SURABAYA | duta.co – Sebanyak 60 mahasiswa dan dosen Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) UIN KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Pekalongan, Jawa Tengah, yang terdiri atas 55 mahasiswa dan lima dosen, tertarik dengan manajemen dakwah digital dan zakat sosial di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Selasa.

“Program MAS sangat bagus, bahkan program dakwahnya bukan konvensional, tapi mengoptimalkan media sosial dengan tema yang tidak hanya sesuai kebutuhan masyarakat secara umum, tapi juga memperhatikan Generasi-Z. Juga, program pembedayaan masyarakat dengan zakat yang sangat inspiratif,” kata Dekan FUAD UIN Gus Dur Pekalongan, Dr H Tri Astutik Haryati, MAg.

Saat menerima rombongan UIN Gus Dur Pekalongan itu, Sekretaris Badan Pelaksana Pengelola (BPP) MAS H Helmy M Noor mengatakan MAS yang dibangun tahun 1995 dan diresmikan pada 2000 itu mengalami dinamika dakwah dari manual dan analog pada tahun 2001-2006 ke dakwah digital.

“Tahun 2007, kami mulai melakukan survei kepuasan jamaah dan database, sehingga program di Masjid Al-Akbar itu bukan program pengurus, tapi program jamaah, karena tahun 2010 pun mulai memanfaatkan boadcast message (SMS Centre) untuk lebih banyak menjangkau jamaah,” katanya.

Hasil survei melalui “SMS Centre” itu, BPP MAS mencatat 20 persen jamaah MAS berusia 40-60 tahun, 30 persen berusia 10-19 tahun, dan 50 persen berusia 20-39 tahun. “Dari sini, kami mengadakan survei program sesuai anak-anak muda,” katanya, didampingi Kasi Ibadah dan Dakwah BPP MAS Choliq Idris dan Kasi Zakat BPP MAS Gana Hascarya.

Setelah BPP MAS melakukan migrasi dari analog ke digital/medsos pada tahun 2017, maka program MAS diupayakan memenuhi kebutuhan Generasi Z Islami (GenZI), sehingga sejak 2 tahun silam (2023) mulai ada Majelis Subuh GenZI (MSG). “Banyak GenZI yang datang, meski subuh, karena pendakwah juga GenZI, seperti Hannan Attaqy dan Gus Iqdam,” katanya.

Sementara itu, Kasi Ibadah dan Dakwah BPP MAS Choliq Idris mencontohkan kegiatan sosial-kemasyarakatan di bidang dakwah, antara lain pembinaan muallaf, kajian rutin (harian/mingguan/bulanan), wakaf Qur’an, bantuan pesantren tahfidz, renovasi musholla.

“Di bidang pendidikan ada bantuan operasional sekolah, santunan guru ngaji, bina yatim, sedang di bidang kesehatan ada poliklinik pengobatan gratis, khitanan massal, bekam, layanan mobil ambulans/jenazah,” katanya.

Untuk kegiatan sosial-kemasyarakatan di bidang zakat, Kasi Zakat BPP MAS Gana Hascarya menegaskan bahwa BPP MAS mengoptimalkan pemberdayaan zakat secara profesional dan sesuai syar’i yang meliputi bidang sosial, kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan dakwah.

“Untuk bidang sosial ada bantuan sembako, ATM Beras, baksos kepada Ibnu Sabil, menyalurkan daging qurban lewat RT-RW di sekitar masjid, bantuan Palestina, dan bantuan bencana alam baik di Jawa, Sumatera, Kalimatan, Sulawesi, maupun Indonesia Timur. Di bidang ekonomi ada pemberdayaan zakat produktif, modal usaha, dan bina wirausaha,” katanya.

Sebelumnya (29/4/2025), sebanyak 540 mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi dari UIN Walisongo, Semarang, Jawa Tengah, angkatan 2022, mempelajari dakwah digital dan zakat sosial dalam Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Tahun 2025 di Masjid Al-Akbar Surabaya. (*/mas)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry