Keterangan foto republika

“Politik kita (hari ini) sudah berhasil menutup rapat pendapat orang lain. Masing-masing merasa benar, tidak menerima perbedaan pendapat. Tidak sama, berarti salah.”

Oleh: Muhtazuddin*

MENJELANG sholat subuh, Senin (3/12/2018) saya buka WA, ada pertanyaan begini: Mengapa tidak ada tokoh-tokoh NU di Reuni Alumni 212 kemarin? Saya tidak berani menjawab, karena bukan tokoh NU. Kalau pun saya sebut sejumlah nama, pasti diremehkan ‘hanya sekelas itu’.

Usai sholat subuh di Masjid Rembang, Jawa Tengah (karena belum sampai rumah), saya langsung googling, apa sih arti ‘tokoh’ itu?  Situs kbbi.web.id yang biasa menjadi jujugan warganet menampilkan kalimat begini: Orang yang terkemuka dan kenamaan (dalam bidang politik, kebudayaan, dan sebagainya).

Jadi? Tokoh NU berarti orang yang terkemuka dan kenamaan di organisasi Nahdlatul Ulama. Karena di organisasi NU itu ada tingkatan, maka, bisa jadi, tokoh nasional ada di PBNU, tokoh regional ada PWNU atau PCNU, tokoh lokalnya MWCNU, ranting NU dan anak ranting NU. Setuju atau tidak, terserah.

Lalu mengapa tidak ada tokoh NU di reuni alumni 212? Ini pertanyaan menarik dari kacamata saya sebagai wartawan. Pertama, kalau yang bertanya tokoh itu ‘orang besar’, maka, definisi tokoh tersebut harus sebesar yang bersangkutan. Kalau yang ditanya ‘kaliber’ PBNU, jelas, reuni alumni 212 tidak ada tokoh NU-nya. Tidak ada Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siroj, Sekjend PBNU Dr (Hc) KH Helmy Faishal Zaini, ST, MSi, Mustasyar PBNU Prof Dr KH Ma’ruf Amin.

Tapi, sekedar tahu. Sebelum sholat tahajud berjamaah, saya mendengar sendiri sejumlah nama dipanggil panitia. Yang saya tahu, mereka adalah tokoh-tokoh NU di daerahnya (lokalan). Dari Jombang, Surabaya, Jember, Banyuwangi, Situbondo, Rembang, Garut, dll. Banyak sekali.

Sebagian nama, saya tahu, seperti KH Imron Rosyadi (tokoh NU Jombang, versi saya), H Agus Sholachul A’am Wahib (cucu pendiri NU almaghfurlah KH Wahab Chasbullah), Gus Irfan Yusuf Hasyim (cucu pendiri NU almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari). Khusus di alenia ini, saya tidak berani menyebut mereka bukan tokoh NU.

Kedua, kalau pertanyaan ‘tokoh NU’ itu bermuatan politik, mau dijawab dengan cara apa pun, tidak akan ketemu, tak akan memuaskan. Karena politik kita (hari ini) sudah berhasil menutup rapat pendapat orang lain. Masing-masing merasa benar, tidak menerima perbedaan pendapat. Tidak sama, berarti salah. Cukup mengatakan: Hanya sekelas itu? Astaghfirullah!

Ketiga, Reuni Alumni 212 tidak mewakili Ormas Islam, tetapi mewakili umat Islam. Jangan heran, kalau kemudian tidak ada bendera ormas Islam terbesar di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah, begitu juga bendera Al Irsyad Al Islamiyyah, Al Ittihadiyah, Al Washliyah. Karena itu, PBNU tidak perlu sibuk mengimbau agar nahdliyin tidak ikut serta. Tidak perlu merasa khawatir, sebagaimana kekhawatiran para politisi. Tidak perlu berdoa buruk, hanya karena beda pilihan politiknya.

Sebagai nahdliyin yang sedang melakukan kegiatan jurnalistik, saya benar-benar terharu. Ikut menangis menyaksikan tetesan air mata jamaah di tengah ‘desingan’ takbir Allahu akbar. Maaf, baru kali saya melihat jutaan umat Islam menangis, berdoa untuk Indonesia agar diberikan pemimpin yang adil dan benar-benar melindungi rakyatnya.  Benar dan tidak, wallahu’alam.

Politik? Apa yang salah dengan politik. Sepanjang menjadi media (ikhtiar) memilih pemimpin yang baik dan benar, sah-sah saja. Apa salahnya? Bahwa kemudian kita berbeda pilihan, itu soal lain. Karena, sesungguhnya, bukan perbedaan yang dinilai Allah swt. tetapi niat dan semangat kita yang diuji dan dibiji Allah swt. Persoalan siapa yang terpilih, itu menjadi domain Yang Maha Menentukan.

Jarum jam sudah menujuk angka 06.00, ‘lonceng perut’ sudah berbunyi, tanda makan pagi. Tiba-tiba seorang mahasiswa menarik tangan saya, berbisik: “Istighotsah hari santri juga bisa dipakai intrik politik. Yang diundang hanya Jokowi dan Kiai Ma’ruf, masak lupa,” katanya lirih. Waallahu’alam.

*Tuban, Senin 3/12/2018, Muhtazuddin, wartawan duta.co.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.