
SURABAYA | duta.co – Sebanyak 25 siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri Kota Surabaya mengikuti uji publik sekaligus wisuda Program Cepat Baca Kitab Kuning Metode Muyassaroh Angkatan ke-2 Tahun Ajaran 2025–2026. Kegiatan berlangsung di Auditorium MAN Kota Surabaya, Kamis (23/4/2026), dengan dihadiri para orang tua wali siswa.
Program ini menjadi salah satu inovasi pembelajaran keagamaan yang dinilai efektif, karena peserta mampu membaca kitab kuning hanya dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar 15–16 kali pertemuan.
Kepala Kementerian Agama Kota Surabaya, Dr. H. Muhammad Muslim, S.Ag., M.Sy., mengaku puas dengan capaian para siswa yang mengikuti program tersebut.
“Alhamdulillah, saya sebagai Kepala Kemenag Kota Surabaya merasa sangat puas dengan hasil uji publik hari ini. Sebanyak 25 siswa-siswi MAN Kota Surabaya mengikuti program cepat baca kitab kuning metode Muyassaroh dengan kualitas yang sangat baik. Ini bukan hal mudah, karena biasanya di pesantren membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa membaca kitab kuning,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan siswa dalam menguasai kemampuan membaca kitab kuning dalam waktu singkat menjadi bukti efektivitas metode pembelajaran yang diterapkan.
“Saya sampaikan terima kasih kepada Kepala MAN dan tim atas capaian ini. Mudah-mudahan ke depan semakin banyak anak-anak kita yang mampu membaca kitab kuning,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Madrasah Aliyah Negeri Kota Surabaya, Drs. Fathorrahkman, M.Pd., menjelaskan bahwa program cepat baca kitab kuning ini merupakan pelaksanaan angkatan kedua yang dilaksanakan secara intensif selama bulan Ramadan.
“Program ini sebenarnya dilaksanakan selama 15 hari di bulan Ramadan. Namun uji publiknya baru bisa dilaksanakan hari ini karena padatnya kegiatan madrasah,” jelasnya.
Menurutnya, selama proses pembelajaran berlangsung, para siswa menunjukkan antusiasme tinggi. Hasilnya, seluruh peserta mampu menunjukkan kemampuan membaca kitab kuning dengan baik dalam uji publik yang melibatkan penguji dari kalangan kiai Pondok Pesantren Dalwa, unsur Kementerian Agama, Kepala KUA, hingga orang tua siswa.
“Alhamdulillah, hasilnya luar biasa. Anak-anak diuji langsung oleh para pembimbing dan stakeholder terkait, termasuk orang tua yang turut menyaksikan kemampuan putra-putrinya membaca kitab kuning secara langsung,” ungkapnya.
Ke depan, pihak madrasah berencana menambah jumlah peserta program karena tingginya minat siswa serta capaian pembelajaran yang dinilai optimal.
“Dalam satu kelas memang kami batasi maksimal 25 siswa agar hasilnya maksimal. Ke depan kemungkinan akan ditambah menjadi dua hingga tiga kelas,” pungkasnya. (gal)





































