Dr Ubaidillah Zuhdi -Dosen S1 Manajemen

SALAH satu topik pembahasan dalam bidang ekonomi adalah scarcity atau kelangkaan. Kelangkaan yang dimaksud di sini adalah kelangkaan sumber daya, baik sumber daya yang bisa maupun tidak bisa diperbarui. Tentu saja, topik pembahasan ini masih relevan di zaman now.

Kelangkaan sumber daya ini bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, pada Oktober 2017, menurut informasi yang tertulis di Tirto, kelangkaan beras medium terjadi di Jakarta Selatan.

Selain itu, menurut informasi di Detik, kelangkaan gas elpiji 3 kilogram pernah terjadi di Kudus pada bulan September 2017.

Ironisnya, kelangkaan juga menimpa sumber daya yang sangat melimpah di dunia ini, yaitu air. Pada bulan Juni 2018, CNN Indonesia menuliskan berita terkait krisis air terparah sepanjang sejarah yang dialami oleh India.

Dalam berita tersebut disebutkan bahwa tidak kurang dari 600 juta penduduk India kekurangan persediaan air bersih. Senada dengan hal tersebut, berita di Kompas pada bulan Januari 2018 menyebutkan bahwa persediaan air di Pakistan, selain tercemar, juga terus menipis.

Berita ini juga menjelaskan bahwa, pada tahun 2025, persediaan air di Pakistan akan mencapai tingkat kelangkaan mutlak.

Pada skala global, laporan bersama Bank Dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa 40 persen populasi dunia mengalami kelangkaan air saat ini.
Penjelasan ini dapat dilihat pada berita yang dimuat CNN Indonesia pada bulan Maret 2018.

Selain itu, prediksi dari PBB menyebutkan bahwa 1,8 milyar penduduk akan menemui kelangkaan air pada tahun 2025. Prediksi ini tertuang pada video yang dibuat oleh World Economic Forum dengan judul “A new invention could solve water shortages around the world.”

Kelangkaan air juga terjadi di Indonesia. Berita yang dimuat CNN Indonesia pada bulan September 2018 menyebutkan bahwa kekeringan dan krisis air bersih dialami oleh 53 dusun yang tersebar di 18 desa di 9 wilayah kecamatan yang ada di Temanggung.

Berita ini menjelaskan juga bahwa pemicu krisis air bersih ini adalah musim kemarau di wilayah tersebut. Artikel lain yang turut membahas topik kelangkaan air di Indonesia dimuat BBC pada bulan Februari 2018. Artikel ini memaparkan bahwa Jakarta berada di posisi 5 di antara 11 kota dunia yang paling terancam kehabisan air minum.

Tidak berlebihan untuk dikatakan bahwa langkah-langkah guna mengatasi kelangkaan air perlu dilakukan sedini mungkin. Video dari World Economic Forum yang telah disebutkan sebelum ini, dengan menggunakan Journal Nature Nanotechnology dan manchester.ac.uk sebagai referensi, memaparkan juga satu terobosan penting terkait hal ini.

Terobosan tersebut adalah dibuatnya saringan yang disebut dengan graphene sieve untuk menyaring garam dari air laut. Graphene sendiri adalah materi paling tipis di dunia, yang mana merupakan sebuah lapisan karbon murni yang sangat kuat.

Video dari World Economic Forum yang berjudul “Scientists think the wars of the future will be fought over water”, dengan memakai European Commission Joint Research Centre sebagai referensi, menjelaskan bahwa ilmuan-ilmuan berpikir perang-perang yang akan terjadi di masa depan adalah pertarungan untuk memperebutkan air.

Sebuah gambaran yang menjelaskan bahwa, di masa depan, air akan mejadi komoditas yang sangat berharga sekaligus amat langka jika tidak ada perubahan yang signifikan pada kondisi sekarang.

Dengan demikian, perlu adanya terobosan-terobosan baru guna mengatasi masalah kelangkaan air, sebagaimana graphene sieve, untuk mencegah terjadinya peperangan babak baru. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.