Oleh Bey Arifin*

DALAM dinamika Muktamar NU, Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) semestinya tidak dipandang sekadar sebagai mekanisme pemilihan Rais Aam. Lebih dari itu, AHWA harus menjadi cooling system organisasi mekanisme yang mampu meredakan ketegangan, menjaga keseimbangan, dan memastikan keputusan strategis NU lahir dari pertimbangan keulamaan, bukan dari tarik-menarik kepentingan.

Karena itu, AHWA harus ditempatkan di atas kontestasi. Anggota AHWA idealnya tidak menjadi representasi dari kepentingan kandidat, poros, atau kelompok tertentu. Mereka harus hadir sebagai penjaga marwah keulamaan dan kepentingan jam’iyah secara keseluruhan.

Di sinilah independensi AHWA menjadi sangat penting. AHWA harus lepas dari kepentingan pribadi sekaligus terbebas dari tekanan kelompok. Sebab, ketika AHWA sudah masuk ke dalam pusaran kepentingan politik internal, fungsi sebagai pendingin organisasi berpotensi berubah menjadi sumber panas baru.

AHWA bukan ruang untuk mengamankan kepentingan siapa pun. AHWA adalah ruang hikmah, amanah, dan kemaslahatan. Keputusan yang lahir dari forum tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan keulamaan, bukan sekadar menang secara matematis dalam konfigurasi politik Muktamar.

Dalam tradisi NU, kepemimpinan bukan semata-mata persoalan siapa yang mendapatkan posisi, tetapi siapa yang paling mampu menjaga amanah, persatuan jamaah, dan keberlanjutan jam’iyah. Karena itu, proses AHWA harus mengedepankan kejernihan pandangan, kedalaman ilmu, keteladanan, dan keberanian mengambil keputusan yang mungkin tidak selalu menguntungkan kelompok tertentu.

AHWA yang ideal bukanlah alat untuk memenangkan seseorang, melainkan instrumen untuk menjaga NU. Ia harus mampu menjadi penyangga ketika kontestasi mulai memanas, menjadi penjernih ketika kepentingan mulai bercampur, dan menjadi penentu ketika forum membutuhkan keputusan yang berorientasi pada kemaslahatan.

Jika AHWA mampu menjaga independensi tersebut, maka kehadirannya akan benar-benar menjadi cooling system bagi Muktamar. Sebaliknya, jika AHWA terseret dalam kepentingan pribadi dan kelompok, maka fungsi penyeimbang itu kehilangan maknanya. Cooling system tidak boleh berubah menjadi heating system.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan AHWA bukan semata-mata siapa yang terpilih sebagai Rais Aam. Ukuran yang lebih penting adalah apakah proses tersebut mampu menjaga marwah ulama, merawat persatuan warga NU, menghormati tradisi jam’iyah, dan memastikan NU tetap berdiri di atas kepentingan umat dan bangsa.

Karena itu, AHWA harus memiliki satu orientasi utama: bukan kepentingan saya, bukan kepentingan kelompok saya, tetapi kepentingan NU. Di situlah AHWA menemukan legitimasi moralnya sebagai penjaga keseimbangan dan cooling system dalam tubuh jam’iyah.

*BEY ARIFIN adalah Pemerhati NU dan Pengurus LKSPHK IKAPETE
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry