Tampak Drs Arukat Djaswadi – Direktur Center for Indonesia Comunity Studies (CICS) dengan setia menunggui acara lomba pidato. (FT/MKY)

SURABAYA | duta.co – Seru! Ternyata pengetahuan pelajar Jawa Timur tentang kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) tak kalah seru dibanding generasi tua. Setidaknya itu terlihat dalam lomba pidato ‘trio’ (bertiga) dan lagu perjuangan dalam rangka memperingati hari Kesaktian Pancasila 2019 di Gedung Juang 45 Jl Mayjen Sungkono Surabaya, Sabtu (5/10/2019).

“Ini (lomba red.) sudah kesekian kalinya. Alhamdulillah, anak-anak kita semakin paham bagaimana kelicikan dan kekejaman PKI. Bagaimana orang komunis membantai umat Islam. Mereka juga paham, bagaimana gerakan masa kini PKI. Termasuk keberadaan orang-orang PKI di tempat strategis,” demikian disampaikan Drs Arukat Djaswadi – Direktur Center for Indonesia Comunity Studies (CICS) – yang setia menunggui lomba pidato kekejaman PKI, kepada duta.co.

Arukat juga memberikan apresiasi kepada MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sejarah di tingkat SMP dan SMA Jawa Timur. Dalam lomba itu, tampak pelajar Jawa Timur telah menguasai materi lomba memperingati hari Kesaktian Pancasila dalam perspektif mempertahankan Pancasila dan NKRI dari ancaman bangkitnya PKI.

“Kita tidak boleh diam. Sebagai penerus bangsa, kita harus melek sejarah. Sekarang kita saksikan, ada orang bangga jadi anak PKI. Menjadi anak PKI bangga? Berarti masih ada gerakan untuk membangkitkan kembali PKI. Kita tidak boleh diam!,” demikian salah seorang peserta dengan suara lantang.

Lalu, peserta lomba itu merinci nama-nama jenderal yang menjadi korban sadis kekejaman PKI. Lubang Buaya, katanya, menjadi saksi, betapa kejam orang-orang komunis. Peserta lain juga tak kalah heroik. Mereka menyebut banyak kiai dan santri yang dikubur hidup-hidup. Mereka ulas peristiwa Kediri, Banyuwangi dengan fasih. “Jangan sampai semua itu terulang,” demikian pesannya seraya mengajak hadirin menyanyikan lagu Ya Ahlal Wathon.

Lomba ini memilih 10 besar. Masing-masing  SMAN 1 GEDANGAN  SIDOARJO, SMAN 2 SURABAYA, SMAN 2 PONOROGO, SMA KABUH JOMBANG, SMAN ASSAADAH GRESIK, MAN KOTA SURABAYA, SMA BARUNAWATI SURABAYA, SMAN 17 SURABAYA, SMAN 2 KEDIRI, SMAN 8 SURABAYA.

UNTUK JUARA I SMAN 1 GEDANGAN SIDOARJO dengan peserta  ARYAN FIRMANSYAH (0857-3321-7119) ADINDA PERMATA SALSABILA dan SELVIANA RAHMATUS DANIA. JUARA II, SMAN 2 SURABAYA dengan peserta DINARA RAHMA LATHIFAH, ALEXANDER ANUGRAH, AYANG CHAIRUNNISA Y.

JUARA III, SMAN 2 PONOROGO dengan peserta SEPTA DIAN MAYANGSARI (0822-6481-3044), NABILA LUTFI MUFIDAH dan YOHANA ISCHA MERDYA. JUARA HARAPAN I SMA KABUH JOMBANG dengan peserta  CITRA ALAMANDA WIDYA W. (0857-0943-0943), FRANSISKA VALENTIN dan ALISTA DEBBY ARIYANTI

JUARA HARAPAN II SMA ASSAADAH GRESIK dengan peserta MUHAMMAD HAKIM M, DWI WAHYUNINGTYAS dan RANI RAHMAWATI. JUARAN HARAPAN III, MAN KOTA SURABAYA dengan peserta DELIA PUSPITA HAPSARI, LAFFAYZA NUR AGVANI dan MUHAMMAD RACHMATULLAH (0812-3236-1777)

JUARA FAVORIT I SMA BARUNAWATI SURABAYA dengan peserta DIMAS IRFAN MAULANA (0831-3430-4579), DWI ARDELIA dan CYSAKAREN DIVA PRATIWI. JUARA FAVORIT II SMAN 17 SURABAYA dengan peserta KONITA KHOIRRUN NISA’,  RAYHAN BAGASKARA dan FHATUR AKMALIA SUPARDI. JUARA FAVORIT III SMAN 2 KEDIRI dengan peserta ALFREYA SHAHLA WITONO (0852-5707-6459), BERNANDA DELTA ADIANA dan FATIN AMALIA KARSARI. JUARA FAVORIT IV SMAN 8 SURABAYA dengan peserta AYU RETNONINGTYAS, SANIYYA SALSABILA (+62 896-8107-7772) dan JIHAN RABBANI SAJDA.

Sebelumnya, Ketua Umum DHD 45 Jawa Timur  Ir H Mustahid Astari mengingatkan agar generasi muda tahu sejarah perjalanan bangsa, bahwa Bangsa Indonesia ini pernah dinodai Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui gerakan G30S (Gerakan 30 September) PKI. Karena itu, perlu pemutaran film pengkhianatan PKI.

“Jadi, pemutaran film ini sangat penting bagi generasi muda. Tujuannya agar generasi muda megetahui bahwa bangsa ini pernah dinodai, pernah dijegal, pernah disakiti oleh partai komunis Indonesia,” demikian Mustahid Astari saat pemutaran film G30S PKI di Gedung Juang 45 Jl. Mayjen Sungkono Surabaya, Senin (30/9/2019).

Pemutaran film peristiwa G30S PKI disaksikan 1000 pelajar SMP/SMA Gema 45 dan Mahasiswa Univ. 45 Surabaya.

Menurutnya, saat ini ada gejala gejala menutup kasus ini.  Gejala itu sudah semakin terlihat dengan jelas. Penghapusan sejarah berdirinya bangsa ini menurut Mustahid Astari, mantan anggota DPR RI dari Golkar adalah metode metode partai komunis. Jika simpul simpul sejarah itu hilang, maka, apa yang menjadi ideologi awal (membahayakan) juga ikut hilang.

“Untuk itu saya menyambut dengan gembira kegiatan kegiatan semacam ini. Pemutaran film G30S hendaknya terus dilakukan setiap tahun sehingga tiap generasi tau bahwa partai komunis itu jahat. Kita punya pengalaman yang sangat menyakitkan tahun 65. Gerakan komunis tidak mati, putus. PKI selalu muncul dengan gerakan gerakan perubahan,” katanya. (mky,net)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry