PEMEKASAN | duta.co – Ada suasana berbeda di Padepokan Langgar Temor, Kolpoh, Bulangan Haji, Pegantenan, Pamekasan sejak tadi malam hingga pagi ini. Puluhan tokoh bani walisongo dan santri bani walisongo se-Madura berkumpul dalam rangka pertemuan rutin khas madura atau kolom. Kolom rutin tersebut adalah kolom rutin pertama yang akan dilanjutkan dengan kolom rutin berikutnya.

Tokoh yang hadir antara lain RKH M Husni Thamrin Gunung Tinggi Pakong, RKH Ja’far Shodiq Fauzi Batuampar, R Firman Syah Ali Wongsokusumorejo Surabaya, RKH Abdul Halim Bahwi Pamekasan, RKH Abdul Hamid Roqib Suryodirjo Palalang Pakong, RKH A Jamaluddin Sumenep, Ustad Zaini Advokat Pamekasan, RKH Abdusshomad Kolpoh (tuan rumah kolom), R Agung Saleh, Ustad Abdul Hasib Pakong Pamekasan, Ustad Agus Faqot Pamekasan, R Fathor Rahman Lenteng Sumenep, R Subki Abdul Hamid Muallim Sa’angan Pamekasan, Ustad Hasibullah Pakong, Ustad Misbahul Anam Sumenep, Ustad Rifa’i Sumenep, Ustad Syaiful Bahri Pakong Pamekasan, R Bahrul Ulum Lora Ombul, Lora Habiburrahman Kolpoh, Ustad Nawawi Plakpak dan lain-lainnya.

Kegiatan tersebut digelar dalam rangka preservasi silsilah dan nasab. Dengan kolom rutin, diharapkan pohon keluarga tetap akurat. Juga diharapkan generasi penerus tau siapa leluhur mereka dan tradisi-tradisinya tidak luntur ditelan zaman.

Selain itu, tujuan kolom rutin adalah untuk melestarikan warisan budaya adiluhung walisongo, karena bani walisongo adalah penjaga gawang tradisi dan budaya nusantara. Diantara budaya yang dilestarikan adalah tata krama, benda-benda pusaka, manuskrip, endogami dan ritual turun-temurun.

Tujuan ketiga adalah penguatan jaringan strategis dan distribusi putera-putera terbaik bani walisongo, dengan cara saling membantu dalam karier, pendidikan atau bisnis serta membangun koneksi strategis.

Tujuan keempat adalah rekonsiliasi dan solidaritas, karena sebagai sebuah keluarga besar tentu terdapat beberapa konflik internal dan perbedaan pendapat. Pertemuan rutin berfungsi sebagai media resolusi konflik dan memperkuat silaturrahmi lintas faksi dalam tubuh keluarga besar, agar tetap solid dalam menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan bersama.

Tujuan kelima adalah membangun visi bersama dalam menanggulangi ancaman external. Saat ini bani walisongo sedang menghadapi ancaman external yang luar biasa, terutama dari sebuah klan keturunan asing yang selalu berusaha memanipulasi nasab dan sejarah perjuangan walisongo. Dengan pertemuan rutin, dapat dirumuskan strategi terbaru dalam menghadapi ancaman external tersebut.

Tujuan terakhir adalah meningkatkan manfaat Bani Walisongo kepada masyarakat. Apabila manfaat Bani Walisongo terhadap masyarakat tidak dikembangkan dan ditingkatkan, maka walisongo sebagai pembangun peradaban mulia islam nusantara kehilangan raison d’etre. Bani walisongo tidak mau leluhurnya kehilangan raison d’etre, maka konsidasi rutin terus dilakukan.

Beberapa pokok pikiran yang dihasilkan dalam kolom tadi malam antara lain :

1. Selain perjuangan kultural, tidak kalah penting perjuangan struktural Bani Walisongo, baik dalam politik, birokrasi maupun antar Ormas.
2. Madura adalah daerah istimewa bagi Bani Walisongo, karena membutuhkan effort dan perjuangan extra, maka kolom rutin harus terus ditingkatkan.
3. Nak Potoh nusantara harus bangga dengan kenusantaraan, namun tidak boleh jumawa. Kita jelaskan pada dunia tentang nasab nusantara kita yang nyambung kepada Nabi Muhammad agar generasi penerus tidak kepaten api perjuangan turun-temurun. Kita lawan unsur-unsur asing yang ingin mematikan obor peradaban walisongo.
4. Kita keturunan ahli tirakat yang sangat dekat dengan Allah, maka jangan sampai mau dijajah oleh sesama manusia (dawuh RKH M Husni Thamrin).
5. Perjuangan Bani Walisongo dan santri-santri Bani Walisongo mengutamakan rasionalitas dan tidak menyukai kekerasan.
6. Keberagaman dalam perbedaan adalah kenikmatan tersendiri dalam beragama, kita syukuri dengan senantiasa membina kerukunan.
7. Legacy Walisongo harus dikembangkan jangan sampai hilang ditelan fitnah kelompok lain, jangan mau dihilangkan sejarahnya, karena kalau sejarah dihilangkan berarti masa depan juga akan hilang.
8. Bani Walisongo yang menduduki kepemimpinan ulama dan umara hendaknya selalu berkolaborasi dan bersinergi membangun kekuatan dan pertahanan bersama demi masa depan umat, bangsa dan negara.
9. Semangat amar ma’ruf nahi munkar dengan cara-cara yang ma’ruf harus selalu dicamkan, karena itulah warisan terbaik walisongo kepada kita.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry