
JOMBANG | duta.co — Kepulangan pekerja migran Indonesia (PMI) ke daerah asal tidak harus menjadi akhir dari perjalanan ekonomi. Justru, masa purna migrasi dapat menjadi momentum untuk membangun usaha produktif dan menciptakan kemandirian ekonomi di tanah air.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Pameran Produk, Bazar, Penganugerahan Penghargaan Kelompok Usaha Purna Pekerja Migran, dan Talkshow Reintegrasi Ekonomi Produktif yang digelar di Pondok Pesantren Al-Muhajirin 3 Bahrul Ulum, Jombang, Kamis (27/8/2026).
Kolaborasi Lakpesdam PBNU dan GIZ, dengan dukungan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI).
Sejumlah tokoh dan perwakilan lembaga turut memberikan sambutan, di antaranya Sekretaris Lakpesdam PBNU Ufi Ulfiah, M.P.P, Implementation Manager DV GIZ Makhdonal Anwar, Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla, serta Direktur Kewirausahaan dan Pengembangan Usaha Produktif KP2MI Nurhayati, S.Pd., M.Si.
” Pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pemberdayaan dan kemandirian ekonomi purna pekerja migran.” kata Gus Latif panitia pelaksana dalam seminar tersebut untuk memeriahkan muktamar NU ke 35
52 Desa Jadi Desa Migran Emas
Memasuki agenda utama, panitia menyerahkan plakat penghargaan secara simbolis kepada perwakilan 52 desa dampingan GIZ dan Lakpesdam PBNU yang ditetapkan sebagai Desa Migran Emas.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi di tingkat desa agar pengalaman dan modal yang diperoleh pekerja migran selama bekerja di luar negeri dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif setelah kembali ke daerah asal.
“Tak hanya desa, apresiasi juga diberikan kepada 10 kelompok usaha purna pekerja migran terbaik,” bebernya.
Penilaian dilakukan, katanya. Berdasarkan sejumlah aspek, antara lain keberlanjutan usaha, inovasi produk, pemberdayaan masyarakat, serta kemampuan membangun kolaborasi di tingkat lokal.
Penghargaan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi bentuk apresiasi, tetapi juga pemantik bagi kelompok usaha lainnya untuk terus berkembang dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Produk Purna PMI Dipamerkan
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan talkshow bertema “Reintegrasi Ekonomi Produktif”. Forum ini mempertemukan berbagai unsur, mulai dari instansi pemerintah, organisasi masyarakat, lembaga filantropi hingga pelaku usaha purna PMI yang telah berhasil mengembangkan usaha.
Usai sesi ISHOMA, peserta dan tamu undangan diajak mengunjungi booth pameran dan bazar produk.
Beragam produk unggulan dipamerkan oleh purna PMI dari 10 kabupaten dampingan, mulai dari olahan pangan, hasil pertanian, kerajinan tangan hingga produk fesyen.
Pameran tersebut sekaligus menjadi ruang bagi para pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya, memperluas jejaring pemasaran, dan membuka peluang kolaborasi baru.
“Kepulangan menjadi awal untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri melalui usaha produktif di negeri sendiri.” pungkasnya (din)





































