SURABAYA | duta.co – Dana masjid tidak kecil. Soal kekuatan masjid ini, dibahas dalam pembedayaan ekonomi masyarakat yang menjadi fokus Rakerwil Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jatim. Sejumlah langkah dilakukan untuk menjadikan masjid sebagai salah satu penjaga perekonomian jamaah.

Ketua DMI Pusat, HM Jusuf Kalla mengungkapkan, pentingnya langkah memakmurkan dan jamaah bisa dimakmurkan masjid. “Sesuai tema pertemuan kali ini, bagaimana memberdayakan perekonomian jamaah. Karena, saat ini terjadi ketimpangan (ekonomi) umat Islam,” ungkapnya saat membuka Rakerwil DMI Jatim bertema Masjid Sebagai Pusat Pemberdayaan Jamaah, di Surabaya, Senin (20/12/2021).

Sejumlah upaya telah dilakukan DMI Pusat, salah satunya dengan melakukan pembicaraan dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) terkait informasi pembiayaan. “Jika kita tidak berusaha berhubungan dengan bank syariah, dana itu akan dinikmati pengusaha besar. Sehingga makin jauh gab atau kesenjangan (perekonomian)-nya,” tambahnya.

Jusuf Kalla juga menyinggung peran Gubernur Khofifah yang bisa memperkuat pemberdayaan ekonomi jamaah lewat OPD (Organisasi Perangkat Daerah). “Mungkin di tempat ini ibu Gubernur bisa mengirim Dinas Perindustrian bicara di masjid, Dinas Perdagangan, Dinas UMKM. Sehingga jamaah tidak hanya mendapat ceramah dari sisi ibadah saja, tetapi bagaimana memberdayakan masyarakat,” papar mantan Wakil Presiden RI ini.

Dengan 43.000 masjid yang ada Jatim dan terbanyak dibanding daerah lain, akan menjadi kekuatan tersendiri untuk menyebarkan semangat kemandirian ekonomi. Dirinya menyontohkan, Jika pada hari Jumat tiap masjid dihadiri 1.000 jamaah, maka 43 juta orang mendengarkan ceramah bagaimana memakmurkan dan dimakmurkan masjid hal ini merupakan hal luar biasa.

“Paling tidak sekian juta orang memahaminya, maka akan memperpendek gab ekonomi jamaah. Karena hanya masjid yang bisa mempersatukan semua orang,” terang Jusuf Kalla.

Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, berharap DMI Jatim bisa berseiring dengan upaya memakmurkan masjid. Transformasi digital memungkinkan bisa memberikan percepatan pemberdayaan di lingkungan masjid.

“Remaja masjid bisa dimaksimalkan bagaimana transformasi digital menjadi pintu masuk terutama kawasan industri halal bagi UMKM,” ujarnya.

Di Jatim memiliki pusat industri halal pertama di Sidoarjo. Saat ini sudah melakukan MoU  dengan BSI, Bank Himbara dan Bank Jatim. “Indonesia importir terbesar halal food berharap menjadi eksportir halal food. Saat ini terbesar eksportir halal food Brazil dan Australia,” ungkap Khofifah. (zal)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry