SIDOARJO | duta.co – Sebanyak 860 anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Kabupaten Sidoarjo, tumplek jadi satu di halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sidorejo, Kecamatan Krian, Sabtu (23/4/22). Mereka mengasah ketajaman rohani di bulan Ramadhan. Besoknya, Minggu (24/4) ratusan anggota PSHT Kecamatan Krian, membagikan takjil di jalan-jalan strategis.

“Momen bulan Ramadhan, seluruh anggota kita asah ketajaman rohaniahnya. Karena lapangan bola Sidorejo becek, akhirnya pindah ke halaman SDN. Anggota harus mengikuti asah rohani, mumpung ini bulan Ramadhan,” demikian salah seorang panitia kepada duta.co, di Balai Desa Sidorejo yang disulap menjadi tempat parker bersama.

Pun juga bagi-bagi takjil, tujuannya untuk menanamkan kepekaan sosial. Anggota PSHT harus saling bantu. “Nah, sekarang banyak musafir yang butuh takjil jelang maghrib. Apakah mereka tengah dalam perjalanan mudik,  atau pulang dari kerja. Ini serentak kita lakukan di Kecamatan Krian. Semua anggota terlibat aksi sosial ini,” demikian Arie, kepada duta.co.

Satu Abad Terate Emas

Sementara, Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menilai PSHT punya peran sangat penting dan strategis sebagai penjaga kualitas sumber daya manusia Indonesia. Penilaian itu disampaikan LaNyalla secara virtual dalam Sarasehan dan Buka Puasa Bersama ‘Satu Abad Terate Emas untuk Dunia’ PSHT Madiun, Sabtu (23/4/2022).

Hadir dalam acara itu Ketua Dewan Pusat PSHT, H. Issoebiantoro, Ketua Umum Pengurus Pusat PSHT, R Moerdjoko HW, Sekretaris Umum Pengurus Pusat PSHT, Tono Suharyanto, Para Pengurus PSHT di semua tingkatan dan perwakilan luar negeri, Para Pendekar serta Warga PSHT.

“Salah satu kualitas sumber daya manusia adalah kesehatan. Baik jasmani dan rohani, fisik dan mental. Di sinilah peran penting dari perguruan silat. Karena silat, tidak hanya melatih fisik, tetapi juga mental. Tidak hanya menyehatkan raga, tetapi juga menyehatkan mental dan spiritual,” papar LaNyalla.

Bonus Demografi

Menurutnya, kualitas sumber daya manusia ini berkaitan dengan era bonus demografi yang akan terjadi Indonesia tahun 2045. Saat Indonesia berusia Satu Abad.

Bonus demografi ditandai dengan melimpahnya populasi penduduk usia produktif. Yaitu banyaknya populasi penduduk dengan usia antara 15 hingga 60 tahun.

“Bonus demografi seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi adalah berkah atau peluang. Tetapi di satu sisi bisa jadi musibah atau ancaman,” lanjut Senator asal Jawa Timur itu.

Masih menurut LaNyalla, melimpahnya usia produktif bisa menjadi peluang, karena dapat menggenjot pertumbuhan perekonomian negara.

Tetapi sebaliknya, jika besarnya usia produktif tidak dibarengi dengan tersedianya lapangan pekerjaan, maka hal itu justru akan berpotensi meningkatkan jumlah pengangguran dan banyak permasalahan sosial lainnya. Salah satunya meningkatnya angka kemiskinan.

“Bonus demografi dapat menjadi berkah apabila kualitas sumber daya manusia di Indonesia memiliki standar yang mumpuni. Sehingga akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi negara,” ujar dia.

Sebaliknya, bencana demografi akan terjadi jika jumlah penduduk yang berada pada usia produktif ini tidak memiliki kualitas sumber daya manusia yang baik, sehingga menghasilkan pengangguran massal dan menjadi beban negara.

“Di situlah peran perguruan silat seperti PSHT yang seharusnya mampu membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dari segi kesehatan jiwa dan raga,” katanya.

Oleh karena itu, di momen satu abad, LaNyalla berharap PSHT tetap eksis. Mengingat sejarah panjang lahirnya PSHT yang kita kenal memiliki semangat juang dan dedikasi untuk kebesaran organisasi.

LaNyalla juga berharap PSHT dapat menjadi salah satu elemen yang mendorong Indonesia kembali ke jati diri aslinya, Pancasila. Sebab, hanya Pancasila yang mampu membawa bangsa menuju masa depan yang semakin kompleks.

“Pancasila adalah DNA dan watak asli bangsa. Pancasila merupakan wadah yang utuh bagi bangsa ini. Makanya saya berharap PSHT senantiasa memperjuangkan Pancasila sebagai jati diri bangsa,” kata LaNyalla.

PSHT tercatat secara resmi berdiri pada tahun 1922. Tetapi sejarah cikal bakal PSHT sebenarnya telah lahir sejak tahun 1903 ketika Ki Ageng Ngabehi Surodiwiryo meletakkan dasar gaya pencak silat Setia Hati di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya.

Pencak silat itu oleh murid beliau, Ki Hajar Harjo Utomo, lanjut pada tahun 1922 di Madiun, mendirikan perguruan Pentjak Sport Club atau PSC, yang kemudian berganti menjadi Pemuda Sport Club, yang singkatannya PSC juga. (*)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry