Suasana dialog mahasiswa KKL Integratif IAIN Pontianak dengan perwakilan perusahaan. (FT/TIARA SARI)

KUBU RAYA | duta.co – Masalah lingkungan dan infrastruktur masyarakat desa menjadi titik konsentrasi mahasiswa KKL Integratif IAIN Pontianak di Kampung Pematang Ranbai Hulu, Kuala Mandor A Kecamatan Kuala Mandor B Kubu Raya, Pontianak. Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam kelompok 12, prihatin, menyaksikan kondisi lingkungan semakin rusak.

“Bukan pekerjaan ringan memang, tetapi, faktanya air comberan (limbah) mess karyawan perusahaan pembuangannya dialirkan ke parit warga, sehingga yang terjadi parit dan kebun warga menjadi tercemar, padahal ini menjadi salah satu andalan hajat orang banyak,” demikian kesimpulan mahasiswa sebagaimana rilisnya kepada duta.co, Jumat (10/8/2018).

Sejak Rabu (8/8/2018) mahasiswa melakukan pendekatan sekaligus audiensi dengan pihak perusahaan, masing-masing PT. Pundi Global Invsetama (PGI), erusahaan baru yang bergerak dalam energi listrik dan PT Pundi Lahan Khatulistiwa (PLK), yang bergerak dalam industri minyak CPO Sawit.

“Alhamdulillah ada respon. Kami sampaikan, kita menunggu kabar baik selanjutnya terkait normalisasi parit ini, dan ini bisa dilakukan kerja bareng untuk sama-sama membantu warga juga,” demikian Ajib selaku mahasiswa KKL Integratif IAIN Pontianak.

Semengat perbaikan juga diberikan perusahaan. “Nanti akan kami kaji kembali bersama Kepala Desa dan Sekretaris Desa, kami bisa bantu eskavator tidak bisa full di situ karena perusahaan PGI juga mengejar target awal, tahun ini sudah mulai beroperasi,” ujar Mansuri mewakili perusahaan.

Sudah 8 hari mahasiswa berkutat, setelah melihat, mengamati dan menganalisis lingkungan yang ada, dan ini semua akibat operasi kuda perusahaan (listrik&CPO). Walhasil, mahasiswa bersama tokoh dan warga setempat melakukan diskusi ringan terkait dampak lingkungan yang terjadi, terlebih yang berdampak langsung kepada hajat orang banyak.

Butuh Dukungan Aparat Desa dan LSM Peduli Lingjkungan

Berdasarkan hasil diskusi dengan perangkat desa disimpulkan, bahwa, Pertama, Parit sepanjang antara PGI dan PLK ditutup, sedangkan parit buatan baru bagian barat PGI, sangat dangkal, sehingga akibatnya air tumpah sepanjang depan rumah, ini menjadi kotor.

Kedua, air comberan mess karyawan PGI dan PLK  pembuangannya dialirkan ke parit warga, sehingga yang terjadi parit dan kebun warga menjadi tercemar. Padahal ini menjadi kebutuhan sehari-hari warga.

Ketiga, selama ini warga selalu merasa terusik atas adanya dua perusahaan ini,  selain air comberan mess PLK masuk ke kebun dan parit warga, dampak lingkungan berupa debu, asap dari operasinal PLK yang berterbangan ke atap-atap rumah warga. Belum lagi selama ini warga mengandalkan minum dengan air hujan. Sisi lain pembangunan infrastruktur di lingkungan sekitar perusahaan cukup lambat, masih terdapat beberapa titik jalan-jalan warga yang masih berupa jalan tanah biasa dan tanah merah.

Ketertinggalan infrastruktur ini, diduga karena desa Kuala Mandor A tidak diberi jatah dana ADD (Anggaran Dana Desa), alasannya mendapat dana CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan PLK dan PGI, namun, faktanya warga sampai saat ini belum merasakan CSR perusahaan tersebut.

Berdasarkan hasil diskusi dengan perusahaan, diputuskan, bahwa, pihak perusahaan PGI dan PLK harus melakukan normalisasi atau pendalaman parit warga sebagai salah satu solusi yang bisa digunakan untuk mengurangi dampak lingkungan yang terjadi.

“Harapan kami audiensi mahasiswa ini membawakan hasil. Pendalaman ulang parit tersebut dapat direalisasikan secepat mungkin oleh perusahan, hal ini perlu karena di daerah KKL ini sedang musim kemarau panjang. Semangat ini harus didukung aparatur desa, termasuk LSM penggiat lingkungan,” demikian Ajib. (tis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.