TERKABUL – Keinginan Bambang Tri mempertanggungjawabkan isi bukunya ‘Jokowi Undercover’ terkabul. Meski bukan Jokowi yang lapor polisi, Bambang Tri pun diciduk atas laporan Michael Bimo yang tidak terima disebut sebagai saudara kandung Jokowi. (FT/facebook.com)

SEMARANG | duta.co — Buku ‘Jokowi Undercover’, memang bikin penasaran. Bagaimana tidak, isinya menguliti (habis) Jokowi, sang Presiden RI. Tak tanggung-tanggung, Jokowi disebut anak seorang PKI. Ditambah lagi, penulisnya, Bambang Tri menantang untuk diadili. Meski bukan Jokowi yang lapor polisi, kini Bambang Tri benar-benar diciduk polisi.

Bambang ditangkap polisi atas laporan Michael Bimo ke Bareskrim Polri. Dia dilaporkan atas dugaan tindak pidana pencemaran nama baik dan atau fitnah. Atas laporan itu, ia ditangkap.

“Ya! (Bambang Tri) dibawa ke Jakarta oleh tim Bareskrim Polri,” begitu disampaikan Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Djarod Padakova saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (30/12/2016).

Michael melaporkan Bambang melalui kuasa hukumnya pada Sabtu (24/12) karena namanya ditulis dalam buku ‘Jokowi Undercover’. Dalam buku itu, dia disebut sebagai saudara kandung Jokowi. Laporan Michael ini diterima polisi dengan nomor LP/1272/XII/2016/Bareskrim.

Keinginan Bambang duduk dikursi pengadilan bakal terpenuhi. Dia juga akan mempertanggungjawabkan apakah Michael Bimo itu benar sebagai saudara kandung Presiden Jokowi. Termasuk benarkah Jokowi itu bukan anak kandung dari Ibu Sudjiatmi.

“Saya tegaskan bahwa isi buku Jokowi Undercover adalah tidak benar dan fitnah yang mana sangat merugikan bangsa Indonesia pada umumnya, mengingat tuduhan-tuduhan di buku tersebut terkait dengan komunisme dan tuduhan lain yang bersifat pribadi sangat menimbulkan permusuhan di antara sesama anak bangsa,” tutur kuasa hukum Michael Bimo, Lina Novita, Minggu (25/12).

Cerita Bambang Tri Mulyono, memang belum mampu meyakinkan publik. Ia mengaku menulis buku itu setelah melacak jejak Jokowi yang disebut sang pemalsu jatidiri melalui Prolog Revolusi Kembali ke UUD 45 Naskah Asli yang dianggap sahih. Ia menyatakan meski dituding menfitnah Jokowi dalam bukunya sebagai keturunan anak PKI, tetap bersikukuh jika bukunya dibuat berdasarkan riset.

“Saya menulis buku berdasarkan riset data,” kata Bambang Tri saat dikonfirmasi merdeka.com Jumat (23/12) malam.

Pria asal Blora ini menceritakan jika proses pembuatan bukunya itu diawali pada tanggal 3 Desember 2014 saat menemukan foto, Widjiatno seorang pria yang wajahnya mirip dengan Jokowi di situs www.antifaker-Indonesia.com. Foto bertahun 1955 yang dijadikanya sebagai foto cover buku Jokowi Undercover itu menggambarkan pria mirip Presiden Jokowi itu mengawal tokoh PKI Aidit. Widjiatno itulah yang dianggapnya sebagai ayah kandung Jokowi.

“Awal mulanya saya menemukan foto tersebar mirip Jokowi mengawal Aidit. Ada di situs antifaker-Indonesia.com,” ungkap mantan wartawan surat kabar terbitan Kota Semarang Wawasan ini.

Bambang Tri mengaku akibat tulisan itu dirinya sempat dicurigai bahwa dirinya orangnya Prabowo yang kebetulan saat menemukan foto pria mirip Jokowi mengawal Aidit itu menjelang Pilpres 2014.

“Dikomentari juga soal saya kubu Prabowo. Dikatakan juga dalam komentar kalau foto itu foto editan yang sengaja disebar ingin menjatuhkan Jokowi saat kampanye Pilpres. Kalau mau pembuktian ada di internet,” ucap lelaki yang juga pernah menjadi wartawan surat kabar Jepang Jakarta Simboen yang bertugas di Jakarta Tahun 2001 ini.

Kemudian, Bambang Tri juga mengaku menemukan kejanggalan pada foto pertunangan Jokowi. Dirinya tidak ingin masuk dan terjebak pada isu itu (Pilpres). Lalu memulai memperdalam riset dan menemukan foto pertunangan Jokowi dengan istrinya Iriyana yang menurutnya palsu. Di foto itu, seolah-olah dibuat Jokowi adalah anak kandung Sujiatmi.

Padahal Jokowi menurut buku Bambang Tri adalah anak kandung seorang wanita Cina Yap Mei Hwa dari pernikahanya bersama Widjiatno, pengawal tokoh PKI Aidit. Di foto itu juga ada sosok Sudjadi, mantan politisi Golkar yang kini menjadi Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan yang dalam foto tubuhnya diganti dengan tubuh Widjiatno. Di dalam foto, ibu kandung Jokowi Yap Mei Hwa wajahnya diganti dengan foto wajah Sujiatmi.

“Saya temukan pemalsuan di foto pertuangan Jokowi. Semua saya tulis di buku (Jokowi Undercover). Ada beberapa saksi yang saya temui berkaitan dengan keberadaan keluarga Bu Sujiatmi. Faktanya sebelum menikah dengan Bapak Jokowi (Sujiatmo) sudah menikah,” beber pria alumni SMA Negeri 1 Blora ini.

Bambang Tri juga menemukan dokumen saat Jokowi mendaftarkan diri ke KPU sebelum dirinya menjadi Calon Presiden (Capres) dan memenangkan pertarungan Pilpres 2014 yang didampingi oleh wakilnya Jusuf Kalla. Saat itu Jokowi bertarung dengan Capres Prabowo Subianto.

“Temukan dokumen Jokowi di KPU yang di situ terjadi salah tulis tiga nama adik Jokowi,” terang pria yang pernah kuliah di Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah ini.

Selain itu, kejanggalan yang terjadi saat dirinya usai menulis buku Jokowi Undercover ini dirinya ditelepon beberapa orang yang menyatakan kepadanya jika buku yang dia tulis mengandung unsur kebenaran.

Bambang Tri juga mengungkapkan, jika almarhum Soeharto bukanlah sebagai antek-antek atau dalang terjadinya PKI. “Saya bela Pak Harto (Soeharto) yang dituding PKI dalam buku saya. Pembuktian yang saya gunakan dengan dokumen Suparjo, teori Resmikoff dan buku dari John Rossa,” ungkapnya.

Dia merasa jika fakta yang ditemukanya selama menyusun buku Jokowi Undercover ini harus disampaikan kepada masyarakat. “Saya yang harus jelaskan langsung kepada masyarakat. Apalagi, setelah diperiksa (Polda Jateng) tidak ada pengangkatan status saya sebagai tersangka. Makanya saya menghadiri diskusi di Magelang,” bebernya.

Bambang Tri bahkan mengaku jika usai menulis buku sudah mengirimkan ke beberapa pejabat untuk disampaikan langsung kepada Jokowi. Namun, sampai saat ini tidak ada tanggapan dan klarifikasi dari Jokowi.

“Saya ajak berkali-kali. Yang pertama, melalui surat terbuka saya di facebook. Kedua, lewat Pramono Anung (Sekretaris Kabinet). Ketiga, lewat Ganjar (Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo). Termasuk saya berikan kepada polisi yang pernah memeriksa saya. Saya tiga minggu yang lalu diperiksa Kepala Cybercrime Polda Jateng Pak Teddy,” jelasnya.

Maka dari itu, Bambang Tri meminta kepada Jokowi untuk mengklarifikasi terkait beberapa temuan yang ditulisnya dalam buku Jokowi Undercover ini yang dianggapnya sebagai bukti yang sah. “Buku saya sah dibuat. Saya minta supaya Pak Jokowi lakukan klarifikasi. Buku saya tidak ada yang bertentangan,” terangnya.

Logikanya, menurut Bambang Tri, jika ada yang salah tulisan dalam bukunya mengapa Jokowi tidak melaporkan dirinya ke polisi.

“Logikanya, Jokowi tidak lapor polisi atas tuduhan pencemaran nama baik atau penyebar fitnah. Saya anggap ini sebagai perlakuan bahwa saya belum sama di mata hukum. Secara hukum saya tidak bisa dikatakan fitnah sebelum (Jokowi) tes DNA. Salahnya Jokowi tidak menuntut saya,” pungkasnya.

Isu Jokowi keluarga PKI ini pernah beredar beberapa waktu lalu. Badan Intelijen Negara (BIN) langsung melakukan penyelidikan dan hasilnya, mereka memastikan tidak ada catatan bahwa orang tua Presiden Jokowi adalah tokoh atau kader PKI, baik di Giriroto, Boyolali, maupun di daerah lain. “Tuduhan bahwa Presiden Joko Widodo dan orang tua atau keluarga Presiden Joko Widodo terlibat PKI adalah fitnah,” kata Kepala BIN saat itu Sutiyoso. (dtc)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan