Kepala Perwakilan BI Jatim, Difi Ahmad Johansyah (kanan) bersama Wakil Gubernur Jatim, Emil E Dardak (kiri) dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) di Surabaya, Kamis (3/12/2020). DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur memprediksi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada 2021 berkisar di angka 5,3 hingga 6,3 persen. Prediksi ini dengan melihat beberapa indikasi melalui survei yang dilakukan bank sentral tersebut.

Kepala Perwakilan BI Jatim, Difi Ahmad Johansyah menyadari pandemi Covid-19 sudah merontokkan perekonomian nasional. Namun, upaya yang dilakukan pemerintah untuk pemulihan ekonomi nasional sudah berjalan sesuai yang diharapkan.

“Sehingga memang kita prediksi pertumbuhan ekonomi di tahun depan bisa lebih baik,” ujaranya dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) di Surabaya, Kamis (3/12/2020).

Dikatakan Difi, indikasi pertumbuhan ekonomi Jatim membaik karena selama ini Jatim memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi dibandingkan nasional dengan tingkat inflasi yang sangat rendah. “Jadi tidak perlu khawatir, Jatim punya dua indikasi itu,” tandasnya.

Dalam pertemuan yang bertema Bersinergi Membangun Optimisme Pemulihan Ekonomi itu, Difi mengatakan, dari hasil survei Bank Indonesia pada kuartal ketiga ini turut mengkonfirmasi  V-Shaped Recovery Perekonomian Jawa Timur.

Survei Kondisi Dunia Usaha (SKDU) dan Survei Penjualan Eceran (SPE) yang  dilaksanakan Bank Indonesia  juga mengindikasikan perbaikan aktivitas usaha dan penguatan penjualan eceran Jawa Timur.

Hal ini juga tercermin dari membaiknya kinerja lapangan usaha utama Jawa Timur seperti lndustri Pengolahan, Perdagangan dan Konstruk si.  Selain itu, lapangan usaha akomodasi dan makanan minuman serta transportasi yang sebelumnya terkontraksi sangat dalam juga sudah menunjukkan perbaikan dan pemulihan.

“Sektor Pariwisata  juga sudah menunjukkan perbaikan namun masih terkontraksi sejalan dengan masih terbatasnya aktivitas masyarakat untuk melakukan kegiatan wisata,” jelasnya.

Ia mengatakan, stabilnya ekonomi Jatim terlihat dari sisi mulainya beberapa masyarakat membuka usahanya dengan menerapkan protokol kesehatan, sehingga yang pada awal pandemi terkontraksi -5 persen, kini sudah mulai menurun hingga -3 persen.

“Kami proyeksikan hingga 0 persen dan ini sudah sangat bagus karena adanya pertumbuhan setiap bulannya,” kata Difi.

Sementara terkait dorongan demand, Difi menjelaskan, BI Jatim akan terus mendorong dari sisi konsumsi masyarakat dan belanja masyarakat, serta perdagangan antardaerah. Selain itu, ditambah beberapa kebijakan seperti suku bunga rendah, nilai rupiah stabil, hingga kondisi likuiditas, termasuk kredit.

“InsyaAllah, asumsi kami apabila vaksi sudah dijalankan, ekonomi dunia pulih, dan kepercayaan investor akan kembali ada. Harapan saya hanya tinggal menunggu waktu saja,” kata Difi. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry