SURABAYA | duta.co – Isu paling lama usai debat kedua Capres Minggu (17/2/2019) adalah ‘Pencet Kuping Jokowi’. “Ada apa ya? Apa itu yang disebut alat yang canggih untuk membuka komunikasi dengan timses,” demikian pertanyaan warganet Selasa (19/2/2019). Ya! ‘Perang’ antarpendukung masih tetap lanjut.

Tidak hanya aksi saling berbalas tagar di media sosial hingga cek fakta atas pernyataan masing-masing kandidat. Sampai berbagai ekspresi dan gerakan anggota tubuh masing-masing kandidat juga tak luput dari sorotan warganet. Seperti ketika Jokowi tengah menutup telinga bagian kirinya dengan telunjuk.

Ada juga gambar lainnya Jokowi sedang memencet semacam ballpoint. Muncul pertanyaan netizen, misalnya, “Ada apa di kuping Pak Jokowi? Ada wireless earphone? Apa yang sedang didengarkan? Mendengarkan arahan? Atau mendengarkan rekaman jawaban? Kenapa pulpen sering dipencet? Alat untuk komunikasi? Atau on/off player audio untuk panduan?”

Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi pun merespon kehebohan di dunia maya itu. Kubu penantang bahkan menyarankan agar Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf segera memberi penjelasan soal isu petahana menggunakan alat bantu dengar (ABD) seperti earpiece wireless saat debat capres, tadi malam.

Kubu petahana, PDI Perjuangan tegas membantah tuduhan Jokowi pakai ABD untuk mendengar jawaban. “Aku lagi di dapil, nggak hadir (debat) tapi aku lihatnya nggak benarlah,” ucap politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari, seperti dilansir rmol.

Ia balik menuding BPN tengah mencari upaya mendelegitimasi kemenangan Jokowi. Karena secara penguasaan masalah juga rincian data, menurut Eva, Jokowi lebih unggul dibandingkan Prabowo.  “Kemarin kan Jokowi menang telak 6-0 jadi mereka lagi cari-cari upaya mendelegitimasi kemenangan itu, tetapi yang dicari itu konyol,”  tegasnya.

“Wong kita tahu semua persiapannya sama-sama zero dengan dadakan gitu, pertanyaan kedua pihak tidak tahu, memulai sebetulnya starting point-nya sama,” sambung Eva.

Namun, Eva menekankan ini soal kapasitas dan kapabilitas Jokowi yang memang jauh di atas Prabowo.  Eva menjelaskan, gerakan tangan Jokowi seperti memegang kuping semata-mata bentuk ekspresi bersangkutan. Itu sudah menjadi kebiasaan Jokowi ketika berpikir keras.

“Pak Jokowi kalau lagi memikirkan keras itu selalu seperti itu, coba trekking sebelumnya. Aku kan kenal dia lebih lama dari orang BPN. Kalau dia berpikir keras pegang-pencet kuping, kalau aku kan merem,” tuturnya.

Menurutnya gerakan-gerakan anggota tubuh Jokowi sebagai hal lumrah dan tidak sepatutnya dipersoalkan. Sebab, kata dia, setiap orang punya kebiasaan masing-masing.

“Ada orang yang muterin rokok, gitu loh. Ini hanya masalah kebiasaan dan dicurigai untuk menutupi kelemahan BPN menurutku. Ini orang Jawa disebut pendono,” cetus Eva yang mengaku tengah berada di di dapilnya, Kediri. (rmol)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.