JAKARTA | duta.co – Publik terheran-heran, bagaimana bisa agenda adu visi-misi Capres-Cawapres bisa batal anya karena salah satu pasangan ingin diwakilkan, dan tidak mau tampil langsung. Walhasil, pembatalan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) ini terus menuai kecaman publik.

Ketua KNPI Sumatera Utara Sugiat Santoso bahkan mencium ada kecacatan dan aroma pengkhianatan terhadap nilai-nilai luhur demokrasi. “Jelas ada pengkhianatan terhadap demokrasi. Karena publik akhirnya tidak mampu mengukur calon pemimpinnya yang cakap dan mampu memahami persoalan sekaligus meramu solusi atas permasalahan yang ada di tengah publik,” kata Sugiat seperti diberitakan RMOLSumut, Senin (7/1).

Publik, lanjut Sugiat, punya hak untuk tahu bagaimana isi kepala capres. Untuk itu, mereka harus menyampaikan sendiri visi dan misi yang akan diusung dalam membangun Indonesia ke depan, bukan diwakili oleh tim sukses.

Sugiat menduga ada gelagat yang tak wajar dalam pengambilan keputusan oleh KPU dengan membatalkan jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya.

“Saya melihat ini pertanda ada intervensi di dalam KPU yang dilakukan salah satu calon pasangan yang tak siap. Kalau bukan karena alasan salah satu capres, apa alasan yang tepat dari KPU untuk membatalkan jadwal itu?” sambungnya.

Dugaan Sugiat semakin menguat manakala di media sosial, publik meributkan salah satu pasangan yang ingin agar paparan visi dan misi disampaikan tim kampanye.

“Ini gawat, terkesan KPU mengakomodir satu sisi, sehingga kemudian tidak berani melanjutkan acara yang sudah dijadwalkan. Aroma intervensi semakin menguat,” tandas Sugiat. (ian)