dr Ani Hasibuan
JAKARTA | duta.co  – Pemilu 2019 menyisakan  duka “mengerikan”. Betapa tidak, hingga sekarang  ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) tewas dan masih menyisakan misteri.  Seorang dokter syaraf bernama dr Ani Hasibuan pun turun tangan setelah KPU, Bawaslu, dan pemerintah menganggap kematian mereka “wajar” karena kelelahan. Ani pun  melakukan penyelidikan untuk mengungkap misteri tersebut.
Setelah menemukan data sementara atas kematian “pahlawan pemilu” itu, Ani lalu menemui Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah untuk mendesak agar penyebab meninggalnya ratusan petugas KPPS  ditelusuri hingga tuntas. Hingga Selasa (7/5/2019) lalu, KPU menyatakan ada 456 anggota KPPS meninggal dunia dan 4.310 orang lain sakit.
“Saya ini dokter. Saya independen. Saya sendirian saja (melakukan penelusuran). Nggak ada yang nyuruh,” kata dr Ani Hasibuan saat dihubungi, Rabu (8/5/2019).
Sebagai tenaga medis, Ani awalnya heran dengan banyaknya petugas KPPS meninggal usai Pemilu 2019 hingga jumlahnya mencapai ratusan. Menurutnya, peristiwa itu bisa dianggap masuk akal apabila jumlah petugas KPPS yang meninggal 5-10 orang dan sudah lanjut usia. Tapi, ternyata ada pula petugas KPPS meninggal di usia muda.
“Jadi saya ingin tahu ada apa sesungguhnya? Kok bisa ada kematian yang banyak dalam waktu bersamaan,” ujarnya.
Karena punya banyak teman di Yogyakarta, Ani mendapat bantuan untuk bertemu dengan keluarga petugas KPPS yang meninggal. Dia mengaku menemui keluarga 3 korban dan mendapatkan rincian cerita tentang bagaimana petugas KPPS meninggal dunia.
“Itu temuan yang harus kita cari, apa sih penyebab kematiannya? Nggak bisa dengan kata-kata kelelahan. Karena, menurut saya, secara fisiologis tubuh manusia, kelelahan itu jarang menimbulkan kematian, kecuali orangnya punya penyakit duluan,” ungkap dr Ani Hasibuan.
“Saya ingin itu diperiksa, bukan dengan gampangnya ketua KPU bilang meninggal karena kelelahan. Masa iya 554 orang kelelahan semua?” sambungnya.
Ani ingin penyebab meninggalnya KPPS ini diperiksa oleh sebab itu dia datang ke DPR dan bertemu dengan Fahri Hamzah. “Saya minta di DPR bagaimana caranya ini didesak untuk diperiksa. Tidak ada unsur unsur lain,” pungkasnya.
Upaya Ani langsung mendapat serangan via media sosial. Di media sosial, beredar video Ani pernah berpose 2 jari.  Video Ani berpose 2 jari sambil mengatakan ‘ganti presiden’ itu dikaitkan dengan BPN Prabowo-Sandi.
Ani mengatakan pose dua jari itu sah-sah saja karena dia punya pilihan. Tapi, dia menegaskan bahwa penelusuran penyebab meninggalnya petugas KPPS yang dia lakukan didasari alasan kemanusiaan.
“Boleh-boleh saja dalam masa kampanye (pose 2 jari). Saya punya pilihan, apa hubungannya? Ini masalah kemanusiaan. Di dalam bilik suara saya punya pilihan tapi itu tidak ada kaitannya dengan ini,” kata dr Ani Hasibuan.
Ani mengaku melakukan penelusuran ke Yogyakarta atas keinginannya sendiri tanpa disuruh orang lain. Menurutnya, tim 02 sempat juga mengajaknya bergabung. Apa jawaban Ani?
“Demi Allah saya bekerja sendiri. Barusan tim 02 telepon saya, ajak bergabung dengan mereka. Saya katakan tidak,” ujarnya.
Saat masa kampanye, Ani Hasibuan mengaku tidak tergabung dengan BPN Prabowo-Sandi. Kalaupun dia mendukung salah satu calon, baginya itu wajar saja.
“Nggak, saya nggak tergabung dengan manapun. Saya terikat dengan institusi saya bekerja, nggak boleh saya gabung gabung begitu,” ucap Ani tanpa menyebutkan tempat kerjanya. “Tapi bahwa saya punya kecenderungan memilih salah satu calon, masa nggak boleh,” katanya.
Calon presiden Prabowo Subianto juga ingin agar peristiwa meninggalnya ratusan anggota Kelompok Peyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) diusut tuntas. Dia menyarankan visum terhadap jasad anggota KPPS.
“Kami berbela sungkawa dan kami mohon pihak yang berwajib untuk menyelesaikan dan mengusut hal ini sehingga jelas bagi semua unsur apa yang terjadi sebenarnya,” kata Prabowo di kediamannya, Jl Kertanegara nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (8/5/2019).
Dia ingin aparat penegak hukum menyelidiki kematian ratusan anggota KPPS ini. Caranya dengan pemeriksaan medik terhadap jenazah yang meninggal dunia. “Perlu ada, kami rasa suatu visum atau pemeriksaan medis KPPS petugas-petugas tersebut yang meninggal,” kata Prabowo.
Hingga Selasa (7/5) kemarin, KPU menyatakan ada 456 anggota KPPS yang meninggal dunia dan 4.310 orang sakit. Prabowo mendengar sudah ada 500 lebih anggota KPPS yang meninggal dunia. Ini membuatnya prihatin dan turut berduka.
“Atas nama seluruh Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Koalisi Indonesia Adil dan Makmur, kami ingin mengucapkan bela sungkawa yang sebesar-besarnya atas meninggalnya, yang dilaporkan lebih dari 500 petugas Pemilu dari berbagai tingkatan, yang telah meninggal dalam proses Pemilu ini. Hal ini belum pernah terjadi dalam sejarah Pemilu Republik Indonesia,” kata Prabowo. (det/ara)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.