“Mereka telah merasakan gemblengan (agar tidak mempan dibacok) untuk menghapi kekejaman kader Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka juga merasakan betapa terjal mengikuti jejak langkah Gus Dur.”

Oleh Tjetjep Mohammad Yasien, SH, MM

CUKUP! Membaca ‘saur manuk’ komentar pengurus GP Ansor — terkait rencana ‘Halal Bihalal dan Temu Kangen’ Alumni GP Ansor bersama PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah) di media massa – rasanya, cukup untuk menyimpulkan, bahwa, mereka yang reaktif itu telah gagal menjaga fatsoen  berorganisasi.

Dari sini, ‘akurasi’ Cak Anam (Drs Choirul Anam), mantan Ketua GP Ansor Jatim yang sangat fenomenal itu — dalam waktu sekejap — berhasil ‘mengukur kedalaman’ etika, moralitas atau akhlaq para kader yuniornya.

Sebagai warga nahdliyin, saya angkat topi. Walhasil, GP Ansor yang selama ini menjadi perbincangan banyak orang, semakin tampak karakter kadernya. Tentu saja, tidak semua.

Cara Cak Anam sederhana. Cukup ‘say hello’ sahabat lama. Di antaranya ada Drs Muhammad Said Sutomo (mantan Ketua GP Ansor Pasuruan), KH Yahya Romli (sesepuh GP Ansor), Mas Amin (Aminuddin Kediri), Cak Maghfur (Al-Maghfur Jombang), Mas Iga (HM Imam Ghozali Said), Gus Saifullah Huda dan masih banyak lagi yang, selama ini telah merasakan pahit-getirnya berjuang di GP Ansor.

Mereka ini telah merasakan gemblengan (agar tidak mempan dibacok) untuk menghapi kekejaman kader Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka juga merasakan betapa terjal jalan mengikuti jejak langkah Gus Dur.

Nama Cak Anam sendiri terpatri kuat di sejarah GP Ansor. Penulis buku ‘Gerak Langkah Pemuda Ansor’ ini berhasil membuat narasi apik dari sebuah percikan sejarah kelahiran GP Ansor. Selain itu, bukunya bertajuk ‘Pertumbuhan dan Perkembangan NU’ membuat semua kader nahdliyin ‘angkat topi’, kecuali yang belum membacanya. Hampir seluruh buku tentang NU, seakan ‘wajib’ mengutipnya.

Saya bukan karib Cak Anam secara fisik, tetapi, saya selalu mencermati gerak langkahnya. Setiap menjelang peringatan hari Natal, 25 Desember, saya yakin, Cak Anam deg-degan. Karena ialah tokoh GP Ansor pertama – atas perintah Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) — yang membuat kebijakan menjaga Gereja. Saat itu (memang) sangat dibutuhkan demi perlindungan keamanan bagi minoritas yang terancam.

Hebatnya, ketika kebijakan itu berjalan, hubungan antar-semama muslim semakin kuat. Almaghfurlah KH Sahal Mahfudz dan KH Hasyim Muzai yang, melanjutnya kepemimpinan Gus Dur di PBNU, merawat hubungan tersebut. Walhasil, kebijakan menjaga Gereja, dipahami dan terkendali. Sekarang, keterusan. Bedanya, hubungan antar-sesama muslim justru mengendor. Cak Anam pasti deg-degan.

Masih ada cerita menarik soal Cak Anam. Ia pernah dipanggil almaghfurlah KH Saifuddin Zuhri secara khusus. Semua paham, KH Saifuddin Zuhri adalah salah satu tokoh besar NU. Pada usia 35 tahun ia sudah menjabat Sekretaris Jenderal PBNU merangkap Pemred Harian Duta Masyarakat dan anggota Parlemen Sementara. Sampai-sampai Presiden Soekarno mengangkatnya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI pada usia 39 tahun, lalu menjadi Menteri Agama saat berumur 43 tahun.

Cak Anam dipanggil agar terus menghidupkan tradisi menulis di NU. KH Saifuddin Zuhri rupanya ingin memberikan apresiasi terhadap tulisan-tulisan Cak Anam tentang NU, saat masih menjadi wartawan Majalah Tempo. Seperti ‘mengugemi’ amanat KH Saifuddin Zuhri, kini Cak Anam adalah Penanggungjawab Harian Umum Duta Masyarakat.

Masih banyak kisah menarik melekat pada diri Cak Anam. Termasuk bagaimana ‘kebersihan politik’ almaghfurlah KH Abdullah Faqih (Langitan). Kisah itu, ada padanya. Termasuk jejak keilmuan Mbah Hasyim Asy’ari (muassis NU) ketika nyantri di Wonokoyo, Mayangan, Jombang. Yang terakhir ini belum terbukukan secara apik. Jujur, secara pribadi, saya ingin menulisnya.

Akhlaq Berorganisasi

Akhlaq memang masalah fundamental. Kapan pun dan di mana pun, kita diminta menyempurnakan akhlaq. Berorganisasi, juga harus mengedepankan akhlaq. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk mengajak manusia agar memperbaiki akhlaq. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.”

Antara akhlaq dengan aqidah, terdapat hubungan yang sangat kuat. Karena akhlaq yang baik sebagai bukti dari keimanan dan akhlaq yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman. Semakin sempurna akhlaq seorang Muslim berarti semakin kuat imannya.

“Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaqnya paling baik di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya.” Akhlaq yang baik adalah bagian dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan.

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat melainkan akhlaq yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.”  Lagi-lagi soal akhlaq.

Kembali ke soal ‘Halal Bihalal dan Temu Kangen’ Alumni GP Ansor, sebagai Ketua Harian PPKN, saya melihat (seharusnya) tidak ada yang merasa tarancam.  Pun kader yunior GP Ansor. Apalagi jika kita mau merunut pikiran kebangsaan Cak Anam dan sahabat-sahabat senior (alumni) GP Ansor, semua terlihat gamblang. Saya tidak habis pikir, apa yang membaut mereka terancam, sampai mengatakan illegal.

Membaca pro-kontra acara ‘Halal Bihalal dan Temu Kangen’ Alumni GP Ansor di grup WhatsApp, bahkan pemberitaan media online yang  melibatkan struktural Ansor Jawa Timur sampai Pimpinan Pusat, terasa risih. Bagaimana bisa, pengurus GP Ansor dengan mudah terjebaK ‘konflik’ antarsesama di ruang terbuka. Ada apa? Sudah begitu rapuhkah soliditas mereka?

Jika sebagian orang menyebut ini akibat dari rapuhnya kepemimpinan, di sisi lain, ini pertanda lemahnya kita menjaga akhlaq, fatsoen, etika sesama muslim. Hal ini berbahaya untuk masa depan bangsa. Karena bangsa ini bisa kuat lantaran akhlaq sesama. Meminjam istilah Bung Karno (Ir. Soekarno), presiden pertama Indonesia bahwa “Bangsa Yang besar, adalah Bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya”. Termasuk menghormati seniornya, bukankah begitu? Waallahu’alam. (*)

Jumat 17 Juni 2022, Kebraon, Surabaya.

Tjetjep Mohammad Yasien

 

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry