
SURABAYA | duta.co – Surabaya Tepuk tangan panjang menggema di Gedung Cak Durasim saat tirai pertunjukan The Lion King persembahan Premiere School of Ballet resmi ditutup. Perjalanan menuju pertunjukan perlu beberapa bulan mempersiapkan cerita, memilih pemain, menentukan gerakan personal dan selanjutnya dikombinasikan dengan gerakan beberapa pemain menjadi satu kesatuan sesuai cerita.
Sylvi Panggawean, ST , ARAD, Principal & Artistic Director dari Premiere School of Ballet mengungkapkan persiapan sudah dilakukan sejak bulan Februari 2026 dengan segala permasalahannya. Mulai gerakan masing-masing dan selanjutnya disatukan dalam satu scene sesuai tuntutan alur cerita Lion King.
“Tidak mudah dan memang agak susah karena dalam satu scene ada beberapa karakter, kemudian mengajarkan masing-masing gerakan selanjutnya dijadikan dalam satu scene besar. Tantangannya memang disitu dalam pertunjukan The Lion King kali ini,” jelas Sylvi Panggawean kepada media sebelum pementasan di Cak Durasim, Sabtu 1 Agustus 2026.
Sylvi Panggawean menambahkan alasan dipilihnya cerita The Lion King karena belum pernah ditampilkan oleh sanggar ballet, juga memiliki alur cerita yang kuat meski perlu perjuangan guna memberikan gerakan sesuai alur cerita.
“Pagelaran The Lion King tahun ini menjadi bagian dan perayaan 25 tahun Premiere School of Ballet menghadirkan pengalaman menonton yang jauh melampaui pertunjukan ballet pada umumnya. Setelah sebelumnya menjanjikan sebuah produksi bergaya Broadway dengan melibatkan 165 penari mulai usia 3 tahun sampai 40 tahun, Premiere berhasil membuktikannya di atas panggung.”
Selama kurang lebih dua jam, penonton diajak mengikuti perjalanan hidup Simba melalui rangkaian koreografi yang dikemas megah, teatrikal, sekaligus emosional. Bukan sekadar mempertontonkan kemampuan teknik ballet, produksi ini menunjukkan bagaimana sebuah cerita dapat dihidupkan melalui gerak, ekspresi, tata artistik, hingga permainan cahaya yang menyatu menjadi sebuah pertunjukan kolosal.
Yang paling mencuri perhatian adalah konsep visualnya. Alih-alih menggunakan kostum singa yang menyerupai karakter kartun, Premiere memilih pendekatan etnik yang elegan. Sentuhan motif Afrika, siluet kostum, tata rias, hingga permainan properti menghadirkan nuansa yang lebih artistik dan berkelas. Hasilnya, panggung terasa megah dan mengingatkan pada atmosfer pertunjukan musikal Broadway, tanpa kehilangan identitas ballet klasik yang menjadi kekuatan utama Premiere.
Keterlibatan 145 penari dari berbagai kelompok usia juga menjadi nilai lebih yang membuat setiap adegan terasa hidup. Pergantian formasi berlangsung rapi, harmonis, dan mampu memenuhi panggung dengan komposisi yang dinamis. Besarnya jumlah penari justru menjadi kekuatan yang mempertegas skala cerita, bukan sekadar menjadi latar belakang.
Salah satu bagian yang paling menghibur hadir melalui penampilan Little Simba dan Little Nala. Farahdila (13) dan Joanna (10) berhasil membawakan karakter masa kecil Simba dan Nala dengan penuh keceriaan. Gerakan mereka terasa ringan, usil, spontan, dan penuh rasa ingin tahu, sehingga mampu menghadirkan chemistry yang natural sekaligus mengundang senyum penonton.
Nuansa tersebut berubah drastis ketika cerita memasuki adegan kematian Mufasa. Little Simba mampu menyampaikan rasa takut, kehilangan, cemas, hingga rasa bersalah melalui ekspresi dan kualitas geraknya. Intensitas adegan semakin kuat berkat penampilan Scar yang diperankan Michael (24).
Karakter antagonis tersebut tampil meyakinkan sebagai sosok yang manipulatif, dingin, dan mengintimidasi, sehingga konflik utama cerita terasa semakin dramatis.Memasuki babak berikutnya, suasana kembali mencair melalui kemunculan Timon diperankan oleh siswa SMP, Kinan (13) dan Vaniah (14).
Dengan pembawaan yang dan Pumbaa. Menariknya, kedua karakter yang menjadi sumber komedi ini juga lincah, ekspresif, penuh semangat, serta interaksi yang menghibur, keduanya berhasil membawa semangat “Hakuna Matata” ke atas panggung. Energi positif mereka menjadi penyeimbang yang tepat setelah rangkaian adegan emosional sebelumnya.
Ketika Simba dan Nala memasuki fase dewasa, kualitas pertunjukan meningkat dari sisi teknik. Kedua penari utama, Michelle (26) dan Florence (13) menunjukkan penguasaan teknik ballet yang matang, dipadukan dengan kemampuan partnering yang solid. Setiap lift, transisi, hingga pas de deux dilakukan dengan presisi, memperlihatkan kepercayaan antarpasangan sekaligus menjadi salah satu puncak artistik dalam keseluruhan pertunjukan.
Di balik kemegahan visualnya, The Lion King tetap berhasil mempertahankan pesan moral yang menjadi kekuatan utama cerita.
Sylvi Panggawean menegaskan “Pertunjukan ini mengingatkan bahwa seseorang tidak dapat terus-menerus lari dari tanggung jawabnya, sebagaimana Simba akhirnya harus menerima perannya sebagai raja. Kisah ini juga menunjukkan bahwa kebenaran pada akhirnya akan mengalahkan keserakahan dan penindasan, sementara pengkhianatan tidak pernah membawa kebahagiaan. Dukungan keluarga dan sahabat menjadi kekuatan yang membantu seseorang bangkit menghadapi masa sulit, sekaligus mengajarkan pentingnya menerima diri sendiri untuk menjadi pribadi yang seutuhnya.”
Melalui produksi ini, Premiere School of Ballet kembali menunjukkan komitmennya menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya mengedepankan teknik, tetapi juga kualitas penceritaan, kreativitas artistik, dan pengalaman menonton yang berkesan. Bertepatan dengan perayaan 25 tahun perjalanannya, The Lion King menjadi bukti bahwa ballet mampu dikemas secara modern, spektakuler, dan tetap relevan bagi penonton dari berbagai usia. Sebuah pertunjukan yang bukan hanya layak diapresiasi, tetapi juga menjadi salah satu produksi ballet paling berkesan di Surabaya tahun ini. Acara Premiere School of Ballet disupport kodomo, milku, aquviva, japota, myyellowduckling, quickfresh, ban leng minyak gosok dan duta raya Makmur. Imm




































