
Fenomena politik dan sosial di Kota Santri kian hari semakin jelas memperlihatkan peta kelompok kultur yang akrab disebut abang-ijo. Sejak Abah Warsubi dan Gus Salman dipilih rakyat melalui Pilkada dengan raihan hampir 72 persen suara, ekspektasi publik menguat. Keduanya diharapkan bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan sosok bapak bagi rakyat pengayom yang menuntun menuju kesejahteraan, keamanan, dan kedamaian.
Namun, jalan menuju pelantikan tidak pernah sepi dari cobaan. Berbagai peristiwa silih berganti menimpa Jombang. Bencana alam yang menguji kesiapan mitigasi daerah, maraknya kriminalitas dan kenakalan remaja yang mengguncang moral publik, hingga dinamika politik yang memanas lewat polemik kenaikan pajak, aksi massa, serta pertarungan wacana di ruang publik.
Di balik rentetan peristiwa itu, satu hal yang paling menarik perhatian adalah menguatnya kembali peta kultur abang-ijo. Istilah yang sejak lama menjadi simbol relasi kuasa dan basis massa di Jombang. Warna ijo identik dengan kultur pesantren, NU tradisional, serta Muhammadiyah yang mengakar kuat. Sementara abang merepresentasikan arus nasionalis yang juga memiliki sejarah panjang di bumi Kota Santri.
Hari-hari belakangan, garis batas dua kultur ini tampak semakin tegas. Kelompok ijo menegaskan diri sebagai penjaga tradisi dan moral publik. Di sisi lain, kelompok abang tampil sebagai penyeimbang dengan retorika pembangunan, tata kelola, dan birokrasi modern. Keduanya bukan hanya bertemu di meja koalisi elite, melainkan juga hidup nyata di akar rumput di kampung-kampung, di pasar rakyat, bahkan di ruang kelas.
Dua hari terakhir, fenomena itu terlihat jelas. Ketika hampir semua daerah di sekitar mengalami chaos, Jombang justru relatif tenang. Dua kultur ini, tanpa aba-aba resmi, seolah bergerak spontan menjaga rumahnya. Kultur abang menjaga simpul-simpul massa di akar rumput, sementara kultur ijo menguatkan spiritualitas publik dengan doa, istigasah, bahkan mengawal langsung gedung-gedung pemerintahan.
Kini pertanyaannya mampukah duet Abah Warsubi dan Gus Salman menjaga harmoni di tengah peta kultur yang kian menajam? Ataukah justru fenomena abang-ijo ini akan menjadi bayangan panjang yang membayang-bayangi setiap kebijakan publik dari meja birokrasi hingga pasar rakyat, dari ruang kelas hingga halaman pesantren? Hanya Pencipta Langit Bumi beserta isinya yang tau.
Mari kita doakan dan kawal supaya Bapak Jombang kuat dan menjalankan programnya yang berpihak pada rakyat. Aamiin.
Jombang, 3 September 2025
Catatan Wartawan Duta Biro Jombang, Abidin.






































