SURABAYA | duta.co — Tepuk tangan puluhan ribu massa terus menggema di Dyandra Convention Center, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/4/2019). Saat itu, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo diberi kesempatan pidato kebangsaan di acara Kampanye Prabowo Subianto.

Jatahnya cuma 3 meneti, tetapi, Gatot menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Sebanyak tiga kali, mantan Panglima TNI itu bersyukur karena bisa berdiri di depan hadirin yang, disebutnya sebagai para pejuang. Ia mengaku datang atas permintaan langsung Prabowo.

“Saya datang ke sini, tidak ada lain, karena merah putih, karena negara dan bangsa memanggil. Untuk negara, bangsa dan rakyat Indonesia. Atas telepon Pak Prabowo, saya diminta hadir bicara masalah kebangsaan di sini,” tegasnya.

Gatot menyampaikan tiga point penting masalah kebangsaan. Diantaranya masalah internasional, nasional dan pertahanan (perang). “Masalah internasional yang harus kita waspadai betul-betul adalah masalah global citizen, atau penduduk global. Mereka tidak membicarakan masalah bangsa, karena kebangsaan (menurut mereka) menghabat globalisasi,” tegasnya.

Ia kemudian menjelaskan perbedaan Indonesia dan Amerika Serikat. “Sedikit saja perbedaan antara kita dengan Amerika. Kalau Amerika negaranya dulu terbentuk, baru bangsanya dibentuk. Kalau Indonesia, bangsa dulu ada, baru negara terbentuk. Jadi (negara ini) bisa hilang dengan global citizxen tadi, karena siapa saja bisa masuk ke negara lain, yang penting punya duit dan punya izin,” tegasnya.

Ia lalu menyebut contoh sebuah daerah di Jawa Timur, tepatnya Kepanjen, Malang. Di sini sudah dibuat superblock (kawasan tertentu). Setelah itu dimainkan harga (NJOP), sehingga pajak pun naik. “Kira-kira petani sanggup nggak? Pergi dia, minggir. Penduduk negara lain bisa di situ,” Gatot mengingatkan.

Contoh lain di Betawi, atau juga Singapura. Di mana sekarang penduduk (asli) Singapura? “Kalau kita tidak waspada, maka, zaman penjajahan kita (jadi) pembantu, zaman kemerdekaan (jadi) pembantu, sekarang pun pembantu dan nanti juga jadi pembantu,” tegasnya.

Inilah yang menurut Gatot, benar-benar harus diwaspadai. Sebagai negara, Indonesia tidak akan hilang, tetapi bangsa Indonesia bisa hilang.

Kedua, bicara soal kondisi nasional. Ada satu hal yang kritis, bahwa kekuatan inti bangsa Indonesia, itu sesungguhnya adalah bersatunya TNI dan rakyat. Kalau TNI-nya kuat, rakyatnya kuat, negara mana pun tidak akan bisa (mengalahkan).

“Sudah terbukti, di kota ini, pada saat TNI masih bayi, berumur beberapa bulan, tiba tiba sekutu akan menyerang, dan mendarat di sini. Karena rakyat dan TNI-nya bersatu, maka, senjata termodern pun kalah dengan bambu runcing. Di tempat ini,” urainya.

Gatot juga menyoroti kebijakan anggaran. Saat ini tak kalah kritis adalah segi anggaran. “Saya tidak menyalahkan siapa pun juga, tapi, ini saya perlu informasikan karena saya mantan TNI. (Tujuannya) agar rakyat bersatu, jangan terpecah-pecah,” pintanya.

Bahwa dari segi anggaran, pada saat dirinya menjabat Panglima TNI, terjadi ketimpangan. “Saya sudah berusaha sekuat mungkin, tapi saya tidak berdaya,” ujarnya.

APBN-P TNI, urainya, yaitu (meliputi) Departemen Pertahanan, Mabes TNI, Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, di mana jumlah personelnya lebih dari 455 ribu, dan mempunyai ratusan pesawat terbang, tempur, ribuan pasukan perang, ribuan tank dan senjata berat. “Anggarannya hanya 6 triliun lebih,” jelasnya.

Tetapi, ada institusi yang tidak punya pesawat tempur, senjatanya pendek dan ada senjata panjang sedikit saja, jumlah personelnya tidak sampai 3 ribu, tetapi anggarannya 4 triliun, dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) 17 triliun.

“Tidak ada yang salah, semuanya benar-benar saja, tetapi, ini adalah — dari segi anggaran —  mengecilkan Tentara Nasional Indonesia,” tegasnya.

Selanjutnya, warning Gatot, yang paling penting bagi tentara adalah moralitas dan semangat juangnya. Ini pun (sekarang) dipaprasi. “Begitu saya turun, maka, semua yang terbaik dicabut,” keluhnya.

Ia menyebut banyak jabatan strategis di TNI diisi oleh orang-orang yang bermasalah. Pencopotan Mayjen TNI Ilyas Alamsyah Harahap dari jabatan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI (Kabais) termasuk yang disesali Gatot.

Padahal, jelasnya, ia menganggap Mayjen Ilyas memiliki peran penting dalam menumpas kelompok teroris Santoso di Poso, Sulawesi tengah. Tercatat, Mayjen Ilyas pernah menjadi komandan kolakops TNI Tinombala.

Selain itu, ia juga menyebut pencopotan Direktur A Komandan Satuan Tugas intelijen (yang membongkar senjata), Panglima Divisi Infantri I, Panglima Divisi Infantri II, dan Komandan Jenderal Kopassus. “Mereka dicopot, dan sekarang tanpa jabatan,” katanya.

Hadir dalam pidato kebangsaan tersebut para petinggi Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo-Sandiaga, antara lain Fuad Bawazier, Dahnil Anzar Simanjuntak, Sudirman Said, Sufmi Dasco Ahmad, Ahmad Riza Patria, Eddy Soeparno dan Priyo Budi Santoso.

Selain itu hadir pula beberapa tokoh nasional antara lain mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, mantan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli, mantan Ketua KPK Bambang Widjojanto, mantan komisioner Komnas HAM Natalius Pigai, mantan Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Syafrie Sjamsoeddin dan mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih. (mky,dtc)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.