
SURABAYA | duta.co – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terus menggenjot jumlah guru besar. Pada 2026 mendatang minimal 40 guru besar bisa muncul dari kampus di Yanng dulunya bernama IKIP Surabaya itu.
Target jumlah guru besar itu untuk mencapai rasio ideal guru besar di Unesa yakni 10 hingga 15 persen dari total jumlah dosen yang ada.
“Saat ini baru 8,7 persen dari 1.736 dosen yang ada. Masih kurang mencapai jumlah rasio minimal. Karenanya kami genjot di tahun depan,” kata Rektor Unesa, Prof Nurhasan usai pengukuhan 11 guru besar di Graha Sawunggaling, Senin (29/12/2015).
Cak Hasan, panggilan akrab Prof Nurhasan mengatakan Unesa saat ini sudah menyiapkan skema dan kebijakan strategis yang terukur dan berkelanjutan agar target bisa dicapai.
Unesa menyiapkan anggaran khusus sebagai stimulus agar guru besar bisa bertambah. “Kami siapkan Rp 50 miliar untuk program penelitian di 2026,” tambahnya.
Dengan dilantiknya 11 guru besar baru, jumlah guru besar Unesa menjadi 214. Namun yang masih aktif 151 orang. “Tapi kami ini baru rekrutmen dosen muda sebanyak 500 orang. Kalau seandainya tidak ada rekrutmen mungkin rasio ideal bisa dicapai,” tuturnya.
Cak Hasan berharap potensi sumber daya manusia di Unesa ini terus muncul. Unesa terus memberikan pendampingan agar SDM bisa terus berkarya, melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat selain kegiatan akademik dengan mengajar.
Salah satu guru besar yang baru dilantik yakni Prof Dr Trisaksi, MSi menjadi satu dari 11 guru besar yang dilantik di penghujung 2025 ini. Prof Trisakti harus menunggu 35 tahun untuk bisa menjadi guru besar bidang humaniora.
Perempuan 60 tahun itu mengaku tidak mudah menjadi guru besar. “Tidak mudah menembus Scopus. Apalagi bidang saya humaniora. Selalu di-reject. Tapi saya tetap semangat,” katanya.
Namun, hasil tidak akan mengkhianati proses. Penelitian yang bertahun-tahun dilakukannya di kawasan Bromo Tengger Semeru akhirnya diterima Scopus.
“Saya meneliti ritual Karo di kawasan itu. Ternyata banyak sejak nilai budaya yang membuat saya sangat menikmatinya. Sungguh sarat akan makna,” tuturnya.
Dengan gelar barunya ini, Prof Trisakti berharap bisa terus mengembangkan seni budaya di Indonesia. lis





































