Atlet sepatu roda saat merayakan kemenangan bersama ketua Porserosi Jombang.

JOMBANG | duta.co – Hari itu, matahari belum tinggi saat Riska mulai memutar roda sepatunya di jalan aspal kampung Plandi. Tidak ada peluit pelatih, tidak ada lintasan resmi. Hanya ada deru napasnya sendiri, semangat yang terus menyala, dan mimpi yang tak bisa menunggu.

Beberapa minggu sebelumnya, namanya sempat dicoret dari daftar kontingen Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025. Bersama enam atlet sepatu roda lain dari Jombang, mereka nyaris tak berangkat ke ajang terbesar tingkat provinsi itu. Alasannya? Konflik internal di tubuh organisasi Porserosi Jombang konflik yang tidak mereka pahami, tapi harus mereka tanggung.

“Kami tetap latihan, meski dicoret. Kami tidak tahu bisa ikut atau tidak. Tapi kami yakin, kalau sudah waktunya, Allah akan buka jalan,” kata Riska, yang akhirnya berdiri di podium emas untuk nomor perorangan putri.

Riska gadis asal Plandi, salah satu atlet yang berhasil membuat harum Jombang dengan meraih mendali membungkam para para pengurus sedang rebutan jabatan yang hampir saja membunuh prestasinya dengan atlet lainnya sedang berjuang untuk membawah kejayaan kota santri.

Lintasan yang Tak Ramah, Tekad yang Tak Luntur

Mereka berlatih di trotoar. Kadang di lahan parkir swalayan. Lintasan berbayar pun harus disewa patungan. Tidak ada pelatih tetap. Tidak ada pelindung jika jatuh. Tapi tidak ada keluhan. Mereka bukan hanya atlet. Mereka adalah anak-anak yang sedang berjuang mempertahankan mimpi di tengah pusaran konflik orang dewasa.

Sementara itu, di luar lintasan, polemik organisasi mencuat ke publik. Ketua Porserosi Jombang, Sutrisno, dihujani kritik. Atlet merasa tidak dilibatkan. Pengurus disebut tidak solid. Mediasi demi mediasi dilakukan, bahkan DPRD turun tangan. Tapi di lapangan, anak-anak itu tak ikut bicara. Mereka memilih menjawab dengan kecepatan, ketekunan, dan keberanian.

Air Mata Seorang Ketua

Usai perlombaan, di bawah tribun, Sutrisno memeluk Riska. Tangisnya pecah. Bukan sebagai pejabat organisasi. Tapi sebagai seorang ayah—yang melihat anak-anak yang ia bimbing mengubah rasa sakit menjadi kebanggaan.

“Mereka luar biasa. Mereka tidak pantas jadi korban konflik. Tapi justru mereka yang menyelamatkan nama baik Porserosi Jombang,” ucap Sutrisno, tersedu.

Hasilnya mencengangkan 2 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Tak ada yang menyangka. Bahkan internal Porserosi pun nyaris tak percaya bahwa di balik kekacauan organisasi, anak-anak ini bisa berdiri di atas podium dengan kepala tegak.

Lebih dari Sekadar Medali

Medali itu bukan sekadar angka. Bukan sekadar prestasi. Ia adalah bukti bahwa semangat bisa lebih kuat dari konflik. Bahwa mimpi bisa berlari lebih kencang dari birokrasi. Dan bahwa anak-anak kecil, yang selama ini diam, bisa bersuara paling lantang lewat keberhasilan.

Hari ini, Jombang boleh bangga. Bukan hanya karena raihan medali Porprov. Tapi karena punya anak-anak yang tak menyerah, tak surut, dan tak menyimpan dendam meski sempat dikhianati oleh sistem yang seharusnya melindungi mereka.

Lintasan Masih Panjang

Mereka masih remaja. Masih ada lintasan-lintasan lain yang menunggu. Tapi kisah mereka di Porprov Jatim 2025 akan terus dikenang. Sebagai momen ketika air mata, luka, dan keterbatasan dikalahkan oleh semangat yang tak pernah berhenti berputar seperti roda di kaki mereka.

Dan mungkin, untuk sementara waktu, kita semua perlu belajar dari mereka: Bahwa dalam olahraga seperti dalam hidup yang paling berhak naik ke podium adalah mereka yang terus melaju, meski berkali-kali jatuh. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry