
JOMBANG | duta.co – Nyai Sinta Nuriyah, istri presiden keempat Rl KH Abdurrahman Wahid, menggelar Sahur Keliling di Pondok Al-Khoiriyah Seblak Diwek, Minggu (1/3) dini hari. Sedikitnya 300 undangan menghadiri acara bertema Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi ini.
Kegiatan digelar kerjasama Puan Amal Hayati Jakarta dan Gusdurian Jombang. Tampak hadir pejabat pemerintahan, warga sekitar, santri, kaum marjinal dan perwakilan lintas iman.
Acara diramaikan dengan tampilan barongsai Anakonda Jombang dan sanggar tari Wilwatikta. Termasuk tampilan hadrah Qolbu Qur’an dari santri Pondok Seblak.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan menyanyikan lndonesia Raya dan mars Syubanul Wathan. Dilanjutkan pembacaan ayat-ayat al-Quran oleh siswi tunanetra dari SLB Muhammadiyah Jombang.
Ketua Yayasan Khoiriyah Hasyim Seblak Hj Rika Fauziyah Andarini menegaskan, Seblak bukan asing lagi bagi Nyai Sinta. “Karena dulu almarhum Gus Dur pernah mengajar bahasa Arab di madrasah Seblak sini,” ujarnya.
Dirinya berharap jalinan ukhuwah yang sudah ada dijaga dengan baik. “Semoga para hadirin bisa meneladani lbu Nyai Sinta dalam merangkul semua elemen masyarakat, sudah 26 tahun berkeliling menggelar sahur keliling ini,” imbuhnya.
Saat menyampaikan tausiyah, Nyai Sinta mengakui melakukan sahur keliling sejak 26 tahun silam. “Saat masih mendampingi almarhum Gus Dur sebagai presiden keempat Rl,” ujarnya.
Dia mengakui sahur bersama kaum marjinal dan dhuafa sangat bermanfaat. “Di Jakarta saya sahur bersama para kuli bangunan, mbok-mbok penjual di pasar maupun di terminal, bahkan di kolong jembatan,” imbuhnya.
Hal itu diakui dilakukan tidak dengan mudah. “Karena yang tinggal di Indonesia berbeda-beda dari suku dan agamanya,” imbuhnya.
Fakta ini, lanjutnya, mengharuskan anak bangsa lndonesia rukun satu sama lain. “Karena kita pada hakikatnya satu, jadi tidak perlu gontok-gontokan,” pesannya.
“Sehingga hanya kursi dewan yang boleh diperebutkan, asal tidak dipakai untuk memecahbelah bangsa dan negara,” ujarnya. “Tapi sebaliknya, harus digunakan membangun bangsa,” tandasnya.
Dia optimis lndonesia akan bisa membangun dan menjadi bangsa besar. “Asal kita bisa rukun dan bersatu dengan semua elemen bangsa meski berbeda,” pungkasnya.
Rangkaian acara ditutup dengan jamaah shalat Subuh. Sesi ini dipimpin Dr H Muhajir, kepala Kemenag Jombang, sebagai imam shalat.
(muk)
Kontributor: Mukani, tim LTN MWCNU Diwek





































