Oleh Bey Arifin*

AGUSTUS tahun ini terasa istimewa. Ada tiga momentum besar yang datang hampir bersamaan dan masing-masing membawa pesan yang dalam: Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Muktamar NU ke-35. Ketiganya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan tiga pintu untuk melakukan refleksi tentang bangsa, umat, dan masa depan Nahdlatul Ulama.

Kemerdekaan mengajarkan kita tentang pengorbanan. Indonesia tidak lahir dari hadiah, tetapi dari perjuangan panjang para pendahulu. Kemerdekaan adalah amanah yang dibayar dengan darah, air mata, pengorbanan, dan doa. Karena itu, memperingati kemerdekaan tidak cukup dengan upacara, lomba, atau memasang bendera. Makna kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi tanggung jawab untuk menjaga persatuan, keadilan, martabat manusia, dan kedaulatan bangsa.

Kemerdekaan juga mengingatkan bahwa bangsa yang besar bukan bangsa yang melupakan sejarah. Para ulama dan santri memiliki jejak penting dalam perjuangan mempertahankan Republik. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 adalah salah satu bukti bahwa kecintaan kepada tanah air dan tanggung jawab keagamaan dapat berjalan beriringan. Bagi warga NU, nasionalisme bukan sesuatu yang harus dipertentangkan dengan agama, tetapi bagian dari tanggung jawab kebangsaan.

Maulid Nabi Muhammad SAW membawa kita pada dimensi yang lebih dalam: keteladanan. Nabi Muhammad SAW tidak hanya dikenang karena kelahirannya, tetapi karena risalah, akhlak, perjuangan, dan kemanusiaannya. Al-Qur’an menegaskan bahwa beliau adalah uswah hasanah, teladan yang baik.

Di tengah zaman yang penuh kegaduhan, Maulid seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita meneladani akhlak Rasulullah? Ketika lisan mudah menyakiti, tulisan mudah memfitnah, dan media sosial menjadi arena pertengkaran, umat justru membutuhkan kembali akhlak kenabian: kejujuran, kasih sayang, kesabaran, amanah, dan kemampuan mengendalikan diri.

Lalu Muktamar NU ke-35 menjadi momentum untuk menguji kedewasaan organisasi. Muktamar bukan sekadar pertarungan nama untuk menduduki jabatan, bukan pula arena mempertontonkan siapa yang paling kuat. Muktamar adalah forum tertinggi untuk menentukan arah perjalanan NU ke depan.

Karena itu, semakin besar NU, semakin tinggi pula tuntutan akhlaknya. Politik organisasi tidak boleh mengalahkan etika. Perbedaan pilihan tidak boleh berubah menjadi permusuhan. Kompetisi kepemimpinan tidak boleh merusak persaudaraan. Dan ambisi personal tidak boleh mengorbankan kepentingan jam’iyah.

Di sinilah tiga momentum Agustus tersebut menemukan titik temunya. Kemerdekaan mengajarkan perjuangan, Maulid mengajarkan keteladanan, dan Muktamar mengajarkan tanggung jawab. Perjuangan tanpa akhlak dapat berubah menjadi perebutan kekuasaan. Akhlak tanpa tanggung jawab kebangsaan dapat kehilangan daya transformasinya. Sementara organisasi tanpa nilai dapat kehilangan arah.

NU memiliki modal sejarah yang sangat besar. Ia lahir dari tradisi ulama, pesantren, ilmu, sanad, khidmah, dan kecintaan kepada bangsa. Karena itu, Muktamar ke-35 semestinya tidak hanya menghasilkan struktur kepengurusan baru, tetapi juga menghadirkan arah baru yang lebih bermartabat.

Momentum ini seharusnya menjadi kesempatan untuk mengembalikan politik organisasi kepada khittah pelayanan. Jabatan bukan kehormatan yang harus diperebutkan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Semakin tinggi posisi seseorang dalam NU, semakin besar pula tuntutan ilmu, adab, integritas, dan keteladanannya.

Pada akhirnya, tiga momentum besar di bulan Agustus ini berbicara tentang satu hal: bagaimana kita mewariskan masa depan yang lebih baik. Kemerdekaan harus diwariskan sebagai bangsa yang berdaulat. Maulid harus diwariskan sebagai keteladanan akhlak Rasulullah. Dan Muktamar harus diwariskan sebagai tradisi organisasi yang sehat, dewasa, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Agustus akhirnya bukan sekadar bulan perayaan. Ia adalah bulan untuk bercermin.

Sudahkah kita menjaga kemerdekaan dengan tanggung jawab? Sudahkah kita mencintai Nabi dengan meneladani akhlaknya? Dan sudahkah kita menempatkan NU sebagai amanah yang harus dijaga, bukan kendaraan untuk memenuhi ambisi pribadi?

Sebab masa depan Indonesia membutuhkan warga negara yang mencintai bangsanya. Masa depan umat membutuhkan manusia yang meneladani Rasulullah. Dan masa depan NU membutuhkan para pengurus yang memahami bahwa jabatan boleh berganti, tetapi amanah tidak boleh dikhianati.

*BEY ARIFIN adalah Pemerhati NU dan Pengurus LKSPHK IKAPETE

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry