“Jikalau dulu pada awal munculnya televisi memakan korban terbunuhnya sang raja, apakah ke depan akan juga demikian? Suatu hal yang telah memunculkan kekhawatiran. Bisa jadi, ini pula yang dipesankan Said Aqil Siradj.”

Oleh: Achmad Murtafi Haris*

DALAM salah satu ceramahnya, KH Said Aqil Siradj berpesan kepada pemerintah Indonesia agar mewaspadai dinamika politik mutakhir di Arab Saudi. Pesan sang Ketua Umum PBNU yang telah mengecam pindidikan cukup lama di Universtias Umm al-Qura Mekah hingga selesai S3 ini, tentu mengandung potensi kebenaran yang tinggi.

Apa yang terjadi belakangan di negara itu, memang, tidak bisa diabaikan begitu saja. Misalnya, pemberian izin kepada kaum perempuan mengendarai mobil sendiri, dibukanya kembali gedung bioskop, diperbolehkannya perempuan menyaksikan bola di tiga stadion tertentu, diberikannya visa wisatawan (berarti penggalakan industri wisata) dan dijadikannya maulid nabi sebagai hari libur, adalah pemandangan baru yang akan nampak sebentar lagi di negara pemilik dua tempat suci Islam tersebut.

Perubahan di atas bukanlah suatu hal yang sederhana bagi Saudi yang, menganut faham Islam ultra konservatif. Dalam urusan perempuan misalnya, banyak aturan yang semula harus diikuti. Jangankan mengendarai mobil sendiri, keluar rumah saja harus didampingi seorang muhrim (mahram) pandangan fiqih yang mereka anut.

Dibukanya kembali bioskop juga menjadikan dunia hiburan legal setelah sekian lama dilarang. Rencana Saudi untuk menggalakkan dunia wisata meniru kesuksesan Uni Emirat Arab, sudah pasti akan menggalakkan industri yang tidak lepas dari hiburan malam dan banyak hal yang nyerempet ‘haram’.

Perubahan yang menjurus kepada hedonisme sangat besar akan direnpos keras oleh ulama ultra konservatif yang selama ini berkuasa. Saudi pun telah merasakan pahit getirnya perubahan yang pernah mereka lakukan yaitu perubahan yang mengarah pada modernisasi kehidupan.

Pada 1975 negara monarki absolut itumenyaksikan tragedi yang sangat memilukan yaitu terbunuhnya Raja Faisal b. Abd al-‘Aziz akibat dari kebijakannya memodernisasi negara. Dia yang dibunuh oleh keponakannya sendiri, Faisal b. Musaid, terkenal sebagai penguasa yang pertama kali memodernisasi negara dan memperkenalkan televisi, suatu hal yang dikhawatirkan akan menampilkan tayangan-tayangan terlarang atau tabu dalam pandangan konservatif.

Masalah konten televisi adalah masalah yang besar bagi masyarakat Saudi. Mereka menscreeningnya sedemikian rupa sehingga tidak nampak tayangan perempuan yang menonjolkan kecantikan. Seumur-umur tidak pernah ada wanita yang tidak berhijab tampil di televisi Saudi. Hanya istri Waleed b. Talal, orang terkaya di Saudi, yang pernah muncul tanpa menggunakan hijab.

Ke depan, kemungkinan besar akan berubah dan tidak seketat itu lagi. Jikalau dulu pada awal munculnya televisi memakan korban terbunuhnya sang raja, apakah ke depan akan juga demikian? Suatu hal yang telah memunculkan kekhawatiran, barangkali ini pula yang dipesankan Said Aqil Siradj saat itu.

Di satu sisi, Saudi harus memaklumi, meski screening sedemikian ketat, tantangan keterbukaan tidak terbendung. Acara televisi bisa dikontrol ketat, tapi di sisi lain antena parabola yang bisa menjangkau acara tv di Eropa dan Amerika dan pelbagai belahan dunia ada di mana-mana dan, bahkan dimiliki oleh banyak rumah tangga di Saudi.

Acara yang bebas sensor dan menyajikan hiburan orang dewasa pun masuk ke dalam rumah dan menjadi tontonan mereka. Dari sini maka screening acara televisi menjadi tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan derasnya tayangan bebas yang bisa diakses melalui antena parabola. Kemajuan teknologi telah membuka sekat-sekat normatif dan menjadikan lembaga sensor pemerintah tidak berguna.

Demikianlah! Kerajaan Saudi pada akhirnya harus menerima kenyataan tidak terbendungnya arus transformasi global dan harus mengubah dirinya menjadi realistis terhadapnya. Tinggal sekarang mampukah kerajaan Saudi yang dipimpin oleh Raja Salman dan putra mahkotanya Mohammad b. Salman menghadapi reaksi ulama ultra konservatif yang selama ini telah mewarnai Saudi dengan model penerapan syariat yang ketat dan kelompok Islam garis keras yang terselubung dan bisa jadi menyembul ke permukaan saat terjadi perubahan drastis di negaranya.

Perlu diketahui bahwa negara Saudi Arabia menyimpan potensi radikalisme yang sangat besar, hal itu setidaknya nampak dalam dua kejadian besar, yaitu Kudeta Berdarah pada 20 November 1979 di Masjid al-Haram dan Pengeboman Gedung Menara Kembar World Trade Center pada 11 September 2001.

Kejadian pertama mengorbankan banyak nyawa dan menjadikan tempat suci bersimbah darah. Juhaiman al-Utayby bersama 500 rekannya memimpin pemberontakan dengan menguasai Masjidil Haram dan menjadikan jamaah sebagai sandera. Mereka beranggapan bahwa kerajaan Saudi dengan modernisasi yang dilakukan telah menodai kesucian negara dan karenanya kekuasaan keluarga Sa’ud harus diakhiri dan digantikan oleh kakak iparnya, Abdullah Hamid Mohammad al-Qahtan yang diyakini sebagai imam mahdi yang telah hadir.

Pasca empat tahun terbunuhnya Raja Faisal ternyata angin perubahan yang dihembuskan oleh almarhum masih menyimpan bara dalam sekam yang kembali membakar negara. Kebijakan kerajaan yang pro Barat dan tuduhan korupsi menjadikan mereka nekat untuk melakukan kudeta meski pemerintah dalam kondisi sangat kuat.

Kejadian kedua yaitu operasi bunuh diri, menabrakkan pesawat ke gedung kembar Amerika pada 2001 adalah kejadian paling tragis dalam sejarah peradaban manusia, di mana itu dilakukan hampir kesemuanya oleh warga Saudi. Mereka yang berada di bawah asuhan Osam b. Laden mempersiapkan serangan di Hamburg Jerman hingga akhirnya berhasil melakukan pembajakan empat pesawat dan melakukan serangan yang menewaskan lebih dari 3000 orang yang sedang berada di gedung pusat perdagangan dunia itu.

Motif anti-Barat dan tuduhan penyimpangan dari ajaran Islam akibat keterbukaan yang dilakukan oleh kerajaan, telah terbukti memantik emosi kaum radikal untuk melakukan aksi pengembalian negara ke jalur semula yang ketat, yang menjauhkan kehidupan Saudi dari pengaruh hedonisme sekecil apa pun.

Karakter warga Saudi yang berasal dari masyarakat Badui yang, berwatak keras dan lebih suka hidup dalam kesepian, jauh dari hingar bingar dunia, menjadikan mereka begitu reaktif dengan perubahan  pola hidup. Dengan watak dan karakter masyarakat yang bersumbu pendek ini, sangat mungkin apa yang dikhawatirkan akan terjadinya kekerasan untuk menolak perubahan benar-benar akan terjadi. Dan tidak mustahil pula bahwa hal itu akan berakumulasi dan terus membesar yang pada akhirnya efektif  menggulingkan keluarga Sa’ud dari kekuasaan.

*Dosen UIN Sunan Ampel, Doktor Inter-Religious Studies UGM, Magister Pemikiran Islam IAIN Sunan Ampel, Licence Universitas al-Azhar Mesir.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry