SATGAS PANGAN : (ki-ka) Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Fattah Yasin, Kadisperindah Jatim, M Ardi Prasetyawan dan Kepala Divisi Regional Bulog Jawa Timur, Mohammad Hasyim saat melihat beras impor di Gudang Bulog Banjar Kemantren Buduran Sidoarjo, Kamis (1/3). DUTA/endang

SIDOARJO | duta.co – Tahun ini suplus beras di Jawa Timur diperkirakan mencapai 5,1 juta ton. Jumlah kelebihan ini jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan beras masyarakat Jatim yang diperkirakan tahun ini sebesar 3,6 juta ton untuk 39 juta penduduk.

“Produksi tahun ini diperkirkan 8,7 juta ton. Sehingga, masih banyak kelebihan beras kita. Itulah mengapa Gubernur Jatim menolak beras impor masuk ke wilayah Jawa Timur, karena memang tidak butuh,” ujar Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Fattah Yasin saat melihat beras impor yang ada di Gudang Bulog Banjar Kemantren Buduran Sidoarjo, Kamis (1/3).

Sehingga, beras impor yang saat ini ada di gudang Bulog Banjar Kemantren sebanyak 20 ribu ton yang masuk dari Pelabuhan Tanjung Perak, serta 25.250 ton yang masuk dari Pelabuhan Banyuwangi akan disimpan. Penyimpanan ini sampai dengan adanya perintah dari Menteri Perdagangan (Mendag) kepada Perum Bulog untuk melakukan distribusi.

“Jadi, di sini hanya transit. Tidak diedarkan di sini. Katanya untuk kawasan Indonesia Timur. Sehingga beras impor yang ada di Bulog ini dipastikan tidak akan beredar di Jawa Timur, satu kilo pun,” ungkap Fattah.

Kepala Divisi Regional Bulog Jawa Timur, Mohammad Hasyim juga menegaskan hal itu. Saat menemani Fattah Yasin melihat dari dekat beras impor, Hasyim mengatakan, petani tidak perlu resah dengan adanya beras impor ini. Karena, Bulog masih akan tetap menyerap gabah hasil panen petani berapapun jumlahnya.

“Sampai saat ini kami sudah menyerap 21 ribu ton gabah kering giling petani. Ini cukup bagus, di mana rata-rata hampir seribu ton kami melakukan penyerapan,” tandas Hasyim.

Itulah mengapa diakui Fattah, Satuan Tugas (Satgas) Pangan provinsi Jawa Timur merasa perlu untuk memastikan bahwa beras-beras impor itu tidak beredar di Jatim. Salah satunya dengan menyegel atau menggembok gudang-gudang Bulog di Banjar Kemantren Buduran Sidoarjo yang berisi beras-beras impor.

Kunci dari gudang itu dipegang Tim Satgas Pangan dari Polda Jatim. Tapi, tidak menutup kemungkinan jika Bulog membutuhkan kunci tersebut, bisa meminta kepada pihak kepolisian untuk membukanya. Sebab gudang-gudang itu tidak bisa terus menerus ditutup. Karena beras-beras itu butuh perawatan dengan sirkulasi udara yang cukup baik agar tidak menjadi rusak.

“Silahkan bersama satgas pangan dibuka gudang untuk melakukan perawatan. Tapi tidak untuk mendistribusikan ke wilayah Jatim, itu saja,” tandas Fattah.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Jawa Timur, M Ardi Prasetyawan juga mengungkapkan, pengawasan terhadap beras impor ini sangat ketat dilakukan Tim Satgas Pangan. Koordinasi dengan banyak instansi yang terlibat dalam satgas ini terus dilakukan. Bahkan, Pemprov sendiri memaksimalkan peran UPT Perlundungan Konsumen yang ada di Surabaya dan Jember untuk melakukan pengawasan itu. “Dua minggu sekali akan kita cek,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Hadi Sulistyo menegaskan tahun ini Jawa Timur diprediksi akan  mengalami penambahan produksi beras 200 ribu ton. Jika pada 2017 lalu produksi sebesar 13,1 juta ton gabah kering giling (GKG) atau 8,5 juta ton setara beras. Di 2017 surplus beras mencapai 4,9 juta ton. Maka pada tahun ini diprediksi produksi bisa mecapai 8,7 juta ton setara beras.

“Kita optimis ini tercapai. Karena kami melihat, panen tahun ini cukup bagus. Banjir juga tidak terlalu membuat panen rusak, optimalisasi pupuk berjalan bagus serta banyak hal yang membuat kami optimis produksi itu berjalan maksimal,” tutur Hadi Sulistyo. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.