KUNJUNGI SD SABILILLAH: Mendikbud Muhadjir Effendy saat mengunjungi SD Islam Sabilillah Kota Malang. (FT/DUTA.CO)

“Menuntut ilmu karena jabatan, mengumpulkan kekayaan adalah salah. Kecuali bila semua itu diniatkan sebagai sarana amar makruf dan nahi munkar. Inilah yang hilang di masyarakat kita. Walhasil melahirkan prilaku buruk antara murid dan guru.”

Endang Lismari*

CUKUP! Episode kekerasan di bangku sekolah, lebih dari cukup. Meninggalnya guru kesenian SMAN-1 Torjun, Sampang, Jawa Timur, Achmad Budi Cahyono di tangan anak didiknya, disusul kisah tragis Astri Tampi, Kepala Sekolah SMP 4 Lolak, Sulawesi Utara yang bersimbah darah di tangan wali muridnya, menandakan betapa rapuh penataan hubungan guru dengan muridnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy tak kuasa menahan haru saat bertemu para kiai di Pondok Pesantren Al Ihsan, Omben, Sampang asuhan KH Mahrus Malik. Dalam silaturahim itu, Muhadjir juga menerima buah pemikiran dari Aliansi Ulama Madura (AUMA) yang disusun dalam Maklumat Guru. Isinya searah Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang dicanangkan pemerintah.

Muhadjir kemudian teringat Syekh Burhanuddin Az-Zanurji, pengarang kitab Ta’lim al Muta’allim, sebuah kitab yang didasari keprihatinan setelah melihat fenomena pelajar (pada saat itu), banyak orang berilmu (pintar) namun tak memperoleh kesuksesan dan keberkahan, lantaran rusaknya tatanan hubungan guru dan murid.

Membangun karakter siswa, memang harus dimulai dengan penataan hubungan antara guru dengan siswa yang menjadi semacam ‘kontrak belajar’. Dengan begitu ada kesepahaman antara siswa/wali siswa dengan guru. Ada pedoman yang dipakai pegangan bersama. Ada rambu-rambu yang harus dipatuhi kedua belah pihak.

‘Kontrak belajar’ itu selama ini masih belum seksama sehingga bisa memantik konflik atau setidaknya hubungan yang tidak harmonis guru dengan murid atau wali murid. Ada kasus guru diadukan ke polisi karena memberi sanksi fisik kepada murid yang kemudian ditafsirkan sebagai tindak kekerasan.

Penataan hubungan  guru-murid ini bukan hanya untuk mencegah konflik dan disharmonisasi. Yang lebih utama adalah agar proses pendidikan bisa efektif. Guru bisa mendidik muridnya secara benar dalam arti mengembangkan harkat dan martabat kemanusiaannya secara utuh. Bukan sekadar mengajar. Karena pada dasarnya tugas substansial paling utama guru itu adalah mendidik, baru kemudian mengajar. Istilah Mendikbud Muhadjir Effendy, ada empat tugas substansial guru. Pertama, mendidik. Kedua, mendidik. Ketiga, mendidik. Keempat, mengajar.

Dalam penataan hubungan, Muhadjir mengaku terus terang terinspirasi kitab Ta’lim al Muta’allim. Kitab Tal’lim al Muta’allim itu telah menjadi standar wajib di pondok pesantren. Dan Muhadjir menilai, pesantren telah mampu menjadi contoh pendidikan karakter yang bagus. Yang menjadi masalah, terdapat sekitar 53 juta siswa yang tidak berada di pesantren. Nah, bagaimana siswa-siswa ini mendapat pendidikan karakter yang kuat seperti halnya santri atau murid di pondok pesantren.

Gayung pun bersambut. KH Mahrus Malik, yang masih kerabat dekat kiai linuwih almarhum KH As’ad Syamsul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus, Situbondo menegaskan, gagasan Mendikbud itu sangat tepat. Kitab itu memiliki kandungan sangat lengkap untuk mendidik siswa memiliki akhlak yang mulia. Membangun sikap ikhlas, dedikatif guru. “Di pesantren kitab itu diajarkan selama setahun, baru setelah itu tarbiyah,” kata KH Mahrus Malik.

Kitab Ta’limul Muta’alim terdiri dari 13 pasal. Syekh Ibrahim bin Ismail telah mensyarahi kitab tersebut. Para ulama pesantren salaf menandaskan bahwa keberhasilan mereka menyebarkan ilmu dan mempertahankan eksistensi pesantren adalah karena mengamalkan metode dalam kitab ini. Setidaknya ada lima hal penting dalam menuntut ilmu.

Dari itu lima itu, paling mendasar adalah menata niat. Syekh az-Zarnuji menganjurkan bahwa pelajar (murid) termasuk wali pelajar (murid) haruslah mendasari pencarian ilmu dengan niat yang lurus. Sesunguhnya, sekolah itu mengerjakan amal akhirat, dan bisa saja tidak berpahala karena niat yang salah.

Niat menuntut ilmu itu mencari rida Allah swt, menghilangkan kebodohan atau ketidaktahuan dari diri sendiri dan orang lain, setelah itu memiliki tugas mengajar kepada orang lain, menghidupkan agama dan menjaga kelestarian Islam. Menuntut ilmu juga sebagai ekspresi syukur atas nikmat akal dan kesehatan.

Menuntut ilmu karena orientasi jabatan dan agar mudah mengumpulkan kekayaan adalah niat yang salah. Kecuali bila kedudukan, jabatan dan kekayaan itu dari awal diniatkan sebagai sarana berjuang menegakkan yang makruf dan mencegah yang munkar. Inilah yang hilang di masyarakat kita. Walhasil melahirkan prilaku buruk antara murid dan guru.

Para ulama Madura prihatin dengan terjadinya perilaku murid yang tidak menghormati guru. Bahkan sampai tega dan berani melakukan penganiayaan hingga meninggal dunia.  Guru memiliki posisi yang terhormat di dalam Islam. Guru bagi anak didik itu seperti keberadaan Nabi bagi umatnya.

Mendasarkan pada Alquran Surat Fath ayat 9, dengan demikian murid wajib menghormati, melaksanakan dan membela. Manusia kecuali Nabi dan Rasul menerima ilmu melalui guru. “Ilmu dan pendidikan yang diberikan guru kepada murid itu adalah sebaik-baik pemberian yang menjadikan anak didik beruntung selama-lamanya,” kata Mahrus.

Bisakah kitab Ta’lim al Muta’allim diajarkan di sekolah? Kalau berpedoman pada kurikulum yang ada hampir mustahil menjadikan mata pelajaran sendiri. Tetapi, SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo memiliki pengalaman, mengambil insirasi dan saripati kitab itu untuk diajarkan kepada para siswa dengan diintegrasikan kepada kegiatan belajar membelajarkan yang lain. Baik dalam kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.

Menurut Kepala SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo Aunur Rofiq, kitab itu sangat memadai untuk membangun akhlak murid, khususnya dalam interaksiknya dengan guru. Proses Pendidikan bisa saksama hanya jika murid menghormati guru. Murid percaya kepada guru. Apalagi di tengah jungkir balik nilai-nilai sosial dan keluarga, kitab Ta’lim al Mut’allim adalah jawaban yang tepat. (*)

Endang Lismari, Wartawan Rubrik Pendidikkan Duta Masyarakat dan duta.co,

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.