
SURABAYA | duta.co – LAZISNU (Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah NU), Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan, Lengkong, Kabupaten Nganjuk, Senin (3/7/23) mengajak 30 anak binaannya untuk ‘sambang’ Museum NU.
Mereka dikenal dengan berbagai benda-benda bersejarah NU yang perlu diketahui. “Sebagai kader NU, mereka harus paham sejarah perjuangan kiai-kiai NU. Mereka juga harus tahu, apa sesungguhnya yang menjadi tujuan ber-NU itu,” jelas Mbak Risa, perempuan yang mendampingi mereka.
Dengan begitu, jelasnya, ngurip-ngurip amaliyah NU, itu sangat perlu. “Barangsiapa yang mau mengurus NU akan, aku anggap sebagai santriku. Siapa yang menjadi santriku akan kudoakan khusnul khatimah beserta anak-cucunya,” demikian petuah Mbah Hasyim Asy’ari, muassis NU yang mesti dipahami kader nahdliyin.

Penting Demi Masa Depan
Napak Tilas perjuangan kiai-kiai NU, belakangan memang menjadi perhatian serius kader-kader muda NU. Hal ini disampaikan Saifuddin SPd, petugas Museum NU kepada duta.co. Menurut Mas Udin, panggilan akrabnya, Museum NU terus berbenah untuk bisa melengkapi benda-benda sejarah kiai NU.
“Kemarin dari Gresik ada yang menitipkan Alquran tulisan tangan. Setidaknya dari situ, kader-kader muda NU mengetahui, betapa kiai dulu begitu kuat keinginannya untuk berkarya. Begitu juga kitab-kitab klasik yang membahas hasanah kebersamaan, indahnya berorganisasi NU sampai bagaimana NU bersikap tegas terhadap NKRI,” tegasnya.
Kunjungan anak-anak NU ini, tegasnya, sangat penting bagi keberlangsungan NU masa depan. “Tantangan berbangsa dan bernegara semakin besar. Perlu pendidikan sejak dini agar sikap menjunjung norma Islam semakin kokoh. Menjunjung tinggi sifat keikhasan dan berkhidmat, sikap tawasuth dan i’tidal atau berlaku adil. Perlu tasamuh, toleran terhadap perbedaan pandangan. Tawazun atau seimbang dalam berkhidmah,” pungkasnya. (mky)







































