JAKARTA | duta.co – Antusiasme warga Nahdlatul Ulama (NU) dalam menentukan calon tuan rumah Muktamar ke-35 NU terlihat dari jajak pendapat yang digelar melalui kanal WhatsApp NU Online usai pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 di Ploso, Kediri.

Melalui polling bertajuk “Ada beberapa nama daerah yang muncul saat Munas dan Konbes NU kemarin di Ploso. Kalian lebih setuju di mana?”, ribuan warga NU memberikan suaranya terhadap lima daerah yang masuk dalam bursa calon tuan rumah Muktamar NU ke-35.

Berdasarkan hasil polling sementara pada Jumat (03/06/2026), Jawa Barat memperoleh dukungan tertinggi dengan 9,1 ribu suara (65,8%), jauh meninggalkan daerah lain. Posisi berikutnya ditempati Jawa Timur dengan 3,2 ribu suara (23,8%), disusul Nusa Tenggara Barat (NTB) sebanyak 1,3 ribu suara (9,4%). Sementara DKI Jakarta meraih 74 suara (0,5%) dan Sumatera Barat memperoleh 60 suara (0,5%).

Hasil jajak pendapat tersebut menunjukkan besarnya antusiasme warga NU terhadap proses penentuan lokasi Muktamar mendatang. Meski demikian, polling yang dilakukan NU Online bersifat aspiratif agar menjadi acuan bagi PBNU dalam penetapan tuan rumah Muktamar.

Sebelumnya, dalam forum Munas dan Konbes NU 2026 di Ploso, sejumlah daerah menyampaikan kesiapan menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35.

Penetapan lokasi akhirnya akan diputuskan melalui mekanisme organisasi setelah dilakukan kajian oleh Tim Survei Lokasi Muktamar ke-35 NU terhadap berbagai aspek, seperti kesiapan infrastruktur, keamanan, pembiayaan, hingga dukungan masyarakat setempat.

“Ketua Tim Survei adalah Ketua SC, yaitu Kiai Ahmad Said Asrori, sedangkan Sekretaris Tim Survei adalah Sekretaris SC, Prof Dr Muhammad Nuh,” kata Wakil Ketua Umum PBNU, H Amin Said Husni, usai Rapat Harian Tanfidziyah di Lantai 8 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026.

Tim survei akan meninjau sejumlah pondok pesantren, yakni Pondok Pesantren Syekh Al-Falah di Padang, Sumatra Barat; Pondok Pesantren Al-Hamid dan Pondok Pesantren Daarurrahman di Jakarta; Pondok Pesantren Buntet, Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, dan Pondok Pesantren Kempek di Cirebon, Jawa Barat; serta Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur.

Selain itu, Pondok Pesantren Tambakberas di Jombang juga akan disurvei sebagai calon lokasi pembukaan Muktamar. Sementara itu, untuk wilayah Nusa Tenggara Barat, tim akan meninjau Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu di Lombok.

“Ada juga kemungkinan Pondok Pesantren Tambakberas, dengan catatan Tambakberas akan disurvei untuk lokasi pembukaan Muktamar. Kemudian yang kelima ada Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu di Lombok,” jelasnya.

Kiai Amin Said menambahkan, hasil survei tersebut akan dilaporkan dalam Rapat Harian Syuriyah-Tanfidziyah yang dijadwalkan berlangsung pada pekan depan.

“Insyaallah, pada Rapat Harian Syuriyah-Tanfidziyah tanggal 7 Juli itu sudah bisa diputuskan mengenai lokasi Muktamar yang final,” tandasnya.

Selain meminta warga NU memilih daerah favorit, NU Online juga mengajak para responden menyampaikan alasan di balik pilihannya. Beragam tanggapan pun bermunculan, mulai dari pertimbangan sejarah dan kedekatan kultural NU di suatu daerah, kesiapan fasilitas, akses transportasi, hingga harapan agar Muktamar dapat memperluas syiar dan pemerataan kegiatan organisasi di berbagai wilayah Indonesia.

Jajak pendapat ini menjadi potret partisipasi publik Nahdliyin dalam menyambut agenda lima tahunan organisasi sekaligus menunjukkan tingginya perhatian warga terhadap penyelenggaraan Muktamar NU ke-35 agar diselenggarakan di Jawa Barat. Aspirasi tersebut diharapkan menjadi masukan yang konstruktif, meski keputusan akhir tetap berada di tangan PBNU melalui mekanisme yang telah ditetapkan dalam organisasi. (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry