FIRASAT YANG TERBUKTI: Foto kenangan Endar dan tiang bendera merah putih yang dia tancapkan di titik nol longsor Dusun Tangkilan, Desa Banaran, Kec Pulung, Ponorogo. Lokasi itu akhirnya benar-benar longsor dan mengubur hidup-hidup 28 warga Dusun Tangkil. (duta.co/dokumentasi pribadi endar)

PONOROGO | duta.co – Ada yang ajaib di balik bencana longsor Ponorogo. Longsor yang menyapu 32 rumah dan mengubur 28 penghuninya itu menyisakan fakta yang mengherankan warga Dusun Tangkil dan Dusun Krajan, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponogoro. Sebab, 2 musala dan 1 masjid yang berada di area longsor seluas 800 meter persegi itu selamat dan aman. Longsor seakan-akan punya mata dan kaki, mengarahkan jalurnya membelok menjauh dari tempat-tempat ibadah tersebut.

“Itu lihat, dua rumah di sebelahnya aman pas mepet musala itu. Padahal di atasnya rumah-rumah hancur. Yang selamat ada dua musala. Satu musala di bawah di Kamituwan dan satu di Tangkil.  Satu masjid di Krajan juga selamat,” terang Jarnu (50), warga Dusun Krajan yang rumahnya tepat berhadapan dengan 12 rumah warga Dusun Tangkil yang tersapu longsor.

Prayitno (45), yang bersebelahan dengan masjid Dusun Krajan juga merasa bersyukur. Karena dengan adanya masjid tersebut, rumahnya aman dari longsor. Dirinya tidak bisa membayangkan jika masjid itu tidak menghalangi, maka longsor akan menyapu bersih rumahnya.

“Alhamdulillah, ini kuasa Allah. Masjid itu masih utuh dan rumah saya jug  aman, padahl longsor itu lewat di samping masjid dan berhenti di situ,” terang Prayitno, saat obrolannya bersama para pengungsi di posko 4 Baguna PDIP Ponorogo, di Dukuh Krajan Rt3/RW 2.

Namun cerita yang lebih ‘miris’ ada lagi. Di mana orang-orang yang memanen jahe, yang hingga saat ini jasadnya belum ditemukan, sempat mengejek (menertawakan) tanda-tanda akan terjadinya longsor.

“ Saat itu masih pagi, saya sedang berada di depan rumah mengurus tanaman. Lalu Pak Muklas, sempat menyapa saya. Muklas adalah perangat desa yang masih juga belum diketemukan. Dia naik ke bukit dan memotret longsoran kecil, karena katanya untuk laporan ke desa,” terang Jarnu.

Longsoran kecil diakui Jarnu sudah ada sejak pagi, sejak para petani jahe mulai memanen tanamannya. Namun peringatan alam itu itu tidak digubris , mereka malah menertawakan dengan bersorak-sorak.

“Malah disoraki, padahal saya yang di atas melihat bagaimana tanah di atas bukit mulai berguguran. Lalu saya teriaki Muklas agar lari, tapi tidak mendengar. Malah terus memotret rekahan tanah di atasnya,” imbuh Jarnu, yang masih jelas pada raut wajah ada ketakutan mengenang kejadian Sabtu (1/4/2017) pagi itu.

Beda lagi dengan Endar (35), yang rumahnya dijadikan Posko 4 Baguna. Ayah 1 anak itu melihat longsor saat dia berada di loteng rumahnya menjemur pakaian. Begitu mengetahui adanya musibah itu, dia langsung lari mencari anaknya yang sudah pergi bersekolah. ”Alhamdulillah, ternyata anak saya sedang di lapangan sekolah, dan di sana aman,” terangnya.

Satu peristiwa setahun lalu yang diingat Endar, saat dia menancapkan bendera merah putih di rekahan Gunung Gedhe  yang kini longsor itu. Bendera dwiwarna yang kini sudah tergeletak dan kayunya masih utuh di lokasi kejadian atau titik nol lonsgor sengaja ditancapkan oleh Endar untuk memberi tanda bahwa di situ ada rekahan tanah, yang sewaktu-waktu bisa longsor. Dan firasat Endar itu terbukti, Gunung Gedhe kini longsor dan mengubur hidup-hidup 28 warga Dusun Tangkil.

Kini lebih dari 170 jiwa hidup dalam pengungsian, baik di Desa Banaran maupun  di luar Banaran, seperti Munggung, Wotan, Patik, Singgahan, semuanya masih di Kecamatan Pulung. Hingga Rabu (5/4) sore ini, belum ada perkembangan dari pencarian para korban yang masih tertimbun longsor Banaran. sna

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry