Tampak murid SDNU Kota Pasuruan begitu antusias mencermati artefak NU. (FT/duta.co)

SURABAYA | duta.co – Sebanyak 57, murid kelas 5, Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama (SDNU) Kota Pasuruan, berkunjung ke Museum Nahdlatul Ulama (NU) di Menanggal, Surabaya. Mereka didampingi enam (6) guru untuk memperdalam sejarah pendirian NU.

“Kami tadi juga mendatangi kampung Peneleh, Surabaya, tempat tokoh-tokoh NU berjuang. Di sini (Museum NU red.) anak-anak kami bisa belajar sekaligus mengenali wajah para tokoh NU. Anak-anak juga bisa membaca dokumen peninggalan para kiai,” demikian disampaikan Ibu Guru Nur Sufro Kamalia kepada Muhammad Azharuddin, penjaga Museum NU, Senin (25/5/26).

Tampak puluhan murid SDNU Kota Pasuruan, antusiasme mencermati sejumlah artefak NU. Mereka juga menyisir satu persatu dokumen yang berada di dua lantai Gedung Museum NU. Tak ketinggalan, mereka menyaksikan film dokumenter yang disiapkan petugas Museum NU. “Luar biasa anak-anak kita! Anak-anak SDNU Kota Pasuruan begitu antusias mencermati setiap sudut artefak yang ada,” jelas Azhar, panggilan akrab Muhammad Azharuddin.

Menurut Azhar, ke depan, Museum NU harus memiliki ‘oleh-oleh’ yang bisa dipelajari anak-anak di sekolah. Buku ajar yang telah diselesaikan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Jatim, sangat tepat untuk memperkaya pengetahuan anak didik kita.

“Maka, kunjungan anak-anak ini menjadi sangat penting. Setidaknya, untuk menanamkan sejak dini Aswaja di benak mereka. Bagaimana para kiai memelihara toleransi beragama, memperkuat kebangsaan serta menanamkan Islam rahmatan lil alamin,” tegas mantan Kepala Sekolah SMP, SMA Pesantren Modern Hasan Munahir, Trenggalek, Jawa Timur ini.

Gedung Museum NU, jelas mahasiswa Pascasarjana UNESA ini, adalah salah satu dari 4 legacy bangunan yang diamanatkan almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke Cak Anam (Drs H Choirul Anam red.). Pertama, berupa Graha Astranawa. Kedua, Gedung Museum NU. Ketiga, Guest House Kiai dan keempat adalah bangunan Menara Rukyah (rukyatul hilal).

“Ketiga gedung sudah rampung. Semua sudah terbangun apik. InsyaAllah bermanfaat untuk umat Islam. Hanya yang keempat (menara rukyah) belum terlaksana. Gedung-gedung ini adalah amanah Gus Dur kepada Cak Anam, diresmikan Mbah Sahal Mahfudz (Rais Aam PBNU) kala itu,” demikian Azhar.

Hal yang sama disampaikan Muhammad Faris Habiburrahman, yang juga petugas Museum NU. Menurut alumni Universitas Al-Azhar Kairo ini, Museum NU menjadi pusat kajian dalam “memelihara nilai-nilai lama yang baik, dan menerima nilai baru yang lebih baik (al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah)“.

Lebih dari itu, juga memberikan gambaran betapa tingginya karya kebudayaan generasi masa lalu sekaligus memberi energi kreatif bagi generasi sesudahnya. Kehadiran Museum NU juga dijauhkan dari proses mistifikasi, tetapi harus menjadi oase bagi proses-proses pencerahan masyarakat nahdliyin dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Lantai dasar (Museum NU) berisi barang peninggalan para ulama baik yang bersifat kejuangan maupun karya ilmiah (kitab-kitab kuno) dan, tentu saja, dokumen sejarah NU sejak berdiri hingga sekarang. Lantai dua berisi foto para tokoh berikut peristiwanya serta kiprah Banom NU dari masa ke masa. “Sedangkan lantai tiga berupa perpustakaan lengkap sekaligus ber-fungsi sebagai meeting room berkapasitas 150 orang,” jelas mahasiswa Pascasarjana UIN SA Surabaya ini.

Peresmian pembukaan Museum NU (25 November 2004), katanya, dilakukan oleh Gus Dur sendiri sekaligus mengurai naskah ilmiah bertajuk “Hubungan NU dan Kebangsaan”. Sedangkan KH Yusuf Hasyim (waktu itu) menyambut atas nama pinisepuh NU. Dan Rais Aam PBNU, KH Sahal Mahfudz, (kala itu) membubuhkan tandatangan di atas prasasti tanda berdirinya Museum NU.

Isi Museum NU berbagai macam. Diantaranya peran global kiai-kiai NU di dua tanah suci, haramain (Makkah–Madinah) Arab Saudi. Dulu, haramian lebih banyak dikuasi paham Wahabi. Kemudian kiai-kiai NU mengirim utusan (dikenal dengan sebutan Komite Hijaz) ke Arab Saudi. Meminta agar diperbolehkan amalan keagamaan di Makkah-Madinah menggunakan empat mazhab.

“Alhamdulillah, Raja Saud (kala itu) memperbolehkan. Sampai sekarang di tanah suci haramain berlaku untuk semua mazhab. Ada surat dari Raja Saud, dan itu abadikan sampai sekarang oleh Museum NU,” pungkasnya. (net)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry