(ki-ka) Lili Soleh Wartadipraja (Kepala DPMPTSP Prov Jatim), Herawanto (Deputi Kepala Perwakilan BI Prov Jatim), Taufik Saleh (Kadiv Advisory Ekonomi Keuangan BI), saat acara BB< di kantor BI Jalan Pahlawan,, Rabu (28/2). duta.co/endang

SURABAYA | duta.co  – Tahun ini, Bank Indonesia Kantor Wilayah Jawa Timur menarget pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur antara 5.4 persen hingga 5,8 persen year on year (YoY).   Target ini dengan melihat indikasi-indikasi yang terjadi pada triwulan pertama 2018 ini yang menunjukkan prospek positif, walau di tahun ini adalah tahun politik.

Hal itu dilihat dari indikasi beberapa hal. Salah satunya konsumsi swasta dan usaha perdagangan yang mengalami peningkatan.

“Tahun politik justru akan meningkatkan konsumsi swasta. Ini membangkitkan daya beli masyarakat,” ujar Deputi Kepala Kantor Wilayah Bank Indonesia Jawa Timur, Herawanto saat acara Bincang- Bincang Media di kantor BI Jalan Pahlawan Surabaya, Rabu (28/2).

Target tersebut diakui Herawanto minimal sama dengan tahun sebelumnya yakni 5,4 persen sedangkan maksimalnya 5,8 persen. Herawanto menyebutkan  untuk mencapai target pertumbuhan itu, dengan melakukan banyak hal. Salah satunya adalah dengan mengangkat sektor-sektor yang selama ini menjadi andalan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yakni pertanian.

Sektor pertanian harus digenjot walaupun pada tahun lalu pertumbuhannya menyusut dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Harus digenjot lagi agar maksimal,” ungkapnya.

Selain itu, diakui Herawanto, Jatim harus mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru. Sumber-sumber itu dari riset yang dilakukan BI pada 2017 lalu, ada tiga sumber pertumbuhan ekonomi baru yang sangat potensial. Yakni, industri pengolahan ikan, galangan kapal dan pariwisata.

Ketiganya sangat potensial dan belum maksimal digarap. Misalnya, untuk sektor pengolahan ikan, Jawa Timur dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ikan. Namun, hasil tangkapan itu tidak diolah, melainkan dijual langsung.

Sedangkan untuk galangan kapal, Jatim memiliki banyak pelabuhan yang juga masih belum digarap maksimal. “Itu sangat potensial, bisnis-bisnis sampingan di sekitar pelabuhan,” tandas Herawanto.

Yang lebih potensial lagi adalah sektor pariwisata. Dari ujung barat hingga timur,  selatan dan utara Jawa Timur ini dikelilingi obyek-obyek wisata yang sangat indah. Namun, pemanfaatannya masih belum maksimal dilakukan.

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Jawa Timur Lili Soleh Wartadipraja, karena banyak kendala yang dihadapi. Selain kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat,provinsi dan kabupaten/kota.

“Sebagai contoh kawasan Bromo Tengger Semeru (BTS), ada banyak kabupaten/kota yang berada di bawah kawasan itu. Saat ini masih berjalan sendiri-sendiri. Tapi ke depan harus saling terintegrasi jika ingin pengembangan wisatanya maju,” jelasnya.

Selain itu, kesiapan masyarakat Jawa Timur yang masih belum menyamai masyarakat Bali dan Yogyakarta. “Kita tidak sesiap Bali dan Yogyakarta. Masyarakat sangat sadar bahwa kehidupan mereka dari pariwisata,” tukasnya.

Padahal, diakui Lili, dari hasil survey yang dilakukan sebuah lembaga survey, bahwa ada 35 jenis usaha yang bisa dikembangkan masyarakat di sekitar obyek wisata. Ke-35 jenis usaha itu tidak harus dilakukan oleh pemerintah daerah melainkan bisa dikerjakan warga sekitar. “Salah satunya pengembangan desa wisata,” tuturnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.