Gus Yasien saat berada di lokasi sebelum kericuhan. (FT/MKY)

SURABAYA | duta.co – Ada dua kabar menyusul  ‘Aksi Brutal Pembubaran IKA GP Ansor’ di halaman Museum NU, Jumat (17/6/22). Pertama, Banser Kota Surabaya meminta maaf kepada Ketua DPD RI, H La Nyalla Mahmud Mattalitti karena harus menghentikan paksa pidatonya.

Kedua, ada yang justru menyoal pidato Ketua DPD RI dan menilainya politis. Saya menyaksikan sendiri pernyataan mereka. Ini kelewatan. Apakah mereka tidak tahu, kalau DPD itu kepanjangan dari Dewan Perwakilan Daerah. Adalah tepat, kalau orang tua-tua itu mendengar pesan Ketua DPD RI, Pak Nyalla,” demikian Tjetjep Mohammad  Yasien, di ruang redaksi duta.co, Kamis (23/6/22).

Proses Hukum

Seperti diberitakan, Wakil Ketua Banser Kota Surabaya, Zainul Arifin, menjelaskan, kericuhan itu terjadi ketika massa PC GP Ansor Surabaya memprotes kepada pihak penyelenggara dan berujung bersitegang hingga kericuhan di luar kendali terjadi, dimana disaat itu bersamaan pada pemutaran video La Nyalla sebagai undangan memberikan pidato sambutan melalui rekaman Video.

Atas peristiwa tersebut, Zainul dengan tegas menyatakan Ansor Banser Surabaya tidak tahu jika di video tersebut ada pidato sambutan dari Ketua DPD RI lewat video tersebut. “Jadi saya tegaskan kembali, kejadian tersebut murni tidak ada unsur kesengajaan merusak atau memotong pidato Bapak Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti sebagai Ketua DPD RI atas undangan dari pihak penyelenggara acara tersebut,” kata Wakil Ketua Banser Kota Surabaya, Zainul Arifin, Rabu (22/6) kepada RMOLJatim.

Padahal, menurut Gus Yasien, panggilan akrabnya, semua tahu ada pidato Ketua DPD RI. Saat itu kita sedang serius menyimaknya. “Tetapi, mereka datang dalam kalap. Jauh dari akhlak nahdliyin. Apalagi setelah itu, Cak Anam sendiri menjelaskan, bahwa, ada pidato Pak Nyalla. Tapi yang saya dengar mereka malah menantang-nantang anak PP. Ini jelas bukan budaya nahdliyin,” tambah Gus Yasien serius.

Soal Banser Surabaya minta maaf, tegasnya, itu baik-baik saja. Tetapi, hukum tidak boleh berhenti dengan minta maaf. “Ini preseden buruk. Saya salut, angkat topi kepada para mantan pengurus Ansor yang sabar, tidak melakukan perlawanan. Sericuh itu tidak ada yang lecet. Tetapi, barang-barang yang hilang, tidak boleh dibiarkan, harus ada proses hukum. Kita tunggu saja,” tegas pengacara senior ini. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry