AIDIA Creative gelar #GetTheAIDIA di Kowloon Crave & Groove 26 Januari 2026. (dok/duta.co)

SURABAYA | duta.co – Persaingan bisnis agency sangat ketat seiring perubahan tuntutan klien mengharuskan melakukan inovasi, ide kreatif dan tampil beda. Dan AIDIA Creative melalui #GetTheAIDIA, sebuah modern conceptual business talk yang dikemas lebih fun, visual, dan relevan dengan tantangan bisnis hari ini. Polanya diskusi bisnis tak lagi harus berlangsung kaku, formal, dan penuh teori.

Perubahan cara pelaku usaha belajar dan berbagi insight itulah yang dihadirkan AIDIA Creative melalui #GetTheAIDIA di Kowloon Crave & Groove 26 Januari 2026. Acara digelar malam hari dengan konsep full LED experience menjadi penanda 5th Anniversary AIDIA Creative, sekaligus Kick Off menuju 2026. Lebih dari sekadar hanya perayaan, #GetTheAIDIA tampil sebagai potret baru bagaimana industri kreatif dan dunia bisnis saling beririsan dalam format yang lebih segar.

Aldo Adela Founder AIDIA Creative (PT AIDIA Kreasi Digital) mengatakan #GetTheAIDIA lahir dari keresahan akan format seminar bisnis yang sering kali terasa jauh dari realitas lapangan.

“Kami ingin membuat business talk yang benar-benar relevan. Tidak kaku, tidak penuh jargon, tapi berbasis pengalaman nyata para pelaku bisnis. Diskusi bisnis seharusnya bisa dinikmati, sekaligus memberi insight yang bisa langsung dipakai,” ujar Aldo, Kamis (29/1).

Aldo menambahkan berbeda dari seminar bisnis pada umumnya, #GetTheAIDIA sejak awal dirancang sebagai business talk berbasis experience, memadukan edukasi, networking, dan apresiasi klien dalam satu rangkaian acara.

“Tema yang diangkat pun sangat kontekstual, mulai dari Social Media Landscape 2026, digital marketing, offline marketing, marketplace, hingga pemanfaatan AI sebagai pendorong efisiensi bisnis dan industri kreatif.”

Aldo menegaskan seluruh materi dibawakan oleh praktisi dan pelaku bisnis, bukan sekadar teori. Hal ini, menurut Aldo, menjadi pembeda utama.

“Di AIDIA, kami percaya pertumbuhan bisnis tidak dibangun dari janji viral, tapi dari sistem yang rapi dan efisiensi kerja. Itu juga yang kami bawa ke #GetTheAIDIA,” katanya.

Awalnya, acara ini dirancang secara intim dengan jumlah peserta terbatas. Namun, antusiasme yang tinggi membuat jumlah kehadiran membengkak hingga hampir 150 peserta, terdiri dari CEO, C-Level, business owner, entrepreneur, hingga kreator di Surabaya.

Dalam pemaparannya, Aldo juga menyinggung dinamika industri kreatif yang semakin kompetitif. Ia menilai, di tengah maraknya agency baru, pelaku bisnis perlu lebih cermat memilih mitra kreatif.

“Sekarang banyak agency yang menjual viralitas tanpa sistem. Padahal, tanpa sistem yang jelas, hasilnya tidak berkelanjutan. Agency seharusnya menjadi partner pertumbuhan bisnis, bukan sekadar pembuat konten,” tegasnya.

AIDIA Creative, lanjut Aldo, memposisikan diri sebagai creative partner yang powered by AI, namun tetap berbasis sistem dan kontrol manusia. AI digunakan sebagai booster efisiensi, bukan pengganti peran kreatif manusia.

Pendekatan ini pula yang membuat AIDIA dikenal sebagai creative agency Surabaya yang mengerjakan kebutuhan branding, social media agency, digital marketing, hingga content creator / content marketing secara terintegrasi.

Selain Aldo Adela, #GetTheAIDIA juga menghadirkan sejumlah pelaku bisnis dari berbagai sektor. Diskusi berkembang dari strategi marketplace yang sehat, pentingnya margin dan product-market fit, hingga peran event offline sebagai brand activation yang masih relevan di era digital. Benang merah dari seluruh sesi menegaskan satu hal: pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan selalu dimulai dari strategi yang benar, bukan jalan pintas.

Danny Sim — CEO Spencer’s Indonesia menegaskan bahwa digital marketing hanya bekerja optimal jika fondasi produknya benar. Banyak bisnis gagal bukan karena iklannya, tetapi karena margin tidak sehat atau produk belum benar-benar diterima pasar (product-market fit). Digital marketing adalah amplifier, bukan penolong produk yang salah.

“Untuk bisa scale secara digital, bisnis harus memastikan struktur margin aman, demand nyata, dan positioning jelas. Dengan fondasi itu, digital marketing bisa mendorong pertumbuhan signifikan dan berkelanjutan,” ujarnya.

Co Founder & Creative Director AIDIA Creative, Pamela Felita, menyoroti perubahan besar media sosial yang kini telah bertransformasi menjadi media utama, bukan sekadar ruang bersosialisasi.

Sementara itu, Adelia Yulianti, Co Founder sekaligus Direktur Operasional AIDIA Creative, membagikan praktik nyata penggunaan AI dan sistem kerja untuk menjaga kualitas sekaligus kecepatan eksekusi.

Sebagai penutup, Aldo Adela menyebut #GetTheAIDIA bukan tidak mungkin berlanjut ke edisi berikutnya, melihat antusiasme peserta yang tinggi.

“Kalau industrinya terus bergerak, diskusinya juga harus terus hidup. Kami ingin #GetTheAIDIA menjadi ruang belajar dan bertemu yang relevan bagi pelaku bisnis dan industri kreatif,” pungkasnya.

Melalui format yang modern dan konseptual, AIDIA Creative menegaskan posisinya bukan hanya sebagai branding agency, tetapi sebagai mitra strategis yang memahami perubahan zaman—menggabungkan kreativitas, sistem, dan teknologi dalam satu ekosistem yang terarah. Imm

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry