
SURABAYA | duta.co – Puncak Hari Santri Nasional (HSN) 2025 dipastikan lebih seru. Sejumlah daerah sudah ancang-ancang menggelar acara, terutama dalam menyambut penulisan kembali sejarah bangsa. Tak ketinggalan Museum NU, bakal menggelar diskusi perihal Revitalisasi Resolusi Jihad 1945 yang tidak lepas dari peran Kiai dan Santri.
“Ini (Resolusi Jihad) kemudian melahirkan 10 November 1945 yang kemudian dikenal dengan Hari Pahlawan. Peran kiai dan santri sangat besar dalam mempertahankan NKRI di tengah gempuran kolonial yang ingin kembali menguasai negeri kita tercinta, Indonesia,” tegas Prof Dr Mukhrojin, Pembina Museum NU, Surabaya kepada duta.co, Kamis (31/7/25).
Menurut Prof Dr Mukhrojin, fatwa Resolusi Jihad oleh almaghfurlah Hadratussysyaikh KH Hasyim Asyari harus terpatri kuat dalam sejarah bangsa. Bukan hanya untuk warga NU, tetapi, seluruh anak bangsa. “Hari ini ada semangat menulis kembali sejarah bangsa. Ini momentum kuat untuk membangkitkan rasa nasonalisme terhadap NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),” tegasnya.
Pesantren Award 2025
Kementerian Agama juga akan menggelar Pesantren Award 2025. Direktur Pesantren pada Ditjen Pendidikan Islam Basnang Said mengatakan ajang ini dihelat untuk memberikan penghargaan kepada semua pihak yang turut aktif berpartisipasi memajukan pesantren.
“Inisiasi Pesantren Awards ini merupakan salah satu bentuk penghargaan kami kepada semua pihak yang turut aktif berkontribusi memajukan dunia pesantren,” kata Basnang Said saat memberi sambutan pada Focus Group Discussion (FGD) yang membahas instrumen penilaian Pesantren Award, Rabu (30/7/2025) di Jakarta.
Basnang menambahkan bahwa Pesantren Awards disiapkan sebagai bagian dari perayaan Hari Santri 2025. “Awardingnya akan disampaikan sebelum malam puncak Hari Santri pada 22 Oktober mendatang,” sebutnya.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Arskal Salim menuturkan bahwa Pesantren Awards baru kali pertama akan diselenggarakan Kemenag. Untuk itu, persiapannya harus matang dan instrumen penilaiannya harus relevan.
“Ini penghargaan Pesantren Awards perdana kita selenggarakan, persiapannya harus matang dan tentunya relevan,” tutur Arskal
“Penilaian dalam Pesantren Awards ini harus terukur dan terbuka sehingga hasilnya pun objektif dan tidak dapat diganggu gugat,” lanjutnya.
Direktur BUMD, BLUD dan BMD Kementerian Dalam Negeri Yudia Ramli berharap ada kategori Kepala Daerah pada Pesantren Awards 2025. Kategori ini bisa menjadi wake up call para pemangku kebijakan di daerahnya masing masing untuk lebih memperhatikan pesantren. Sebab, pesantren menjadi entitas penting yang telah berkontribusi besar bagi Negara.
“Kami berharap Pesantren Awards ini bisa menjadi wake up call untuk Kepala Daerah sehingga eksistensi Pesantren lebih diperhatikan,” tutur Yudia.
Pesantren Awards akan menilai empat kategori Penghargaan, yaitu: Pesantren Transformatif, Santri Inspiratif, Kepala Daerah, dan Lifetime Achievement.
Hadir dalam kegiatan ini Ketua Tim Penilai Pesantren Awards Alisa Wahid, Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Arskal Salim, Direktur Pesantren Basnang Said, Direktur BUMD, BLUD dan BMD Kemendagri Yudia Ramli, Tim Ahli Pesantren Awards Darwis Hude dan Para Kasubdit di Lingkungan Direkorat Pesantren. (mky,kemenag.go.id)






































