Pngurus takmir Masjid Ad-Dzakira menunjukkan Tabloid IB yang isinya justru adu domba umat Islam. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Sudah tak terhitung berapa banyak masjid yang disasar Tabloid Indonesia Barokah (TAIB). Bukan cuma Jawa Barat dan Jawa Tengah, masjid-masjid di Jawa Timur juga dikirimi TAIB yang isinya provokatif. Walhasil, jamaah masjid tidak malah benci kepada Prabowo-Sandi, justru sebaliknya mengecam sohibul hajahnya.

“Ya! Secara taktis, masih sangat kampungan. Kasar dan adu domba. Akhirnya, jamaah masjid dengan mudah menangkap pesan-pesan yang ingin dicapai. Maunya, umat Islam disuruh benci Prabowo-Sandi, tetapi, dengan cara seperti ini, sebaliknya, orang makin simpati. Ternyata mereka didholimi. Yang kurang ajar itu, pembuat tabloidnya, tega-teganya adu domba umat Islam,” demikian Ustdz Hartono, salah seorang jamaah masjid yang mendapati tabloid tersebut kepada duta.co, Jumat (25/1/2019).

Hal yang sama disampaikan Pengamat politik dari Institute for Strategic and Development Studies (ISDS) M Aminuddin. “Kalau dilihat dari konten atau isi Tabloid Indonesia Barokah (TAIB), ini jelas kerja amatiran. Isinya penuh dengan kampanye hitam, fitnah kepada Prabowo-Sandi. Dilihat dari siini, kemungkinan sohibul hajahnya lawan politik mereka yang sedang kalap karena elektabilitasnya terus merosot,” jelasnya.

Menurut Aminuddin, cara-cara seperti ini tidak akan efektif. “Pertama, amatiran, tak memenuhi standar media. TAIB ini lebih cocok disebut pamflet atau selebaran gelap yang dikemas menjadi media,” tegasnya.

Maka, tegasnya, Polisi  dan BAWASLU harus bertindak karena sudah terpenuhi unsur pidana. “Apalagi yang menjadi sasaran pengiriman adalah tempat ibadah seperti Masjid yang dilarang jadi tempat kampanye. Jangan dibiarkan. Pembiaran bisa mempertaruhkan ketidakstabilan nasional,” tegasnya.

Kedua, masih menurut Aminuddin, TAIB ini justru semakin memperpanjang deretan krisis kepercayaan publik pada penyelanggaraan PILPRES kali ini, di mana petahana selama ini sudah dicurigai menghalalkan segala cara, mempolitisir birokrasi  dan militer sebagai mesin pemenangannya seperti BABINSA dan PAMONG DESA.

“Jika cara-cara main kayu ini diteruskan akan tercatat jadi PILPRES tercurang pasca reformasi. Praktek praktek kotor seperti ini khas negara tiran otoriter seperti Tiongkok atau ORBA pada 1970an,” jelasnya.

Ada 7 Kecerobohoan TAIB

Jika Anda mendapati TAIB edisi I/Desember 2018, sedikitnya ada lima kecerobohan yang dibuat redaksi TAIB.

  1. COVER TAIB sangat provokatif. Tidak jelas sasaran tembaknya. Tetapi, dengan cover tersebut redaksi TAIB mengesankan bahwa umat Islam sebagai ‘dalang goro-goro’. Padahal, selama ini umat Islam yang sering menjadi korban dengan isu-isu radikal.
  2. Rubrik Salam Redaksi. TAIB yang konon alamatnya palsu, menggunakan tagline ‘Membumikan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin’. Sementara isinya jauh dari rahmah. Maunya memberi tambahan pengetahuan, hasilnya, justru dirobek dan dibakar jamaah.
  3. TERLALU MEMUJI JOKOWI. Halaman 3 TAIB mengabarkan 10 tokoh Islam yang dinobatkan jadi pahlawan nasional di Era Jokowi. TAIB tidak mengabarkan berapa tokoh non-muslimnya. Padahal, dalam pandangan jamaah, penobatan menjadi pahlawanan nasional itu adalah domain (kewajiban) pemerintah.
  4. TERLALU BENCI PRABOWO. Halaman 5 Judulnya Prabowo Marah Media Dibelah. Ini kemudian dikaitkan dengan peran besar Prabowo menggerakan Reuni 212. Padahal, logika orang waras, sehebat apa pun Probowo, tak bakalan sanggup mendatangkan puluhan juta umat Islam ke satu titik, Monas.
  5. MENAMPILKAN LAGI KEBOHONGAN RATNA SARUPAET. Padahal, publik paham, Prabowo-Sandi dalam masalah ini adalah korban. Jamaah masjid justru lebih ingat dengan kebohongan produksi mobil ESEMKA yang sampai sekarang tak jelas kabarnya. Juga kebohongan tentang kontroversi pembebasan Abu Bakar Ba’asyir.
  6. MEMBESAR-BESARKAN WAHABI DAN HTI. Jamaah masjid sangat paham, bahwa urusan Pilpres tidak terkait wahabi atau HTI. Rakyat lebih suka diajak bicara program kerja presiden-wakil presiden. Bukan ditakut-takuti dengan Wahabi dan HTI. Wahadi di Indonesia sudah ada sejak zaman Mbah Hasyim Asy’ari. Mereka tak bisa besar, kecuali sekarang, karena dijadikan komoditi politik.
  7. JADI HUMAS JOKOWI. Halaman 11 TAIB membuat rubrik TABAYUN. Isinya mengulas soal tabloid Obor Rakyat yang disebut sebagai asal usul fitnah Jokowi PKI dan Antek Asing. Cara ini justru memunculkan anggapan dari jamaah Masjid, bahwa, TAIB ini tidak berbeda dengan Obor Rakyat. Ini kecerobohan serius yang tidak disadari. Alih-alih menaikkan pamor Jokowi, media ini justru diadili jamaah sendiri. (mky,net)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.