
SURABAYA | duta.co – Sistem Syarikah banyak dikeluhkan Jemaah haji. Penerapan sistem pengelompokan jemaah haji model syarikah dalam penyelenggaraan haji 2025 ini, benar-benar memicu kebingungan jemaah.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Maman Imanul Haq kepada times.co.id meminta Menteri Agama segera melakukan evaluasi agar tidak mengganggu kenyamanan ibadah jamaah haji Indonesia.
Kiai Maman mengungkapkan bahwa penerapan sistem syarikah yang terkesan mendadak ini telah mengacaukan pengelompokan kloter yang sebelumnya sudah terencana dengan baik dari tanah air.
“Akibatnya, banyak jemaah suami istri yang terpisah, serta jemaah lanjut usia yang terpisah dari pendamping yang sangat mereka butuhkan,” kata legislator Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, Selasa (13/5/2025).
Redaksi duta.co, Selasa (13/5/25) juga menerima sejumlah informasi jemaah haji, baik dari tanah air maupun dari tanah suci terkait system syarikah. “Ribet! Keponakan saya mengeluh. Mestinya berangkat bersama kloter 36. Tahu-tahu harus bersiap-siapkan berangkat dengan kloter 25.
“Itu baru tahu Kamis pagi, harus berangkat Kamis siang pukul 14.00 wib. Apa tidak kelabakan. Bagaimana dengan jamaah yang sepuh-sepuh? Bagaimana pun mereka di tanah suci?,” demikian seorang pembaca duta.co usai membaca kabar ‘Lombok Menangis’.
Sahat Fim, menginformasikan dari tranah suci. Katanya, insyaa Allah untuk Jemaah dari Jawa Timur sudah beres terkait dengan penataan kloter. Mereka telah ‘dibongkar pasang’ menyesuaikan “one kloter one syarikah“. “Seluruh DPD KBIHU di Jawa Timur rupanya ikhlas dan ridlo kloter diacak-acak. Sehingga untuk kepentingan satu syarikah, jamaah KBIHU bisa terpecah-pecah menjadi 3, 4, 5 bahkan 6 kloter,” katanya dengan nada lemas.
Kami, katanya, di Jawa Timur in syaa Allah termasuk yang awal mengadakan meeting dengan seluruh DPD untuk mbahas masalah itu. “Tapi ada yang belum tuntas. Dan masalah lain lagi, ini tak bisa selesai dengan nasehat bahwa setiap soal pasti ada jawabannya. Dan itu bukan soal penataan kloter satu syarikah,” infonya.
Apa itu? Dengan adanya penanganan oleh syarikah ini, tahu nggak, suami istri yang terpisah Syarikah, diizinkan mengajukan permohonan untuk gabung 1 kloter. Dan memang akhirnya berangkat satu kloter.
“Masalahnya muncul ketika mereka hijrah dari Medinah ke Mekah, mereka dipisah lagi hotelnya. Berangkatnya dari Madinah juga tidak bersamaan. Belum lagi ketua kloter yang berangkat satu kloter ternyata berpisah dengan jamaahnya. Pembimbing KBIHU juga terpisah dari jamaahnya. Ini harus disuarakan, dan di dengar oleh Kemenag,” tegasnya.
“Kami tidak komplain ke DPP, karena kami tahu DPP bukan operator haji. Kami bersuara di group ini dengan harapan suara kami mewakili jamaah agar didengar para pejabat yang bisa mengambil tindakan untuk solusinya. Bayangkan kalau masalah ini tidak ada yang menyuarakan, dan semua hanya mengadalkan “nasehat agar jamaah bersabar”, terus kapan ada pembenahan,” urainya.
Ada juga jemaah yang berteriak keras. Meski diawali dengan mohon maaf dan Bismillah, katanya tahun 1446 H/2025 M adalah penyelenggara haji paling jelek. Ia kemudian menulis detail masalah tersebut. Pertama, untuk menemukan koper sampai ada yang sudah 3-4 hari dan itu belum ketemu. Kedua, soal kartu nusuk yang katanya nyawa ke ll, tapi sampai evakuasi ke Makkah baru terbit 50%. Ketiga, proses ke Rawdhoh H-1 cek out ke Makkah baru ada jadwal.
Keempat, proses cek out dari Madinah ke Makkah, jemaah dibiarkan berkeleleran karena satu kloter ditangani oleh 5 Syarikah. Anehnya Ketua kloter dan Bimbad berangkat duluan bersama sejumlah jemaah. Biasanya justru petugas lloter yang brangkat paling akhir.
Kelima, satu kloter terbagi 5 syarikah ada hanya 8 jamah, 6 jama’ah, 1 jama’ah dll. Mestinya petugas berangkat paling akhir, karena mengkondisikan Jemaah. Keenam, suami istri terpisah bis. Ini mestinya tidak boleh terjadi. Ketujuh pendamping yang fungsinya mendampingi kemana-mana dari tempat ke tempat termasuk kebutuhan privasi, ini malah dipisah.
Kedelapan, ada dalam 1 bus isinya 3 karom, 4 Karu, tapi disisi lain sama sekali tidak ada Karom dan Karunya, sementara jemaah kita 80% lansia dan risti yg masih sangat membutuhkan pendampingan. Kesembilan, petugas kesehatan terpisah dengan jemaahnya, bagaimana kalau ada masalah kesehatan dalam perjalanan.
Kesepuluh, jadwal evakuasi tidak jelas, selalu berubah-ubah, katanya brangkat jam 7. Turun 2 jam sebelumnya, sampai jam 9.30 belum ada kepastian jemaah gelisah dan pada sakit. “Ini masalah serius, semoga pemerintah dalam hal ini Kemenag cepat tanggap,” jelas seorang Jemaah kepada duta.co. (mky, net)






































