Dr Moh Mukhojin, Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Bismar Al Mustaqim Surabaya, Dosen Agama Islam UNTAG Surabaya. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co –  Idul Adha adalah moment penting bagi umat Islam untuk bercermin kepada Ibrahim alaihissalam. Ada 5 pelajaran penting dari Nabiyullah Ibrahim yang patut direnungkan dan diikuti bersama.

“Hari ini, misalnya, kita harus bisa memetik pelajaran dari prosesi haji. Di mana, faktanya, kita bisa bersatu padu, saling menghargai, saling menyangi. Dan tidak ‘memproduksi’ dosa,” demikian  Dr Moh Mukhojin, Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Bismar Al Mustaqim Surabaya, Dosen Agama Islam UNTAG Surabaya kepada duta.co, Ahad (11/8/2019), sesaat sebelum khotbah Idul Adha di Lapangan SMAK Negeri 6 Surabaya.

Menurut Mukhojin, di balik ibadah qurban dan haji ada sosok yang harus kita teladani yaitu sosok Nabi Ibrahim alaihissalam. Perintah Allah swt jadikan ini sebagai suri tauladan. “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang orang yang bersama dengan dia. Ini yang termaktub dalam Alquran, Almumtahanah ayat 4,” tegasnya.

Jika dirinci, tambahnya, ada lima cermin besar. Pertama, ibadah haji di tanah suci memberikan pelajaran kepada kita pada persatuan ummat. “Di Padang Mashsyar ini bukan sekadar kumpul, tapi bersatu dan berkumpul untuk beribadah kepada Allah swt. Karena itu, kitapun harus bisa bersatu. Persatuan kita adalah untuk mentaati perintah Allah swt, berkumpulnya kita untuk menjalin kerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan, bukan untuk dosa atau permusuhan,” tegasnya.

Hari ini, bertepatan dengan peringatan HUT RI ke-74. “Bung Karno presiden pertama kita pernah berkata: Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan saudara sendiri. Ini mengingatkan kita betapa serius masalah persatuan,” tegasnya.

Kedua, Nabi Ibrahim dan keluarganya bergerak untuk kebaikan. Nabi Ibrahim sudah menyontohkan bahwa beliau bergerak dalam dakwah dan menggugah berpikir orang dengan menghancurkan berhala, beliau juga bergerak ke Makkah untuk menempatkan isteri dan anaknya di sana atas perintah Allah swt, meski sebenarnya berat.

“Nah, setelah berhaji mestinya menjadi tokoh-tokoh pergerakan, pelopor kebaikan dan persatuan, bukan pelopor dalam kemaksiatan dan perpecahan. Begitu juga dengan kita juga harus bergerak dalam kebaikan. Bergerak dalam dakwah, bergerak untuk shalat berjamaah di masjid, bergerak untuk belajar dan mengajar ilmu, bergerak untuk mencari rizki yang halal dan bergerak untuk memperbaiki keadaan. Termasuk para civitas SMKN 6 Surabaya ini juga harus bergerak, apalagi bergerak dalam menuntut ilmu ini sangat banyak pahalanya,

Ketiga, yang merupakan pelajaran dari Nabi Ibrahim As adalah kita harus berhati hati dalam berucap atau berkata kata, Dalam kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa konon, Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak.

Jadi Bahan Ujian

Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner. Ketika pada suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang “milik siapa ternak sebanyak ini?” maka dijawabnya: “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku, niscaya akan aku serahkan juga.”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji Iman dan Taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun.

Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa ini dimulai dari kata kata nabi Ibrahim sendiri yang akan menyembelih ismail putranya, dan Allah menagih pekataan itu dengan kenyataan.

“Oleh karena itu kita harus menjaga kata kata kita, menjaga fikiran kita, jangan sampai terbesit kata atau fikiran yang negatif atau menyakitkaan. Menurut penelitian akal kita berfikir 60.000 fikiran setiap hari, fikiran ada yang positif dan negatif, setiap fikiran adalah doa, dan doa pasti dikabulkan oleh Allah swt,” lanjutnya.

Implementasi Iman

Keempat, yang merupakan pelajaran Ibadah qurban dari sosok Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Pada mulanya Nabi Ibrahim mau menjalankan perintah Allah yang sangat berat yaitu menyembelih Anak kesayanganya sendiri, namun karena ketaatan Nabi Ibrahim Alaihisalam itulah, Allah pun tidak rela kekasihnya ibrahim menyembelih putra kesayanganya.

Kelima, adalah jenis qurban yang disembelih adalah bahimah atau binatang ternak, ini artinya dengan disembelihnya hayawan ternak, kita buang kecongkaan dan kesombongan kita, hawa nafsu atau sifat-sifat kehewanan kita, seperti rakus, bakhil, malas, dan semaunya sendiri, harus kita potong. “Jangan dibiarkan tumbuh subur dalam hati kita,” tegasnya.

Maka, lanjut Mukhojin, Imam Ghozali mengatakan Al Insanu hayawanunatiq (manusia adalah hewan yang bisa berbicara), secara biologis manusia dan hewan sama sama mempunyai panca indra seperti pengliatan, pendengaran dan hati, sehingga manusia berpotensi mempunyai nafsu seperti hewan ternak, namun jika nafsu hayawan ini dipotong dihilangkan dan diganti dengan nafsu ketaatan, maka manusia akan menjadi insan kamil , yaitu manusia yang sempurna. Manusia yang sempurna adalah manusia yang mengimplementasikan Iman, Islam dan Ihsan, manusia yag bisa menggabungkan kecerdasan Intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. (*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.