Tampak dr Zulkifli S Ekomei sedang berdialog dengan penulis. (FT/IST)

“Jadi, jika diibaratkan permainan catur, JKW itu bukanlah pion, bukan pula (peran) bidak-bidak lain dalam catur, JKW justru papan catur itu sendiri. Ya. Papan catur.”

Oleh : NN (Dikutip seutuhnya oleh : Zulkifli S Ekomei)

BILA era Bung Karno disebut Junta Revolusioner, era Pak Harto ada Junta Militer, era SBY dianggap sebagai Junta Demokrasi, sementara zaman Pak Habibie, Gus Dur dan Bu Mega hanya era transisi belaka. Lantaran tidak utuh menjabat. Nah, cap atau stigma kepada suatu rezim bahwa ia junta ini, junta itu — biasanya diberikan usai mereka tidak lagi berkuasa alias lengser.

Yang menarik, era JKW — kendati ia belum lengser — sudah disematkan selaku Junta Intelijen. Kenapa? Nanti kita ulas. Jadi, jika diibaratkan permainan catur, JKW itu bukanlah pion, bukan pula (peran) bidak-bidak lain dalam catur, JKW justru papan catur itu sendiri. Ya. Papan catur.

JKW hanyalah medan laga alias kurusetra bagi para elit (politik dan ekonomi) bercengkerama di ladang NKRI. JKW bukan pemilik ladang, apalagi penggarap. Bukan. Ia pengawas yang sangat kolaboratif kepada siapa saja terutama para penggarap ladang. Entah sekedar kerja sama, sewa tanah, menebar rente, dst. Di era Junta Intelijen, kerap kali para penggarap saling beradu kuat (power) secara silent antara satu dan lainnya. Mungkin beradu power politik, ekonomi, bahkan adu networking dalam rangka memperebutkan ladang-ladang garapan.

Kredo dalam filsafat intelijen menjelaskan, bahwa apa yang tidak tampak belum tentu tidak ada. Dan apa yang terlihat belum tentu seperti itu. Ia datang dan pergi. Bahkan isu-isu yang dulu sempat viral, namun ditolak publik dan lenyap — pada era Junta Intelijen bisa timbul kembali dalam ujud lain. Conditioning factor.  Mirip air bah. Publik pun bisa dibuat luluh lantak ditelan isu dimaksud.

Junta Intelijen pada satu sisi, kerap mengerjakan sesuatu yang tidak direncanakan; sementara di sisi lain, justru merencanakan hal-hal yang tidak dikerjakan. Jangan tertipu oleh isu di atas permukaan. Sebab, kadang hanya cek ombak. Memancing reaksi belaka. Juga, tidak boleh abaikan isu, barangkali merupakan conditioning factor. Mungkin cipta kondisi untuk menggulirkan agenda lanjutan.

Kembali ke junta. Apabila Junta Revolusiner terlihat jelas arus pergerakannya; jika Junta Militer dapat ditebak kemana manuvernya; ketika Junta Demokrasi seperti rumah kaca, terang benderang sejak perencanaan.

Nah, Junta Intelijen ini sulit ditebak, bahkan nyaris tidak terdengar (hidden) agendanya. Sebagaimana diurai sekilas di atas, ia lakukan hal-hal yang tak direncana, dan merencanakan sesuatu yang tidak dikerjakan. Sluman-slumun. Bergerak lincah tanpa hingar-bingar publik.

Dalam politik praktis, isu perpanjangan (tiga tahun) dalam jabatan presiden contohnya, atau penambahan periode masa jabatan, hakikinya hanya cek ombak. Testing the water. Ketika kemarin publik menolak keras, kedua isu itu pun lenyap meski masih tersisa ‘riak’-nya di (NTT) tepian pantai. Tetapi, seperti kredo intelijen — ia bisa muncul dalam bentuk lain. Maka cermati sebuah isu. Jangan abai atas hal-hal yang muncul di permukaan.

Lalu, apa skema besar yang hendak dituju si Junta?

Tak lain, demi ‘membangun kekuasaan’ melalui extended extra time. Perpanjangan waktu secara permanen dalam jangka panjang. Sedangkan strategi dan skenario yang hendak dihampar terbaca sebagai berikut:

Skenario Ke-1, perpanjangan tiga tahun dalam jabatan presiden melalui dekrit atau Tap MPR;

Skenario Ke-2, penambahan tiga periode masa jabatan presiden lewat Amandemen Ke-5 UUD 1945; dan

Skenario Ke-3, menjadi Wapres dalam hajatan pilpres 2024.

Nah, skenario ke-3 ini selain riil isu, juga sebagai test the water. Bagaimana reaksi serta loyalitas publik atas pasangan PS-JKW dalam pilpres 2024 kelak. Hasil survey nanti bisa dijadikan bahan evaluasi untuk langkah kedepan.

Sedangkan skenario ke-1 dan ke-2 adalah core business alias skenario inti dalam rangka membangun kekuasaan dan (nantinya) melalui pintu masuk atau isu kas kosong. APBN super defisit. Makanya beberapa pernyataan para ekonom, elit dan pejabata terkait yang mengarah defisit APBN merupakan upaya cipta kondisi agar merebak permakluman massal bila isu ‘kas kosong’ ditebar di ladang NKRI.

Mengakhiri telaah sederhana ini, bahwa hidden agenda sebuah Junta Intelijen pun bisa dibaca dari skema besar. Jadi, pakem diksinya bukan ‘follow’. Seperti follow the money, misalnya, atau follow the oil dst, atau kemana kepentingan berujung. Bukan seperti itu. Akan tetapi, membaca geliat Junta Intelijen lebih difokuskan pada ‘tetesan skema’ (schematic drip)-nya. Sekali lagi, mengikuti gerak Junta Intelijen jangan sekali-kali gunakan diksi ‘follow’ saat melacak ujung skenario, tetapi gunakan ‘drip’ alias kemana tetesan skema terjatuh.

*End__*

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry