Kepala Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, membenarkan, Afi diundang oleh pihak Istana Kepresidenan pada upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, pada 1 Juni 2017.
“Istana mengundang Afi untuk hadir di Peringatan Hari Lahir Pancasila,” kata Bey, Rabu (31/5/2017).
Bey mengatakan, Afi akan bertemu Presiden Jokowi di upacara tersebut. “Karena diundang ke upacara, nantinya akan bertemu Presiden,” kata Bey.
“I’m not afraid. Di belakang saya, ada Banser, GP Ansor NU. Waktu itu dari pusat mengutus cabang mereka di Banyuwangi untuk melindungi saya. Tuhan juga melindungi saya,” ujar Afi.
Tidak hanya diancam dibunuh, tulisan ‘Warisan’ Afi juga tak lepas dari ‘bully’ serta tudingan miring.
Ada netizen yang mencaci maki Afi dengan kata-kata kasar hingga menuduh Afi sebagai misionaris Kristen.
Menyakitkan bagi Afi, namun ia menghadapinya dengan kepala dingin.
“(Jika saya membalasnya), apa bedanya saya dengan mereka?” katanya.
Jika memang sudah tak tahan atas bully dan tudingan miring itu, paling-paling Afi memblokir akun tersebut.
Afi berpendapat, netizen yang berkata-kata kasar, mempunyai persoalan sendiri di kehidupannya. Kata-kata kasar tersebut pun merupakan pelampiasan semata.
“Jadi kalau sudah sangat menyerang personal, misalnya dia menumpahkan sampah ke saya, ya mungkin dia punya masalah di kehidupan lain lalu menumpahkannya di status saya, ya saya akan blokir,” ujar Afi.
“Kalau niatnya mengkritik dan dia kritiknya pakai nalar atau dalam artian kita bisa sama-sama diajak berpikir, ya sudah saya terima kritikannya dengan senang hati,” lanjut dia.
Namun yang pasti, bullying, tudingan miring hingga ancaman pembunuhan tidak akan membuat Afi berhenti menyebarkan pesan perdamaian bagi umat beragama.
“Kita harus mengasihani. Semua agama dan aliran kepercayaan menyuruh kita berbuat demikian,” ujar Afi. * det, ros