
Oleh: Dr. KH. Anang Azharie Alie, M.Pd (Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Mizan Banten)
NAMANYA terpatri kuat. Dari Banten hingga lingkar utama kepresidenan. Dan. keteladanan seorang (jenderal) tidak hanya diukur dari tingginya jabatan, tetapi juga dari kerendahan hati, kedekatan dengan ulama, dan ketulusan dalam mengayomi masyarakat.
Dalam perjalanan panjang pengabdian di institusi kepolisian, Jenderal Polisi Ahmad Dofiri menghadirkan sosok pemimpin yang patut diperhatikan bukan semata-mata karena kecerdasan, prestasi, dan jenjang kariernya yang gemilang, melainkan juga karena karakter pribadinya yang dikenal humanis, humble, bersahaja, dan rendah hati.
Predikat Adhi Makayasa Akademi Kepolisian tahun 1989 merupakan bukti keunggulan akademis dan kedisiplinannya. Perjalanan kariernya yang panjang, dari tugas operasional di lapangan hingga menduduki jabatan Wakapolri dan kemudian dipercaya sebagai Penasihat Khusus Presiden, memperlihatkan luasnya pengalaman dan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Namun, ada sisi lain yang tidak kalah penting untuk diulas dan luput dari perhatian kita: ketika pangkat semakin tinggi dan jabatan semakin strategis, seseorang tetap mampu menjaga kedekatan dengan manusia, menghormati para ulama, dan memelihara kerendahan hati.
1. Jenderal yang Humanis: Melihat Manusia, Bukan Sekadar Jabatan
Salah satu kualitas penting seorang pemimpin adalah kemampuannya menempatkan manusia sebagai pusat pengabdian. Dalam konteks kepolisian, sikap humanis berarti memahami bahwa tugas polisi bukan sekadar menegakkan aturan dan menjaga keamanan, tetapi juga melindungi martabat manusia, mendengarkan keluhan masyarakat, serta menghadirkan rasa aman dan keadilan.
“Sosok pemimpin yang humanis tidak menjadikan kewenangan sebagai alat untuk menciptakan jarak. Sebaliknya, kewenangan digunakan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat”.
Ketegasan dan kelembutan bukanlah dua hal yang bertentangan. Seorang jenderal dapat bersikap tegas terhadap pelanggaran hukum, tetapi tetap santun kepada masyarakat. Ia dapat menjalankan tugas dengan disiplin tinggi tanpa kehilangan empati.
Dalam perspektif akhlak Islam, karakter seperti ini sejalan dengan firman Allah SWT:
وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini mengajarkan bahwa kelembutan hati merupakan kekuatan moral seorang pemimpin. Ketegasan dapat menumbuhkan kepatuhan, tetapi keteladanan dan kasih sayang menumbuhkan kepercayaan.
2. Humble dan Rendah Hati: Tidak Berubah oleh Tingginya Kedudukan
Ada orang yang ketika kedudukannya meningkat, sikapnya ikut berubah. Dahulu mudah ditemui, kemudian sulit dijangkau. Dahulu bersedia mendengarkan, kemudian lebih senang didengarkan. Dahulu merasa sebagai bagian dari masyarakat, kemudian tanpa sadar menempatkan diri di atas masyarakat.
Akan tetapi, nilai seorang pemimpin justru terlihat ketika ia tidak kehilangan jati dirinya setelah memperoleh kedudukan tinggi.
Dalam gambaran tentang Ahmad Dofiri yang disampaikan di sini, sisi yang patut diapresiasi ialah kesan bahwa sikap bersahaja dan rendah hati tetap melekat meskipun tanggung jawab yang diembannya terus meningkat. Kedekatan dengan kiai, ulama, dan masyarakat bukan sekadar persoalan hubungan sosial, melainkan juga cerminan pentingnya menjaga hubungan kemanusiaan di tengah kesibukan menjalankan tugas negara.
Ketika menjabat Kapolda Banten, ia dikenal dekat dengan kalangan kiai dan ulama serta masyarakat. Kedekatan seperti ini memiliki arti strategis karena Banten merupakan daerah yang kehidupan sosialnya sangat dipengaruhi oleh pesantren, ulama, tokoh masyarakat, dan tradisi keagamaan.
Hubungan yang baik antara kepolisian dan para ulama dapat menjadi jembatan komunikasi, memperkuat persaudaraan, mencegah kesalahpahaman, dan membantu menjaga ketenteraman masyarakat.
Yang menarik, nilai kerendahan hati semestinya tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan jabatan kewilayahan. Justru ketika kewenangannya semakin besar, ia semakin membutuhkan nasihat, keterbukaan, dan kesediaan untuk mendengarkan.
_Di sinilah makna tawadu menemukan relevansinya: bukan merendahkan martabat diri, melainkan tidak membiarkan jabatan melahirkan kesombongan._
3. Dekat dengan Kiai dan Ulama: Merawat Jembatan Moral Masyarakat
Kedekatan seorang pemimpin kepolisian dengan ulama merupakan modal sosial yang berharga. Kiai dan ulama mempunyai peran penting dalam membimbing kehidupan keagamaan, mendidik akhlak, membina santri, serta membantu menyelesaikan persoalan sosial di tengah masyarakat.
Sementara itu, kepolisian bertanggung jawab menjaga keamanan, menegakkan hukum, dan melindungi warga negara.
Keduanya memiliki ranah pengabdian yang berbeda, tetapi dapat bertemu dalam tujuan bersama: menjaga kemaslahatan masyarakat.
Kedekatan tersebut tentu bukan berarti ulama harus selalu menyetujui setiap kebijakan kepolisian, atau kepolisian harus mencampuri kebebasan keagamaan. Sebaliknya, hubungan yang sehat dibangun melalui saling menghormati, komunikasi yang terbuka, dan keberanian menyampaikan nasihat secara santun.
Bagi seorang jenderal, bersedia duduk bersama kiai, mendengarkan pandangan ulama, dan berinteraksi dengan masyarakat merupakan bentuk kerendahan hati yang bermakna. Ia menyadari bahwa ilmu, pengalaman, dan kewenangan yang dimilikinya bukanlah alasan untuk menutup diri dari kearifan orang lain.
Dalam tradisi pesantren, penghormatan kepada ulama tidak hanya berkaitan dengan kedudukan mereka, tetapi juga dengan penghargaan terhadap ilmu, kebijaksanaan, dan pengabdian mereka kepada umat.
Karena itu, kedekatan Ahmad Dofiri dengan kalangan ulama dan masyarakat ketika bertugas di Banten merupakan sisi kepemimpinan yang layak diapresiasi, sekaligus nilai yang patut dipelihara oleh siapa pun yang mengemban amanah publik.
4. Kecerdasan yang Disertai Kebijaksanaan
Predikat Adhi Makayasa menunjukkan keunggulan dalam pendidikan akademi, sedangkan pengalaman di berbagai jabatan kepolisian memperlihatkan perjalanan pengabdian yang panjang.
Namun, kecerdasan seorang pemimpin tidak cukup diukur dari kemampuan menganalisis persoalan, merumuskan strategi, atau mengambil keputusan. Kecerdasan kepemimpinan juga tercermin dari kemampuan membaca keadaan, memahami karakter manusia, memilih pendekatan yang tepat, serta mengetahui kapan harus tegas dan kapan harus mendengarkan.
Seorang pemimpin yang cerdas memahami bahwa persoalan keamanan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan kekuasaan. Ada persoalan yang membutuhkan penegakan hukum, ada yang memerlukan dialog, dan ada pula yang menuntut pendekatan sosial serta keagamaan.
Di sinilah kecerdasan perlu berjalan beriringan dengan kebijaksanaan dan integritas.
Al-Qur’an mengajarkan:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Taha: 114)
Ayat ini mengingatkan bahwa ilmu tidak semestinya membuat seseorang merasa telah mengetahui segala-galanya. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari.
Pemimpin yang demikian tidak malu menerima masukan. Ia tidak menganggap kritik sebagai penghinaan, dan tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai ancaman terhadap wibawanya.
5. Dari Kapolda Banten hingga Penasihat Khusus Presiden: Jabatan Berubah, Akhlak Harus Tetap Terjaga
Perjalanan Ahmad Dofiri dari Kapolda Banten, melalui berbagai posisi strategis di kepolisian, hingga menjadi Wakapolri dan Penasihat Khusus Presiden Bidang Keamanan, Ketertiban Masyarakat dan Reformasi Kepolisian, memperlihatkan perubahan lingkup tanggung jawab yang besar.
Ketika menjadi *Kapolda* , perhatian utamanya berada pada dinamika keamanan dan ketertiban di wilayah yang dipimpinnya. Ketika menjadi *Wakapolri* , tanggung jawabnya berada dalam lingkup nasional. Sementara dalam posisi *penasihat khusus presiden* , pengalaman dan pandangannya dapat menjadi bagian dari pertimbangan strategis dalam urusan yang dipercayakan kepadanya.
Meskipun demikian, ada satu prinsip yang seharusnya tidak berubah: semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tuntutan akhlak dan tanggung jawabnya.
Jabatan bukan alasan untuk menjauh dari rakyat. Pangkat bukan alasan untuk merasa lebih mulia. Pengalaman bukan alasan untuk menolak nasihat.
Dalam Islam, kedudukan pada hakikatnya merupakan amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan.
Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa ukuran utama kepemimpinan bukan sekadar seberapa tinggi kedudukan yang berhasil dicapai, melainkan seberapa baik amanah ditunaikan.
Karena itu, apabila sikap humanis, rendah hati, dan kedekatan dengan ulama serta masyarakat terus terpelihara hingga masa pengabdian di lingkungan kepresidenan, hal tersebut merupakan nilai yang patut dijadikan teladan.
Tentu, kualitas kepemimpinan pada akhirnya juga perlu dinilai melalui keputusan, kebijakan, dan dampak nyata bagi masyarakat.
6. Keteladanan bagi Generasi Pemimpin Masa Depan
Kisah perjalanan seorang jenderal seperti Ahmad Dofiri menyimpan pelajaran yang melampaui institusi kepolisian.
Bagi santri, ia memberikan pelajaran bahwa kecerdasan perlu disertai adab.
Bagi aparatur negara, ia mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah, bukan kehormatan yang boleh digunakan untuk meninggikan diri.
Bagi pemimpin organisasi, ia mengajarkan pentingnya membangun hubungan dengan masyarakat tanpa kehilangan ketegasan dalam prinsip.
Dan bagi generasi muda, perjalanan kariernya menunjukkan bahwa prestasi akademis, disiplin, pengalaman, dan integritas dapat menjadi modal penting dalam pengabdian kepada bangsa.
Namun, ada satu pelajaran yang lebih mendalam: *_jangan sampai seseorang berhasil menaiki tangga karier, tetapi justru meninggalkan nilai-nilai luhur yang dahulu membentuk dirinya._*
Sebab, keberhasilan yang sesungguhnya bukan hanya ketika seseorang mencapai puncak jabatan, melainkan ketika ia sampai di puncak itu tanpa kehilangan kerendahan hati.
Penutup: Pangkat Boleh Tinggi, Hati Tetap Rendah
Ahmad Dofiri layak diulas bukan hanya sebagai peraih Adhi Makayasa Akpol 1989, perwira yang menempuh perjalanan panjang di Korps Bhayangkara, atau tokoh yang pernah menduduki jabatan Wakapolri dan kemudian dipercaya sebagai Penasihat Khusus Presiden.
Sisi kemanusiaannya juga penting untuk diperhatikan: karakter humanis, kecerdasan, kesederhanaan, dan kedekatan dengan kiai, ulama, serta masyarakat sebagaimana tergambar dalam pengalaman pengabdiannya di Banten.
Sebab, bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas menyusun strategi, tetapi juga pemimpin yang memiliki kejernihan hati. Tidak hanya membutuhkan pejabat yang tegas dalam menjalankan kewenangan, tetapi juga pribadi yang santun dalam memperlakukan sesama.
Ada ungkapan yang tepat untuk menggambarkan cita-cita kepemimpinan semacam ini:
“Pangkat boleh tinggi, tetapi hati jangan meninggi. Jabatan boleh bertambah, tetapi kerendahan hati jangan berkurang. Kewenangan boleh semakin luas, tetapi kedekatan dengan rakyat jangan sampai terputus.”
Pada akhirnya, kemuliaan seorang pemimpin tidak semata-mata terletak pada bintang di pundaknya, melainkan juga pada ketulusan pengabdiannya, kelapangan hatinya menerima nasihat, dan kebaikan yang dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Itulah makna seorang jenderal yang humanis: tegas dalam amanah, cerdas dalam tindakan, santun dalam pergaulan, dekat dengan ulama dan masyarakat, serta tetap tawadu ketika berada di puncak pengabdian. Wallahu A’lam Bish Showab.






































