SURABAYA | duta.co – Sebanyak 63 siswa SMA/SMK di Surabaya dan sekitar mengikuti Program “Talenta Digital Santri” (TDS) gelombang 2 dengan tema “NexGen Speak dan Influence” di Pesantren Digipreneur (Digital-Entrepreneur) “Al-Yasmin” Surabaya.

“Program TDS II diluncurkan oleh Gus Iqdam (pendakwah dan pengasuh Majelis Taklim ‘Sabilu Taubah’ Blitar, Muhammad Iqdam Kholid) di pesantren kami pada 5 April 2026,” kata _founder_ Pesantren Digipreneur “Al-Yasmin” Surabaya, H Helmy M Noor di Surabaya, Jumat.

Ia menjelaskan program TDS gelombang II yang dimulai hari Jumat (24/4) itu diikuti 63 siswa dengan 10 guru pendamping. “Semoga, program TDS bisa mencetak putra-putri kita yang mampu adaptif sesuai perkembangan zaman,” katanya.

Puluhan peserta “Al Yasmin TDS” II berasal dari 11 SMA Khadijah, SMK YPM 1, SMK YPM 2, SMK YPM 3, SMA Wahid Hasyim, SMA Amanatul Ummah, SMA Widya Darma, SMK Ketintang, SMK Saintren Al-Hasan, dan SMA Muhammadiyah 1 Taman. “Lumayan, ada siswa umum, NU, dan Muhammadiyah yang tertarik profesi digital,” katanya.

Sementara itu, Direktur Al Yasmin TDS Setya Ardhianta, MM menambahkan, 63 pelajar tidak hanya diajari teori tapi juga diberi pendampingan dalam membuat konten.

Menurut Setya, ada 8 program Talenta Digital Santri, yakni Muslimah Go Digital (khusus Muslimah/ majelis taklim), Santri-Preneur (khusus santri tingkat lanjut/pengelola pesantren untuk bisnis digital), AI Productivity Class (guru/staf adminisrasi), Content Creator Class (santri), Gen Z Preneur (siswa/mahasiswa/santri usia 15-22 tahun, UMKM Next Level (wirausaha pemula), TDS Extra Class (siswa SD/SMP), dan Public Speaking Class (siswa/mahasiswa/umum).

Saat meluncurkan program TDS (5/4) itu, Gus Iqdam menegaskan bahwa menjadi santri saat ini memang harus bisa jadi apa saja. “Apakah jadi gubernur yang santri, jadi kayak Gus Iqdam yang ngaji bersama kaum garangan, jadi santri itu harus berakhlak tapi teknologinya juga maju,” katanya.

Bahkan, Gus Iqdam juga mengaku tertarik dan berjanji akan mengirimkan santrinya untuk menjadi santri yang paham IT dan melek sosmed dengan belajar di Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya.

“Kalau santri itu punya akhlak dan teknologi, tentu akan membuat masyarakat lebih mudah memahami ilmu Allah, karena dakwahnya sesuai zamannya. Jadi, santri Al-Yasmin itu kayak santri model rohmatan yang bisa ngaji tapi canggih,” kata pendakwah milenial itu. (*/Yasmin)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry