

MUI Bogor sendiri kecewa. Kalau tidak mau atau tidak berani, mestinya menghentikan model dakwahnya yang mengkafirkan kelompok lain. Hampir semua yang hadir ingin melihat bagaimana sikap Yazid Jawaz setelah mangkir ini.

Gelapagan

Ada kisah menarik soal Yazid Jawaz ini. Masih terkait dengan bid’ah. Kisah ini pengalaman pribadi Ali Rahmat, laki-laki gemuk yang sekarang tinggal di Jakarta Pusat sebagaimana ditulis muslimmedianews. Ali sendiri pernah kuliah di Syria setelah tamat dari Pondok Pesantren Assunniyah Kencong, Jember.

Ali bercerita: Pada pertengahan 2009, kaum Wahabi mengadakan pengajian di Islamic Center Jakarta Utara. Tampil sebagai pembicara, Yazid bin Abdul Qadir Jawaz dan Abdul Hakim Abdat, dua tokoh Wahhabi di Indonesia.

“Pada waktu itu, saya sengaja hadir bersama beberapa teman alumni Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, antara lain Ustadz Abdussalam, Ustadz Abdul Hamid Umar dan Ustadz Mishbahul Munir,” katanya.

Ternyata, sedari acara, dua tokoh Wahhabi itu sangat agresif menyampaikan ajarannya tentang bid’ah. Setelah diamati, Ustadz Yazid Jawaz banyak berbicara tentang bid’ah. Menurut Yazid Jawaz, bid’ah hasanah itu tidak ada. Semua bid’ah pasti sesat dan masuk neraka.

Masih menurut Yazid Jawaz, apapun yang tidak pernah ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, harus ditinggalkan, karena termasuk bid’ah dan akan masuk neraka.

Di tengah-tengah presentasi tersebut, Ali bertanya kepada Yazid Jawaz. “Anda sangat ekstrem dalam membicarakan bid’ah. Menurut Anda, apa saja yang belum pernah ada pada masa Rasulullah saw itu pasti bid’ah dan akan masuk neraka. Sekarang saya bertanya, Sayidina Umar bin al-Khaththab memulai tradisi shalat tarawih 20 raka’at dengan berjamaah, Sayidina Utsman menambah adzan Jum’at menjadi dua kali, sahabat-sahabat yang lain juga banyak yang membuat susunan-susunan dzikir yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Apakah Anda berani mengatakan bahwa Sayidina Umar, Sayidina Utsman dan sahabat lainnya termasuk ahli bid’ah dan akan masuk neraka? Mendengar pertanyaan saya, Yazid Jawaz hanya terdiam seribu bahasa, tidak bisa memberikan jawaban,” katanya.

Setelah acara dialog selesai, lanjutnya, saya menghampiri Yazid Jawaz, dan saya katakan kepadanya, “Bagaimana kalau Anda kami ajak dialog dan debat secara terbuka dengan ulama kami. Apakah Anda siap? Jawabnya, “Saya tidak siap.” Demikian jawab Yazid Jawaz seperti diceritakan oleh Ali Rahmat.

Demikianlah, konsep anti bid’ah hasanah ala Wahabi sangat lemah dan rapuh. Tidak mampu dipertahankan di arena diskusi ilmiah. Konsep anti bid’ah hasanah ala Wahabi akan menemukan jalan buntu ketika dihadapkan dengan fakta bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melegitimasi amaliah-amaliah baru yang dilakukan oleh para sahabat.

Konsep tersebut akan runtuh pula ketika dibenturkan dengan fakta bahwa para sahabat sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam banyak melakukan inovasi kebaikan dalam agama sebagaimana diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits yang otoritatif (mu’tabar). (berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan