Dr Suparto Wijoyo

Oleh: Suparto Wijoyo*

CAK Mispon sejatinya tidak larut dalam gerakan sujud di kaki dokter yang diviralkan. Baginya Covid-19 telah menikam jantung sosok yang suka dipuja-puji dengan umbul-umbul pesta gemerlap investor perkotaan. Daya nalar selaksa hilang ditelan gelombang pandemi yang tetap tinggi di sebuah lahan kuasa yang selama ini merasa penuh pesona. Adegan persujudan yang menarik diberitakan itu tetap tidak mampu mengusik hati Cak Mispon yang terpaut dengan saudara nun jauh di Tepi Barat dan Lembah Yordan. Israel tidak pernah  risih menduduki lahan orang lantas mengajak berunding untuk berdamai. Itu ibaratnya ada maling merampok tanah dan rumahmu serta menderitakan generasimu apabila engkau mendiamkannya, lantas mengajukan proposal perdamaian. Sebuah permintaan yang tidak dapat diterima oleh kadar kewarasan yang paling minimalis sekalipun, sejumput kisah seperti memeras-meras dasar negara dengan tetap meyakini NKRI berdasarkan Pancasila 1 Juni 1945. Latar yang berbeda meski mengoyak batinnya tampak setarikan nafas warga yang mengerti harkat dan perjanjian luhur bangsanya.

Cak Mispon tidak mau diajak mendiskusikan apa yang ada di sini. Sebab hatinya sudah terpaut terhadap yang di sana, di tanah Palestina. Lihatlah Cak Parto, katanya:  darah terus tumpah di bumi Palestina. Air mata senantiasa dialirkan dalam linang yang mencekam dengan arakan demonstran yang setia menempuh jalan panjang. Jerusalem adalah akar dan rerindangan yang menghadirkan kisah tanpa jeda. Monoteisme yang membangun iman agama-agama samawi dilahirkan. Lambang supremasi kuasa dan panggul penderitaan selalu tertoreh pada rekem jejak peradaban di “tanah harapan”. Kuil suci dan tembok ratapan maupun Al-Quds “bertahtah megah” berselimutkan “ornamen teologis” yang kilauannya tidak bisa ditandingi oleh hamparan tanah manapun.  Mimpi dan imaji dikonstruksi dengan membawa gerbong umat yang diberi suguhan daulat Tuhan yang tersematkan di jazirah Palestina.

Khalayak ramai menyimak tentang apa dan siapa sejatinya Jerusalem. Seperti yang dilansir Discovery Channel: Hanya segelintir kota yang telah menjadi tuan rumah bagi banyak agama dan aliran politik sesespesial Jerusalem. Bagi orang Yahudi, kota ini adalah ibu kota tanah air mereka dan lokasi Tembok Barat. Bagi umat kristiani, the Garden of Gesthsemane and Golgotha are here. Khusus bagi muslim, it’s a city inextricably tied to the rise of Islam with such holy sites as the Dome of the Rock. Pesan universalnya amatlah jelas bahwa terhadap tanah “suci lintas agama” ini harus dijaga, bukan malah diusik dengan terus merangsek mengusir warga Palestina.

Kalau para tokoh politik dunia tidak tanggap, persaksikanlah riuhnya gemeretak tulang-tulang mujahid Palestina yang akan menggeliat  “dibuncahkan” Tuhan untuk diteruskan anak-anak dalam gelegar intifadah. Akibat ulah orang tua yang lalim, yang menjabat Presiden USA, Donald Trump, yang menjadikan Jerusalem sebagai ibu kota Israel dan hendak mencaplok Lembah Yordan, masyarakat beradab menunjukan sikapnya. Tokoh-tokoh dunia bereaksi dan menuntun saya bersama Cak Mispon menaruh perhatian pada novel I Saw Ramallah atau Ra’aitu Ramallah. Novel yang menuang memori penulisnya yang terbit perdana tahun 1997, Mourid Barghouti, seorang penyair Palestina termasyhur.

Narasi dalam novel itu amatlah padat dan teramat liris mengenai kisahnya sebagai seorang Palestina dari pengasingan. Ramallah yang berada di Tepi Barat menjadi sangat asing, sebagaimana pula Gaza akibat buldoser Yahudi Zionis. Penindasan terhadap warga Palestina diukir secara destruktif sejak negara ini diproklamasikan 14 Mei 1948. Potret derita Palestina semakin gamblang dalam sorotan permufakatan konspiratif negara-negara yang mengklaim sebagai pemenang Perang Dunia II. Buku lama Palestine: Through Documents karya  R. Halloum (Abu Firas), 1988 yang saya dapat dari Pemerintah Palestina tahun 1992 telah memberikan informasi yang representatif tentang kisah kolonialisme yang menyengsarakan bangsa Palestina. Lembar sejarah Palestina memang hendak ditenggelamkan dan kini “gumpalan tanah air” itu dalam pekik Mourid Barghouti seolah menjadi “gagasan tentang Palestina”. Realitas Palestina diubah menjadi “uantaian kisah-kisah imajiner tentangnya”.

Rekam jejak nestapa Palestina  itu sedang menarik sorot mata dunia untuk tertuju menatapnya kembali.  Berbagai bencana alam yang menerjang “gagah dengan banjir dan tanah longsor” di negeri ini nyaris tidak terasakan dalam perihnya sembilu, dibandingkan dengan kekelaman masa-masa sulit yang melilit warga Palestina. Bombardir tentara Israel di Gaza dan Ramallah hendak diulang di Lembah Yordan, pastilah menyesakkan dada.  Presiden USA Donald Trump justru  terbidik ngebet banget urusan Israel daripada derita warganya dalam era pandemi Covid-19.

Pengesahan secara sepihak bahwa Jerusalem adalah Ibu Kota Israel dan rencana congkak merebut Lembah Yordan merupakan ujaran yang mengandung intimidasi serius. Kekerasan verbalnya adalah menifes terorisme paling brutal. Respons yang muncul dari publik  internasional yang melakukan penolakan atas pengibukotaan Jerusalem pun merupakan bukti bahwa kebijakan USA tersebut amatlkah gegabah. Keputusan yang mengristalkan teror paling nyata bagi bangsa-bangsa beradab.

Apa yang terjadi di wilayah Al-Aqsa di esok hari  pasti mengguncang  kemanusiaan siapa pun. Peristiwa yang menggelegak dalam suasana perjalanan sejarah panjang selama ribuan tahun (2800 SM-2017 M) merupakan simbol abadi keangkuhan Israel. Negara ini sesungguhnya sedang memamerkan kedunguan yang sangat menggelisahkan umat manusia. Tragedi yang dihelat di Palestina  adalah perlambang bahwa humanisme sed ang dipermainkan. Tidak ada alasan yang cukup kuat bagi Israel untuk menggempur   Palestina, kecuali mereka yang sedang kesetanan.  Palestina yang bermuatan Jalur Gaza, Tepi Barat, Lembah Yordan maupun Masjid Al-Aqsa secara geopolitik, haram dianiaya.  Doa pembulat perjuangan teruslah dilantunkan agar pada saatnya nanti  kita persaksikan bersama sambil melakukan persujudan agung di Palestina dan berkata: I Saw Palestina. Akhirnya Kulihat Palestina yang Merdeka.

*Esais, Akademisi Fakultas Hukum, & Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry