
SURABAYA | duta.co – The 4th International Conference on Applied Sciences, Education, and Technology (iConASET) membawa banyak manfaat bagi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).
Di ajang yang bertema Entering Society 5.0: Adaptation and Enhancement itu Unusa mendapatkan ide untuk berkarya terutama terkait masalah air bersih.
Dalam ajang itu menghadirkan pembicara dari beberapa negara baik secara offline maupun online. Yakni Prof Shane Snyder (Georgia Institute of Technology, USA), Prof Chiou-Feng Lin(Taipei Medical University, Taiwan), Dr Danne Joane (University of the Philippines Visayas)
dan Prof Eva Leuchman (University of Economics, Slovakia).
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unusa, Achmad Syafiuddin, dalam kesempatan itu menyampaikan tentang teknologi penjernih air yang dibuat Unusa.
Disampaikan Syafi bahwa teknologi itu masih sebatas menjernihkan air payau dan belum bisa untuk air laut. “Air laut banyak kandungan garam jadi teknologinya harus lebih tinggi lagi,” katanya.
Namun Prof Shane Snyder mengatakan untuk mengolah air laut biayanya sangatlah mahal. Kalaupun memang harus mengolahnya, dibutuhkan inovasi dan teknologi lebih lagi. “Kalau tidak, air laut dimasukkan ke tanah untuk mengurangi kandungan garam, baru bisa difilter dan diolah jadi air bersih,” tukasnya.
Namun, Prof Snyder juga memberikan alternatif untuk mengolah air yang sudah dipakai untuk bisa kembali menjadi air bersih dan bisa digunakan. “Itu jauh lebih murah dan mudah,” ungkapnya.
Dengan ide dan inisiatif dari Prof Snyder itu, Unusa akan mencoba untuk melakukan uji coba keduanya. Baik itu air laut dan air bekas dipakai. “Tapi kalau melihat dari itung-itungannya, kalau air laut itu biayanya jauh lebih mahal,” ungkapnya.
Pertemuan tahunan ini memang mengangkat tema air. Karena Unusa memang fokus pada teknologi air bersih di pesantren. “Dan profesor dari Amerika itu juga memiliki banyak penghargaan khususnya bidang air di negara berkembang,” tutur Syafi.
Selain itu, ajang tahunan ini juga bermanfaat untuk kolaborasi riset. Karena dari pembicara itu semuanya memiliki riset terindeks internasional. “Inilah untungnya kolaborasi dengan akademik dari luar. Mereka semua adalah orang-orang yang memiliki riset terakreditasi internasional,” ungkapnya. lis








































