GRESIK- Rendemen tebu di  Gresik turun akibat terdampak iklim  basah yang terjadi selama semester II tahun 2016. Akibatnya pendapatan petani dan produktivitas pabrik gula menurun. Rata-rata rendemen tebu di Gresik mencapai 6-7 persen. Padahal saat cuaca bagus, rendemen bisa mencapai 8 persen.

Selain itu, biaya yang dikeluarkan petani juga naik. Jika cuaca normal, biaya tebang hanya sekitar Rp 5.000 per kuintal, namun saat ini naik menjadi Rp 13-15 ribu per kuintal. Ditambah semakin sulitnya proses pengangkutan akibat banyaknya jalan yang rusak karena hujan, membuat biaya angkut juga mahal.

Kepala Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Distanhutbun) Gresik, Agus Djoko Walujo menuturkan, banyak pabrik gula yang mengaku kerepotan akibat iklim basah. Sebab, proses giling menjadi tidak optimal. Dampaknya, kapasitas produksi hanya dimanfaatkan  sekitar 50 persen.

“Luas arel tanaman tebu di wilayah Kabupaten Gresik, tercatat mencapai 2.000 hektare. Lahan seluas itu ditanam petani tradisional. Sedangkan setiap musimnya jumlah panen petani tebu mencapai 60 ton perhektar,” tukasnya dengan serius, kemarin.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perkebunan Kementrian Pertanian (Kementan) RI Ir Bambang , MM mengajak petani perkebunan mempunyai komitmen simbiosis. Pasalnya peran petani, pemerintah dan perusahaan berkomitmen akan menguntungkan. Dengan adanya zonasi yang jelas serta sinergitas tinggi terkait kebutuhan petani bisa dimaksimalkan.

Khusunya, permasalahan klasik terhadap petani tebu adalah rendahnya rendemen atau nilai jual ke perusahaan milik negara, seperti Pabrik Gula (PG) milik Negara. Menurut Bambang, fungsi rendemen terjadi karena beberapa faktor. Seperti mahalnya pendistribusian, dan menurunnya kwalitas hasil petani serta standarisasi dari Industri. Untuk itu, upaya pemerintah saat ini melakukan pembinaan terhadap petani trlah digalakkan diberbagai wilayah.

“Mari kita titik beratkan gula nasional ini juga untuk kesejahteraan petani nya atau masyarakat juga. Produksi petani tebu juga tersalur dengan efesien entah ke perusahaan Negara atau swasta. Pemerintah sendiri jangan dikatakan liberal, sebab pemerintah akan melawan jika perusahaan swasta yang tidak berpijak kepada masyarakat (petani),” terang Bambang dalam  Seminar Nasional Solusi Manageman Gula Berbasis Tebu di Universitas Muhammadiyah  Gresik. gus/pii

Tinggalkan Balasan